4 Kesalahan Umum Penulisan Karya Ilmiah dan Cara Penulisannya yang Benar

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 27 Mei 2021 20:00 WIB
Perpustakaan kini tak lagi menjadi tempat yang membosankan. Seperti Perpustakaan Nasional yang digadang-gadang sebagai perpustakaan tertinggi di dunia ini. Intip jeroannya yuk!
Beberapa kesalahan dalam menulis karya ilmiah (Foto Ilustrasi : Agung Pambudhy)
Jakarta - Sudah pernah menyusun karya ilmiah? Setiap mahasiswa perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi akademik, didorong untuk menyusun karya ilmiah akademik.

Rupanya, meskipun praktik penyusunan tulisan ilmiah ini sudah lama dilakukan, masih banyak kesalahan umum penulisan karya ilmiah yang dilakukan mahasiswa.

Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjajaran (Unpad) Lina Meilinawati menuturkan, ada sejumlah kekeliruan umum mahasiswa saat menyusun karya ilmiah. Kekeliruan ini termasuk aspek teknis maupun nonteknis pembuatan karya ilmiah.

Lina menuturkan, kesalahan penyusunan karya ilmiah ini terjadi baik di laporan tugas akhir, skripsi, tesis, maupun disertasi. Hal ini ia temukan saat melakukan peelitian ke sejumlah karya ilmiah di berbagai fakultas di Unpad, seperti dikutip dari situs resmi Unpad.

Ia menambahkan, kekeliruan ini tidak hanya dilakukan mahasiswa jenjang S1, namun juga mahasiswa Pascasarjana.

Berikut kekeliruan yang umum ditemui di karya ilmiah:

1. Ketidaksesuaian Analisis dengan Identifikasi Masalah

Lina mengatakan, kekeliruan umum yang paling banyak dijumpai adalah identifikasi masalah yang tidak sesuai dengan analisisnya.

Ia mengibaratkan, identifikasi masalah merupakan janji yang dikeluarkan oleh penyusun karya ilmiah. Janji ini harus ditepati melalui analisis yang sesuai. Sayangnya, banyak analisis yang dilakukan tetapi tidak sesuai dengan identifikasi masalah yang diajukan.

"Contohnya, pertanyaan penelitiannya ada dua, tetapi ternyata analisisnya ada tiga, atau malah sebaliknya," kata Lina, seperti dikutip dari situs resmi Unpad, Kamis (27/5/2021).

Ia menambahkan, penyusun juga tidak menerapkan teori saat melakukan penelitian. Hal ini umum terjadi pada skripsi yang ditulis oleh mahasiswa jenjang sarjana.

"Karena mungkin kelemahan mahasiswa S1 itu ada pada teori. Jadi biasanya teorinya tidak dipakai di dalam analisis," kata Lina.

2. Tidak Fokus ke Masalah

Dosen Program Studi Sastra Indonesia Unpad ini memaparkan, mahasiswa sering tidak fokus dalam menjelaskan tema penelitian. Hal ini terlihat dari bab pertama atau pendahuluan yang menjadi mukadimah suatu karya ilmiah.

Lina mengatakan, kadang mahasiswa menulis pendahuluan untuk menjelaskan paparan dengan terlalu luas. Padahal, Lina menganjurkan agar mahasiswa sebaiknya fokus langsung menjelaskan tema penelitian.

"Sebetulnya sekarang menulis itu temanya mau apa, kenapa tidak itu saja yang langsung diangkat dalam tulisan, hingga orang itu tertarik untuk membaca tulisan," kata Lina.

3. Kesalahan Berbahasa

Lina menuturkan, kesalahan berbahasa juga menjadi kekeliruan yang kerap dijumpai pada karya ilmiah. Kekeliruan ini terlihat dari segi penulisan maupun logika berbahasa.

Ia mengatakan, dari segi kesalahan penulisan, rata-rata mahasiswa tidak bisa membedakan antara kalimat tunggal dan majemuk. Salah satu contohnya adalah penggunaan kalimat majemuk yang tidak lengkap.

"Dalam kalimat majemuk ternyata hanya anaknya saja, induk kalimatnya tidak ada," terangnya.

Lina menambahkan, kekeliruan dalam menggunakan tanda baca, kaidah penulisan huruf kapital, hingga pemilihan kata juga banyak dijumpai dalam karya ilmiah. Sementara dari sisi logika berbahasa, kebanyakan karya ilmiah memiliki kelemahan di sisi tersebut.

Ia menggarisbawahi, logika kalimat merupakan hal yang penting, tetapi banyak yang tidak mengindahkan.

Lina mencontohkan, salah satu logika berbahasa yang keliru adalah pemakaian konjungsi atau kata hubung dalam satu kalimat. Ia mengatakan, terkadang ada penulis yang menggunakan dua konjungsi atau lebih dalam satu kalimat.

Padahal, adanya dua konjungsi atau lebih dalam satu kalimat sudah jelas membuat logika kalimat menjadi tidak jelas.

Ia menambahkan, hal menarik yang ia temui dalam penelitiannya adalah kesalahan berbahasa ini justru banyak ditemukan pada tesis dan disertasi.

Lina mengatakan, ada banyak faktor yang memengaruhi kesalahan berbahasa di penulisan tesis dan disertasi. Salah satunya adalah kebiasaan berbahasa.

"Masih banyak yang dibesarkan tidak dengan logika berbahasa yang baik, dan itu tercermin dalam tulisan," ujarnya.

4. Pengutipan

Lina mengatakan, pengutipan menjadi hal penting yang mesti diperhatikan oleh penulis. Kesalahan dalam mengutip bisa berakibat fatal. Ia menambahkan, tuduhan plagiat bisa saja terjadi hanya karena kesalahan mengutip.

Berdasarkan buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan Fakultas Ilmu Budaya Unpad, ada sejumlah aturan pengutipan berdasarkan standar sitasi yang dikeluarkan organisasi APA (American Psychological Association), antara lain:

a. Kutipan langsung yang berupa kata, frasa, klausa, atau kalimat (baik dalam bahasa aslinya, maupun terjemahannya) yang terdiri atas tidak lebih dari tiga baris, dapat dimasukkan ke dalam teks dengan jarak tetap diikuti dengan nama penulis, tahun, dan halaman

(2) Kutipan langsung (bisa dalam bahasa aslinya atau terjemahannya) yang terdiri dari empat baris atau lebih, ditik terpisah dari teks dengan jarak satu spasi dan menjorok masuk lima ketukan dari margin kiri teks, diikuti nama penulis, tahun, dan halaman, dibubuhi tanda kutip dua

3) Kutipan tidak langsung yang menggunakan gagasan atau pemikiran seorang penulis buku, artikel, dsb., walaupun disusun dengan menggunakan kata-kata sendiri, harus mencantumkan namanya. Apabila perlu, dapat pula dicantumkan judul karya tulisnya dan tahun buku atau artikel itu ditulis, sesuai dengan kebiasaan penulis pada tiap-tiap disiplin ilmu. Penulisannya tidak dibubuhi tanda kutip, nama dan tahun.

(4) Kutipan dalam kutipan dilakukan dengan penanda pembubuhan tanda baca "...'....'....".

Gimana detikers, ada kekeliruan penyusunan karya ilmiah yang pernah kamu lakukan? Nah, jangan lupa lagi, ya!



Simak Video "Kesal Tak Dipinjami Korek, Ketua RT di Makassar Aniaya Mahasiswa"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia