Studi di Luar Negeri

Kisah Mahasiswa RI Berkuliah di AS: Tidak Ada Istilah 'Di-ghosting' Dosen

Rahma Indina Harbani - detikEdu
Senin, 24 Mei 2021 10:00 WIB
Ahmad Munjizun
Foto: Ahmad Munjizun
Jakarta - Mahasiswa S3 jurusan Animal Science dari North Carolina State University, Ahmad Munjizun, membagikan pengalaman berkuliah di Amerika Serikat selama kurang lebih 2 tahun. Menurutnya, lingkungan perkuliahan di Amerika Serikat sangat positif dan juga kooperatif bagi kelangsungan pembelajaran di sana.

Jizun, sapaan akrabnya, menceritakan bentuk kooperatif dari dosen-dosen di kampusnya. Hal itu terlihat pada sikap tanggung jawab dosen pada kewajibannya.

"Dosen di sini (Amerika Serikat) itu, kita (mahasiwa) dengan mereka (dosen) kayak benar-benar saling membutuhkan gitu. Memang kita juga harus proaktif, tetapi mereka juga akan sangat membantu," papar Jizun kepada detikEdu dalam Program Lipsus detikcom dengan PPID (PPI Dunia), Kamis (20/5/2021).

Ia juga menambahkan, pernah suatu kali ia membutuhkan bantuan dari dosen untuk mengoreksi hasil pekerjaannya.

Namun, siapa sangka, satu jam berikutnya dosen tersebut sudah memberikan hasil koreksiannya. Hal tersebut bahkan tidak hanya terjadi sekali waktu saja.

"(Waktu itu) saya butuh dikoreksi (hasil pekerjaannya), hari itu juga langsung saya kirim e-mail mohon untuk dikoreksi. Sejam (kemudian), mereka (dosen) mengirimkan hasilnya," ungkap Jizun.

"Mereka (dosen) juga ada keinginan untuk memastikan (hasil kerja mahasiswa). Jadi tidak ada istilah dosen 'killer' (galak), dosen mempersulit, apalagi dosen yang 'ghosting' (menghilang tiba-tiba)," tambahnya lagi sambil tertawa.

Selain dengan sikap kooperatif yang ditunjukkan oleh dosen di kampus Amerika Serikat, teman-teman sekelas pun tidak kalah kooperatif saat menyikapi pertanyaan-pertanyaan sepele yang dilontarkan saat di kelas.

Ahmad MunjizunAhmad Munjizun Foto: Ahmad Munjizun

"Di kelas itu kalau (mahasiswa) memang punya pertanyaan di kepala, pasti ditanyakan. Tidak ada (teman) yang menganggap itu pertanyaan bodoh," beber mahasiswa asal Lombok, Nusa Tenggara Barat tersebut.

Oleh sebab itu, kebebasan bertanya selalu dibuka seluas-luasnya hingga membuat para mahasiswa menjadi aktif bertanya di kelas.

"Bahkan kita (mahasiswa) kalau mau nanya 1 ditambah 3 berapa juga diperbolehkan mungkin," imbuh Jizun.

Selain itu, lingkungan positif yang Jizun terima selama berkuliah di North Carolina State University adalah teman-teman lingkungan kampus yang selalu gigih belajar.

Menurutnya, tidak mengherankan lagi bila kita menemukan kumpulan mahasiswa tengah belajar di perpustakaan.

"Pernah saya masuk library (perpustakaan) misalnya jam 9 dan melihat seorang mahasiswa tengah merangkum. Nanti jam 12 atau jam 1 orangnya masih duduk di situ," kisahnya.

Adapun mengenai tips mengenai persiapan sebelum kuliah di luar negeri, Jizun menekankan untuk tidak menunda dalam mempersiapkan kampus yang hendak kita tuju.

"Kalau berencana jadi mahasiswa rajin di sini (Amerika Serikat), mulailah rajin dari sekarang. Kalau mempersiapkan sesuatu, persiapkanlah in advance (lebih awal)," tuturnya.

Sebab, menurut Jizun, persiapan bahasa asing untuk ke luar negeri saja membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Selain itu, ia juga menegaskan pada detikers yang hendak melanjutkan studi di luar negeri untuk jangan pernah menyerah bahkan sebelum mencoba dan tetap haus akan informasi mengenai kuliah di luar negeri.



Simak Video "Penembakan di Chicago Tewaskan 4 Orang, 4 Lainnya Terluka"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia