Studi di Luar Negeri

Kisah Pelajar RI Tuntut Ilmu di Afsel: Budayanya Beda Banget

Kristina - detikEdu
Kamis, 20 Mei 2021 11:30 WIB
Nurmahmudi Hifzhullah dan teman-temannya di ponpes PPDU Zakariyya, Afsel.
Foto: Nurmahmudi Hifzhullah
Jakarta - Nurmahmudi Hifzhullah, pelajar RI di Afrika Selatan (Afsel) merasakan perbedaan budaya yang cukup kontras dengan Indonesia. Terlebih dalam hal adab dengan gurunya.

Belajar ilmu agama Islam di negara dengan minoritas Muslim memberikan tantangan tersendiri, seperti yang dialami Hifzhul begitu sapaan akrabnya. Ia sempat kaget ketika budaya berjalan menunduk di depan guru justru menjadi sesuatu yang dihindari di sana.

"Kalau di sini itu kita susah lah kaya gitu tu. Soalnya di sini itu yang guru-gurunya itu dari Pakistan, India gitu. Jadi, mereka itu ada yang nggak suka kita jalan nunduk," kata Nifzhul kepada detikEdu dalam Program Lipsus detikcom dengan PPID (PPI Dunia), Rabu (19/5/2021).

Hifzhul merupakan pelajar di Pondok Pesantren Darul Ulom (PPDU) Zakariyya. Pondok ini berlokasikan di Zakariyya park, Lenasia, Gauteng, Johannesburg. Ia mulai menuntut ilmu agama sejak tahun 2019.

Sebagai santri, Hifzhul dan teman-temannya asal Indonesia kerap mencium Al Quran setelah membacanya. Ternyata, semasa di Afsel tidak ada kebiasaan seperti itu.

PPDU Zakariyya memiliki santri dari berbagai negara seperti Arab, London, dan negara-negara Asia seperti Jepang hingga Indonesia. Walaupun kelompok Muslim di sana tergolong minoritas, namun banyak orang asing yang belajar agama Islam di sana.

Hifzhul mengambil kelas untuk belajar hadits hingga ilmu-ilmu fikih 4 mazhab. Kelas itu akan ditempuh selama tujuh tahun. Saat ini ia tengah menempuh tahun ketiganya.

Bahasa yang digunakan dalam proses belajar di Afsel pada tahun pertama dan kedua adalah bahasa Inggris. Baru tahun berikutnya menggunakan bahasa Urdu.

"Kitabnya Arab kan nanti pembahasannya pakai bahasa Urdu. Ya satu kelas itu pembahasannya pakai bahasa Inggris, tapi kelas 3 sampai kelas 7-nya nanti itu Urdu pembahasannya," cerita pelajar asal Banjarmasin ini.

Bahasa Urdu masuk dalam pelajaran yang diambil saat kelas 1 atau di tahun pertama. Sementara saat masuk kelas 2 baru dimulai pelajaran nahwu shorof. Berbeda dengan di Indonesia, yang memulai nahwu shorof pada tahun pertama.

Pelajar yang juga ketua PPI Afsel ini menceritakan butuh waktu untuk beradaptasi di negara dengan budaya kontras dari Indonesia tersebut. Terlebih dalam hal makanan.

"Kalau makan itu awal-awal kemaren itu nggak bisa makan. Muntah lah. Saya paksa, lama-lama bisa," katanya.

Pesantren di Afsel menyediakan masakan dari Pakistan dan India. Hal ini yang membuat Hifzhul harus memaksakan diri untuk bisa makan jatah yang sudah disediakan oleh pesantrennya.



Simak Video "Presiden Afsel Minta Negara Maju Tak Timbun Vaksin"
[Gambas:Video 20detik]
(lus/lus)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia