Demi Masuk Sekolah Kedinasan, Gadis Asal Surabaya Ini Relakan PTN Impiannya

Puti Yasmin - detikEdu
Senin, 03 Mei 2021 16:02 WIB
Perjuangan Masuk Sekolah Kedinasan, Gadis Asal Surabaya Relakan PTN Impian
Foto: Dok Pribadi/Demi Masuk Sekolah Kedinasan, Gadis Asal Surabaya Ini Relakan PTN Impiannya
Jakarta - Sekolah kedinasan menjadi salah satu tujuan favorit para lulusan SMA. Namun, berbeda dengan seorang gadis asal Surabaya bernama Maulidya Fan Ghul Udzan Utami.

Awalnya, wanita yang akrab disapa Maulid ini mengaku tak berkeinginan untuk masuk sekolah kedinasan. Sebab, ia memiliki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) impiannya sejak dulu, yakni Universitas Gadjah Mada jurusan Statistika.

Namun, orang tuanya saat itu mendorong dirinya untuk mendaftarkan diri ke sekolah kedinasan. Ia pun mencoba untuk membahagiakan kedua orang tuanya dengan mendaftar walaupun belum tahu seperti apa sekolah kedinasan.

"Sebenarnya (motivasi utama) membahagiakan orang tua. Karena sama orang tua dari awal buka pendaftaran langsung didorong untuk daftar. Padahal, belum tahu kenapa sih orang tua ingin masuk ke sana," ungkap dia saat berbincang dengan detikEdu, Senin (3/5/2021).

Lebih lanjut, akhirnya dari sekian banyak pilihan ia menjatuhkan hati kepada Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Menurutnya, STIS menjadi satu-satunya sekolah kedinasan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

"Cuma baru dapat perintah buat daftar, dan bingung. Ditawari Mas saya, kalau STIS bagaimana? Saya kan suka matematika dan disuruh milih, lihat yang lain nggak ada (yang sesuai)," sambung dia.

Dari situ, ternyata wanita kelahiran tahun 2002 ini mengisahkan langsung mendaftar ke les sekolah kedinasan online Ecodu.id. Hanya saja, ia tak langsung fokus pada ujian seleksi masuk sekolah kedinasan.

Pasalnya, ia masih berjuang untuk mendapatkan PTN impiannya dengan belajar untuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Pada lima hari sebelum ujian ia baru fokus belajar dengan giat secara online. Bahkan, Maulid sempat nggak tidur untuk dapat mempelajari semua pelajaran yang diujikan dalam SKD.

"Jadi waktu itu fokus ke UTBK saja, dan waktu itu tes SKD (sekolah kedinasan) setelah UTBK ya, berjarak 20 harian. Belajar SKD itu baru H-5 dan itu panik, akhirnya pakai Ecodu.id ada banyak video pembahasan semua aku tonton. Bahkan, diajak puasa Senin Kamis kan dari sahur itu nggak tidur lagi," kisahnya.

Tak menyangka perjuangannya berbuah hasil yang manis. Maulid dinyatakan lulus menjadi salah satu mahasiswa STIS. Ia terpilih di antara 600 orang lainnya dari total pendaftar mencapai 26 ribu kala itu.

Ternyata di balik hasil yang manis tersebut, Maulid juga harus menelan pil pahit. Sebab, ia harus melepas PTN impiannya sejak lama.

"Awal keterima di PTN UGM jurusan Statistik jadi jebret banget karena pilih keinginan aku atau orang tua. Di situ, aku nangis-nangis buat milih, dan pas besok daftar ulang saya masih kekeh nggak ambil (STIS) dan orang tua bilang 'ya sudah' tapi lihatnya nggak tega, jadi akhirnya ambil (sekolah kedinasan)," imbuh Maulid.

Namun, setelah mengikuti keinginan orang tuanya, ia merasakan ada banyak hikmah yang bisa dipetik. Bahkan, saat ini ia merasa nyaman dan bangga bisa menjadi salah satu mahasiswa di STIS.

"Pastinya bangga karena dari perpuluh-puluh orang ada aku, dan bisa nyenengin orang tua, sekolah gratis, nggak perlu ngeluarin uang, dan dapat kuota juga. Di STIS juga teknis belajarnya simple kaya sekolah, ada jadwalnya," ungkapnya.

Ia pun berpesan kepada para adik-adik yang ingin masuk sekolah kedinasan untuk belajar dengan giat. Ia membagikan tips agar terus mempelajari soal dari try out agar dapat berhasil.

"SKD kan ada tiga ya, ujian wawasan kebangsaan, intelegensi, dan karakteristik pribadi. Menurut saya, karakteristik itu hafalin bentuk soalnya, itu yang keluar nggak jauh dari situ, karena soal itu ingin tahu bagaimana cara kita bersikap dengan kondisi seperti apa, Insya Allah," tutupnya.

Simak Video "Modus-modus Pungli di Tanjung Priok Berkedok Jasa Pengamanan"
[Gambas:Video 20detik]
(pay/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia