Puasa di Negeri Rantau

Kisah Mahasiswa RI Puasa di Istanbul: Dikirimi Bumbu Masakan untuk Obati Rindu

Puti Yasmin - detikEdu
Jumat, 23 Apr 2021 12:02 WIB
Kisah Mahasiswa Puasa di Istanbul
Foto: Dok Pribadi/Kisah Mahasiswa RI Puasa di Istanbul: Dikirimi Bumbu Masakan untuk Obati Rindu
Jakarta -

Menjalankan ibadah puasa di negeri orang tentu menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Hal itu yang juga dirasakan oleh mahasiswa Indonesia di Turki bernama Nuke Uswatun Hasanah.

Wanita yang akrab disapa Nuke ini mengatakan, puasa tahun ini adalah kali keduanya di Turki. Walaupun biasa melaksanakan puasa selama 16 jam atau lebih lama daripada di Indonesia, Nuke mengaku tidak masalah.

Hal itu karena cuaca di Turki lebih sejuk dibandingkan di Indonesia. Bahkan, ia mengaku lebih kuat menjalankan ibadah puasa di Turki selama 16 jam dibanding dengan di Indonesia yang hanya sekitar 13 jam.

Kisah Mahasiswa Puasa di IstanbulKisah Mahasiswa Puasa di Istanbul Foto: Dok Pribadi

"Kebetulan tahun kedua di sini 15-16 jam ya puasanya. Memang lebih lama daripada Indonesia tapi sudah terbiasa sih. Cuaca di Turki, udara nggak sepanas Indonesia, to be honest lebih kuat dibanding (puasa) di Indonesia kan panas banget naik kendaraan umum saja rasanya pengen nangis. Kalau di sini kan so far nggak cepet capek," bebernya saat berbincang dengan detikcom dan ditulis Jumat (23/4/2021).

Saat ini, kata wanita kelahiran 6 November 1996 ini, Turki tengah memberlakukan lockdown. Sehingga sejak pukul 5 sore hingga 5 pagi, masyarakat tidak diperbolehkan keluar dari rumah, kecuali berbelanja di supermarket.

Akibatnya, puasa Ramadhan tahun ini ia banyak menghabiskan waktu di asrama bersama teman-temannya dari berbagai negara. Kesempatan itu pun dimanfaatkan dengan bertukar cerita hingga menu makan.

Kegiatan itu juga dirasakan Nuke sangat menghibur dan banyak temannya yang menyukai masakan dari Indonesia. Apalagi, lanjutnya, teman-temannya kadang merasa iri ketika mengetahui waktu puasa di Indonesia hanya sekitar 13 jam atau lebih pendek dibanding dengan negara asalnya.

"Seru sih tukar-tukaran cerita, kan banyak cerita puasanya yang 20 jam. Nah di Indonesia kan cuma 13 jam dan mereka kaget 'kok pendek banget' terus bilang 'yuk ke Indonesia' dan mereka juga ganti-gantian masak nyobain berbagai menu sahur karena kebetulan kampus aku banyak mahasiswa internasional," terangnya sambil tertawa.

"Di sini kita masak soalnya teman-teman internasional aku suka makanan Indonesia. Bahkan, mereka pergi ke restoran Indonesia tanpa aku. Karena makanan Turki kurang gurih kan, dan rata-rata mereka dari Afrika, Arab, Indonesia jadi mereka suka banget makanan Indonesia," sambung Nuke.

Untuk mempersiapkan menjalani puasa selama 16 jam, Nuke juga memiliki tips dan trik tersendiri. Pertama, ia mengusahakan diri untuk mengonsumsi air putih dengan jumlah yang banyak dan mengurangi porsi makan karena jika tidak ia akan lebih mudah merasa lapar.

"Minum yang banyak, kalau makan aku nggak bisa banyak, kalau banyak cepat lapar. Sahurnya porsinya dikit, minum lebih banyak kan dingin (cuaca) jadi harus minum banyak," imbuhnya.

Selain itu, Nuke juga menyiapkan berbagai masakan dari Indonesia dengan dikirimkan bumbu oleh orang tuanya. Dengan begitu, makanan tersebut bisa mengobati sedikit kerinduannya terhadap Indonesia.

"Aku kangen (makanan Indonesia) solusinya kita masak. Di sini banyak yang jual bumbu-bumbu masakan Indonesia. Kalau nggak sebelum puasa aku dikirim bumbu-bumbu dari mama papa, seperti bumbu rendang, opor, soto, saus, cabai bubuk soalnya di sini nggak pedas (makanannya), manis," katanya.

Kisah Mahasiswa Puasa di IstanbulKisah Mahasiswa Puasa di Istanbul Foto: Dok Pribadi

Walaupun merasakan menu makanan dari berbagai negara menyenangkan hatinya, akan tetapi, ia tidak bisa mengobati rasa rindu kepada makanan khas Indonesia, terlebih di bulan puasa ini.

Kata Nuke, menu berbuka puasa di Turki biasanya menggunakan roti, selai, dan keju. Padahal, ia sangat menginginkan gorengan dan es buah sebagai menu berbuka puasa, seperti saat di Indonesia.

"Itu juga aku kangen banget, biasanya di rumah buka pintu sudah ada yang nawarin lontong, sekarang di sini bikin sendiri. Kalau di Turki mereka pakai roti, selai, keju, kita kan (di Indonesia) cari es dong, gorengan," jelas wanita yang tengah menempuh pendidikan S2 di jurusan Radio, Television and Cinema di Universitas Ibn Haldun, Istanbul, Turki ini.

Ngabuburit di depan Masjid Biru Turki. Klik selanjutnya>>>

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia