Bulan merupakan satelit alami yang mengorbit Bumi. Ternyata Bulan tidak sendirian saat mengorbit Bumi, karena ada sekitar 17.000 ton benda lain di jalur yang sama. Benda-benda ini berasal dari sisa aktivitas di ruang angkasa.
Sebagian besar massa tersebut berasal dari satelit atau wahana antariksa, sedangkan sisanya mencakup badan roket serta berbagai serpihan yang dihasilkan dari aktivitas manusia di ruang angkasa.
"Jadi roket yang sudah berhasil meluncurkan dan menempatkan satelit itu tidak langsung jatuh, masih melayang-layang di orbitnya, dan sebagian kecil berupa pecahan atau fragmentation debris, serpihan-serpihan yang merupakan produk dari tabrakan yang sebelum-sebelumnya," kata seorang peneliti ahli madya Pusat Riset Antariksa BRIN, Rhorom Priyatikanto, dikutip dari laman resminya, Jumat (23/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kondisi padatnya orbit ini menandakan bahwa sejumlah roket yang diluncurkan ke luar angkasa bukan hanya sekadar meletakkan satelit di orbit, melainkan juga meninggalkan berbagai sisa peluncuran yang bergerak bersama satelit itu sendiri.
Orbit Bumi yang Semakin Padat Penghuni
Perubahan kondisi lingkungan orbit Bumi ini tidak terlepas dari pesatnya perkembangan teknologi antariksa. Menurut Rhorom, salah satu periode pesatnya perkembangan antariksa terjadi sekitar 2019 hingga 2020 yang tercermin pada banyaknya jumlah mega konstelasi.
Mega konstelasi memungkinkan peluncuran lebih dari dua unit satelit, bahkan jumlah dalam sekali peluncuran dapat mencapai ribuan satelit untuk membentuk suatu jaringan.
Adanya peningkatan aktivitas di ruang angkasa menimbulkan masalah baru, yaitu lintasan orbit Bumi yang semakin padat. Hal ini dapat berpengaruh terhadap satelit aktif apabila pergerakan benda-benda tersebut tidak dipantau dengan saksama.
Bergerak dari aturan utama, bahwa sampah antariksa bergerak mengikuti hukum gravitasi, para peneliti menggunakan informasi posisi dan kecepatan benda-benda tersebut untuk memperkirakan lintasan yang menjadi jalur orbitnya.
Selain memperkirakan lintasan orbitnya, pemantauan sampah antariksa ini juga bisa membantu untuk memahami aktivitas di ruang angkasa, termasuk pergerakan benda-benda di wilayah atas Indonesia.
Kapan Benda-benda Ini Akan Meninggalkan Orbit?
Meski saat ini memadati orbit Bumi, benda-benda yang bisa disebut sebagai sampah antariksa ini suatu saat akan menghilang dari jalur tersebut. Hal ini dipengaruhi oleh gaya yang diberikan oleh atmosfer Bumi di Low Earth Orbit (LEO).
Sampah antariksa yang berada di LEO secara bertahap akan mengalami perlambatan akibat hambatan atmosfer. Akibatnya, sampah antariksa ini bisa jatuh kembali ke Bumi atau terbakar ketika melewati atmosfer.
Salah satu fenomena sampah yang jatuh ke Bumi ini terjadi di wilayah Lampung dan Banten yang sempat menjadi perbincangan beberapa waktu lalu.
Dalam sebuah video terlihat ada sederet objek terang yang melintas di langit. Berdasarkan seorang peneliti di BRIN, Thomas Djamaluddin, objek tersebut merupakan sampah antariksa berupa sisa roket Tiongkok CZ-3B yang memasuki atmosfer Bumi.
Serpihan roket tersebut memasuki atmosfer dengan kecepatan tinggi dan mengalami gesekan dengan udara sehingga terbakar dan tampak terpecah menjadi beberapa bagian. Kemungkinan besar pecahannya jatuh dan tersebar di hutan atau laut.
Menurut Thomas, sampah antariksa tersebut meluncur dari arah India menuju Samudra Hindia di sebelah barat Sumatera.
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.
