Benarkah Bulan Kian Menyusut? Astronom Ungkap Fakta Ini

ADVERTISEMENT

Benarkah Bulan Kian Menyusut? Astronom Ungkap Fakta Ini

Kalila Untsa - detikEdu
Rabu, 21 Okt 2026 08:30 WIB
Ilustrasi Pink Moon
Foto: Uomo Libero/Unsplash/Ilustrasi Bulan.
Jakarta -

Bulan yang mengorbit Bumi ternyata bisa mengalami penyusutan. Hal ini telah terjadi selama ratusan juta tahun dan masih terus terjadi hingga saat ini.

Sebuah studi yang dipublikasikan di Planetary Science Journal pada 14 Oktober 2026 mengungkapkan bahwa Bulan mengalami penyusutan radius sebanyak 42 hingga 46 meter, kira-kira dalam 400 juta tahun terakhir.

Para peneliti dari Smithsonian dan NASA meneliti retakan dan tebing kecil di permukaan Bulan yang terbentuk ketika kerak Bulan terdorong dan menumpuk. Mereka mengumpulkan data menggunakan foto satelit Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lebih dari 10.000 patahan di seluruh Bulan berhasil dipetakan oleh para peneliti dan 5.470 di antaranya memiliki panjang lebih dari satu kilometer. Panjang dan tinggi tiap patahan dapat menunjukkan seberapa jauh kerak bergeser.

Berdasarkan data pergeseran kerak Bulan ini, peneliti menghitung seberapa banyak permukaan Bulan yang memendek. Kemudian, data ini dikonversi dalam perhitungan radius Bulan.

ADVERTISEMENT

"Jumlah patahan muda yang terungkap dalam citra LROC jauh lebih besar daripada yang pernah saya bayangkan. Seiring dengan pendinginan dan penyusutan bagian dalam bulan, diperkirakan pertumbuhan patahan yang ada dan pembentukan patahan baru terus berlanjut hingga saat ini," jelas Thomas Watters, penulis utama studi dari Smithsonian National Air and Space Museum, dikutip dari Popular Science, Selasa (20/10/2026).

Penyusutan Bulan Seperti Anggur Jadi Kismis

Selain patahan, terdapat pula puncak gunung es di Bulan yang juga memengaruhi radius Bulan. Meski penyusutan Bulan didominasi oleh patahan, puncak gunung di dataran gelap ini berkontribusi untuk memperkecil radius sebanyak 6 meter.

Jika dihitung lebih lanjut, radius Bulan menyusut sekitar 6 hingga 11 sentimeter per satu juta tahun. Perubahan sekecil ini tidak terlihat secara kasat mata karena radius Bulan yang jauh lebih besar, yaitu 1.737 kilometer.

Bulan layaknya sebuah anggur yang mengering dan menyusut menjadi kismis. Perbedaannya, kulit anggur elastis sehingga buah tersebut hanya berkerut ketika berubah menjadi kismis.

Sementara kerak Bulan yang keras dan rapuh akan retak ketika bagian dalamnya menyusut. Akibatnya, satu bagian kerak terdorong naik hingga menindih bagian lainnya, membentuk tebing kecil yang disebut patahan naik (thrust fault).

Pada beberapa area kerak yang lebih tebal, patahan yang ditemukan juga lebih sedikit. Artinya, area berkerak tebal mungkin saja lebih stabil dibandingkan area lain yang keraknya lebih tipis.

Dampak Penyusutan Bulan

Pada 1970-an alat seismik misi Apollo sempat merekam gempa Bulan yang dangkal. Ternyata datanya cocok dengan fenomena pergeseran kerak Bulan.

Para peneliti memperkirakan seberapa besar tegangan yang dilepaskan tiap kali gempa terjadi. Ditemukan tekanan gempa ini sebesar 4 Mpa atau sekitar 40 kali tekanan atmosfer di permukaan Bumi.

Setelah menghitung ulang 28 lokasi gempa di Bulan, para peneliti menemukan bahwa sebanyak 13 titik gempa tersebut berada dalam radius 90 kilometer dari tebing patahan terdekat. Temuan ini memperkuat dugaan peneliti bahwa gempa di Bulan terjadi karena adanya pergeseran kerak.

Pada foto satelit yang diambil pada waktu yang berbeda, citra menunjukkan adanya longsoran tanah di Bulan yang terjadi di dekat tebing-tebing patahan. Para peneliti menduga hal ini juga merupakan dampak dari pergeseran kerak karena lokasinya saling berdekatan.

Selain untuk lebih memahami sejarah Bulan, distribusi dan frekuensi gempa bulan juga dapat membantu NASA merencanakan kehadiran manusia jangka panjang di Bulan dengan lebih baik.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(faz/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads