Astronom Temukan Bintang Pertama yang Berwarna Hijau dan Merah Muda, Seperti Apa?

ADVERTISEMENT

Astronom Temukan Bintang Pertama yang Berwarna Hijau dan Merah Muda, Seperti Apa?

Kalila Untsa - detikEdu
Kamis, 22 Okt 2026 20:30 WIB
Gambar simulasi dari sejumlah bintang katai putih dengan warna berbeda.
Foto: Mark Hollands/University of Warwick/Gambar simulasi dari sejumlah bintang katai putih dengan warna berbeda, ada hijau, kuning, hingga oranye.
Jakarta -

Dilihat dari Bumi, bintang terlihat berkelip-kelip berwarna putih. Namun, tahukah detikers bintang sebenarnya berwarna-warni. Apa saja?

Warna bintang biasanya dipengaruhi oleh suhu di permukaan bintang itu sendiri. Warnanya pun terbatas hanya pada oranye, putih, atau biru. Uniknya, sebuah bintang kecil sisa-sisa Matahari memantulkan spektrum warna yang berbeda.

Sebuah studi yang dipimpin oleh astrofisikawan di University of Warwick, Mark Hollands, mengungkapkan adanya bintang katai putih yang memantulkan sejumlah warna, termasuk hijau, merah muda, sian (biru kehijauan), kuning, dan ungu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Yang kami temukan adalah, untuk sebagian besar katai putih, hal itu juga sama. Tetapi ada beberapa kasus khusus di mana fisika di lapisan luar bintang-bintang ini cukup aneh sehingga menyebabkan penyimpangan yang cukup besar dalam hal spektrumnya," kata Hollands, dikutip dari CNN Science, Selasa (20/10/2026).

Bintang Katai Putih

Bintang katai putih merupakan bintang-bintang tua yang redup bahkan telah padam. Berdasarkan NASA, usianya mencapai 12-13 miliar tahun. Dibandingkan dengan bintang lain di luar angkasa, bintang ini tidak lebih terang daripada bola lampu 100 watt yang dilihat dari Bulan.

ADVERTISEMENT

Bintang yang hampir tidak bercahaya ini berasal dari Matahari dan memiliki massa yang mirip dengan Matahari, serta ukuran yang serupa dengan Bumi. Hal ini menjadikan katai putih sebagai salah satu bentuk materi terpadat.

Kepadatan atmosfer kata putih yang terdingin dapat mencapai sekitar satu gram per sentimeter kubik. Dalam kondisi ini, jejak unsur yang ada seperti karbon, kalsium, dan natrium berinteraksi dengan plasma helium di sekitarnya sehingga menyerap cahaya dalam rentang warna yang lebih luas dari biasanya.

"Jadi, kita sebenarnya dapat menggunakan katai putih sebagai semacam alat diagnostik untuk mengukur komposisi kimia materi planet," tuturnya.

Studi ini menggunakan data yang sudah ada untuk memproyeksikan warna katai putih. Hal ini dilakukan karena tidak ada bintang katai putih dalam jarak dekat yang warnanya bisa diamati secara langsung.

Warna pada bintang redup ini direferensikan sebagai sidik jari yang dihasilkan ketika cahaya bintang dipisahkan berdasarkan panjang gelombang. Sama halnya dengan prisma yang memantulkan cahaya matahari menjadi pelangi.

Lantas, apa perbedaan pada setiap warna bintang yang telah diproyeksikan?

Warna-warni Bintang

Mark Hollands bersama timnya meneliti 151 bintang katai putih yang berada dalam jarak 20 parsec atau sekitar 65 tahun cahaya dari Bumi. Dari hasil pengamatan ini, beberapa warna erat kaitannya dengan unsur yang memenuhi bintang katai putih.

Warna hijau pada bintang katai putih mencerminkan kekayaan unsur kalsium, natrium, dan litium. Sedangkan warna merah muda, yang seperti salmon, erat kaitannya dengan kepadatan molekul karbon yang tinggi.

Warna kuning terjadi karena bintang katai putih diperkaya dengan puing-puing dari komet dan asteroid yang hancur atau sisa-sisa sistem planet purba.

Bintang katai putih yang lebih dingin dengan atmosfer campuran hidrogen dan helium sering kali memiliki semburat sian atau biru pucat. Hal ini karena molekul hidrogen yang bertabrakan dengan atom helium di atmosfer yang begitu padat.

Meski menggunakan data yang sudah ada sebelumnya, studi ini menawarkan pendekatan dan pandangan yang menarik mengenai bintang katai putih. Mark Hollands, kepada CNN Science, mengungkapkan rencana lanjutan untuk menganalisis spektrum bintang katai putih lebih banyak.

"Kita mengetahui adanya bintang katai putih yang belum kita miliki spektrumnya. Tetapi semua itu akan segera berubah karena ada cukup banyak survei spektroskopi. Kita akan mendapatkan peningkatan sepuluh kali lipat dalam jumlah bintang katai putih yang memiliki spektrum. Jadi, mungkin, jika kita beruntung, kita akan beralih dari satu atau mungkin dua bintang katai putih hijau menjadi 10 atau 20," katanya.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.



(faz/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads