Alat pendeteksi kebohongan tidak selalu akurat. Begitu pula bahasa tubuh yang kerap dianggap sebagai petunjuk seseorang sedang berbohong. Namun, ada cara lain untuk mengenali kebohongan, yakni dengan mencermati pilihan kata dan cara seseorang menyampaikan ceritanya.
Kemampuan mengenali kebohongan merupakan hal penting dalam kehidupan sehari-hari. Informasi yang tidak benar dapat memengaruhi keputusan, merusak hubungan, bahkan menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Sayangnya, mendeteksi kebohongan bukan perkara mudah. Sejumlah penelitian menunjukkan seseorang yang berbohong tidak selalu memperlihatkan perilaku atau ekspresi yang sama. Karena itu, mengandalkan penampilan dan gerak-gerik saja tidak cukup untuk mengetahui apakah seseorang berkata jujur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alih-alih hanya memperhatikan apa yang terlihat, kita perlu lebih cermat mendengarkan perkataan seseorang. Penelitian tentang bahasa dan komunikasi menunjukkan bahwa pilihan kata, susunan cerita, serta cara seseorang menjawab pertanyaan dapat memberikan petunjuk tentang kemungkinan adanya upaya menutupi kebenaran.
"Petunjuk linguistik tersebut bisa berbeda-beda, bergantung pada situasi dan alasan seseorang berbohong. Ada kebohongan yang muncul secara spontan tanpa persiapan, ada pula yang dirancang sebelumnya. Sebagian kebohongan bahkan dibangun dari fakta yang dipelintir," ungkap ahli linguistik forensik Kirsty King dalam artikelnya di BBC Science Focus.
Orang yang berbohong juga perlu menjaga ceritanya agar tetap konsisten ketika menghadapi pertanyaan lanjutan. Upaya tersebut dapat membuat mereka kesulitan mengingat detail atau menyesuaikan jawaban dengan informasi yang sudah disampaikan.
Lantas, apa saja ciri kebohongan yang dapat dikenali melalui perkataan seseorang? Berikut lima petunjuk yang perlu diperhatikan.
1. Mengulang Kata atau Cerita Berkali-kali
Pengulangan kata maupun bagian tertentu dalam sebuah cerita bisa menjadi salah satu petunjuk yang patut dicermati.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychological Bulletin pada 2003 menunjukkan pengulangan dalam tuturan dapat menjadi salah satu isyarat yang berkaitan dengan kebohongan. Meski demikian, pengulangan saja tidak cukup untuk membuktikan seseorang sedang berbohong.
Pengulangan dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya penggunaan kata ganti orang secara berlebihan. Salah satu contoh yang dibahas dalam artikel sumber adalah kasus Brian Crickitt, dokter umum asal Australia yang membunuh pasangannya dengan menyuntikkan insulin dalam dosis mematikan.
Saat diwawancarai polisi mengenai kematian pasangannya, Crickitt berulang kali menggunakan kata "saya" ketika menjelaskan keberadaannya pada malam sebelumnya.
"Pola tersebut dapat mencerminkan kesulitan menyusun jawaban, terutama ketika seseorang menghadapi pertanyaan yang tidak dipersiapkan sebelumnya. Namun, pengulangan kata juga bisa muncul akibat gugup, tekanan, atau kebiasaan berbicara," tulis Kirsty.
Pengajar bahasa dan komunikasi di University College London, Inggris itu menambahkan, pengulangan juga dapat terlihat ketika seseorang kesulitan menambahkan detail pada cerita yang dibuat-buat.
Meski demikian, pengulangan dalam ucapannya sebaiknya dipahami sebagai salah satu petunjuk dalam konteks kasus tersebut, bukan bukti mandiri bahwa seseorang berbohong.
Orang yang berbohong juga bisa mengulang kata untuk memberikan kesan kooperatif dan terbuka. Strategi ini dapat digunakan untuk membangun citra seolah-olah mereka tidak menyembunyikan sesuatu.
Masalahnya, mempertahankan cerita yang direkayasa membutuhkan usaha mental. Seseorang harus mengingat informasi yang sudah disampaikan sekaligus memastikan jawaban berikutnya tidak bertentangan. Beban tersebut dapat membuat tuturan menjadi kurang lancar atau membingungkan.
Penelitian dalam Journal of Communication Disorders pada 2004 membahas hubungan antara beban kognitif dan kelancaran berbicara. Namun, ucapan yang tidak lancar juga dapat disebabkan oleh kecemasan, kelelahan, atau tekanan saat diwawancarai.
2. Mendahulukan Alasan daripada Pokok Persoalan
Petunjuk kedua berkaitan dengan cara seseorang menyusun informasi. Dalam kondisi normal, orang biasanya menceritakan pengalaman secara berurutan, mulai dari awal kejadian hingga akhir.
Namun, dalam situasi tertentu, seseorang mungkin langsung menyampaikan informasi paling penting terlebih dahulu. Sebaliknya, orang yang berusaha menutupi sesuatu bisa saja memberikan banyak penjelasan tambahan sebelum sampai pada pokok persoalan.
Pola ini dikenal sebagai foregrounding, yakni penempatan informasi tertentu pada bagian awal cerita untuk mengarahkan perhatian pendengar.
Artikel sumber mencontohkan panggilan Maria Sutton kepada layanan darurat di Inggris. Sutton melaporkan mobilnya hilang, tetapi ia terlebih dahulu menjelaskan percakapan dengan ayahnya, termasuk informasi tentang penutupan jalan dan pemeriksaan nomor registrasi kendaraan.
Belakangan, terungkap bahwa Sutton telah menabrak seorang pesepeda saat mengemudi di bawah pengaruh alkohol. Ia kemudian menggunakan cerita mengenai mobil yang hilang untuk menyembunyikan keterlibatannya.
Dalam kasus tersebut, banyaknya penjelasan yang mendahului inti laporan menjadi salah satu petunjuk yang dapat dicermati.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Discourse Processes pada 2012 juga menemukan orang yang berbohong cenderung menggunakan lebih banyak kata dalam kondisi tertentu dibandingkan orang yang berkata jujur.
3. Menggunakan Kata-Kata yang Menjauhkan Diri
Pilihan kata dapat memperlihatkan cara seseorang memandang orang atau peristiwa yang sedang dibicarakan. Dalam linguistik forensik, salah satu hal yang diperhatikan adalah penggunaan bahasa yang menciptakan jarak antara pembicara dan pihak yang disebutkan.
Pola ini dikenal sebagai distancing language. Misalnya, seseorang yang biasanya menyebut nama orang tertentu tiba-tiba menggunakan ungkapan seperti "orang itu" atau "dia" dengan nada yang tidak lazim.
Penggunaan kata-kata tersebut bisa mencerminkan perasaan negatif, ketidaknyamanan, atau keinginan untuk menjaga jarak. Dalam konteks tertentu, pola itu dapat menjadi petunjuk bahwa seseorang berusaha melepaskan diri dari orang atau kejadian yang sedang dibicarakan.
Artikel sumber mencontohkan kasus Thomas Lang, seorang dokter pensiunan di Brisbane, Australia, yang membunuh pasangannya, Maureen Boyce, pada 2015.
Ketika polisi datang, Lang mengklaim bahwa pasangannya meninggal akibat bunuh diri. Ia menjelaskan dirinya baru bangun tidur dan menemukan "ini", tanpa menyebut nama korban secara langsung.
Pilihan kata tersebut dinilai menciptakan jarak antara Lang dan korban. Dalam konteks kasus itu, penggunaan bahasa semacam ini menjadi salah satu unsur yang dapat diperhatikan ketika menelaah pernyataannya.
Namun, seseorang bisa menggunakan kata ganti atau ungkapan umum karena berbagai alasan, termasuk kebiasaan berbicara dan kondisi emosional. Karena itu, bahasa yang menciptakan jarak tidak dapat dijadikan bukti tunggal kebohongan.
4. Minim Detail tentang Apa yang Dilihat, Didengar, atau Dirasakan
Ketika seseorang menceritakan pengalaman yang mengejutkan atau mengancam keselamatannya, cerita tersebut sering kali memuat detail yang berkaitan dengan indra. Ia mungkin menggambarkan suara yang didengar, benda yang dilihat, sensasi fisik yang dirasakan, atau perubahan kondisi tubuh saat kejadian berlangsung.
Sebaliknya, cerita yang direkayasa terkadang minim detail sensoris karena tidak didasarkan pada pengalaman langsung.
Penelitian tentang petunjuk kebohongan yang diterbitkan pada 2003 menemukan orang yang berbohong dapat menggunakan lebih sedikit deskripsi sensoris dalam kondisi tertentu.
Detail indrawi meliputi hal-hal yang dilihat, didengar, dicium, dirasakan, atau dialami tubuh, seperti jantung berdebar dan perubahan posisi tubuh. Informasi tersebut dapat membantu pendengar memahami apakah sebuah cerita disampaikan sebagai pengalaman konkret atau hanya berupa rangkaian pernyataan umum.
Meski demikian, ketiadaan detail sensoris bukan bukti pasti seseorang berbohong. Ingatan manusia tidak selalu lengkap, terutama ketika menghadapi peristiwa traumatis. Ada pula orang yang memang kesulitan mengungkapkan pengalaman secara terperinci.
5. Bersembunyi di Balik Kata "Kami" atau "Kita"
Kata ganti orang juga dapat menjadi petunjuk yang menarik untuk diperhatikan. Ketika menceritakan tindakan yang dilakukan sendiri, seseorang umumnya menggunakan kata "saya" atau "aku". Namun, orang yang berusaha menghindari tanggung jawab terkadang menggunakan kata ganti jamak seperti "kami" atau "kita".
Penggunaan kata ganti jamak dapat membuat peran pribadi seseorang tampak kurang menonjol karena tindakan seolah-olah dilakukan bersama orang lain.
