Presiden Prabowo Subianto menyinggung kondisi elite di Indonesia yang menurutnya masih terkotak-kotak. Ia meyakini, hal ini bisa terjadi lantaran peran penting pendidikan.
Elite dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut sebagai kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi, contohnya kaum bangsawan, cendekiawan, dan lainnya. Arti lainnya menyatakan elite adalah orang-orang terbaik atau pilihan dalam suatu kelompok yang memiliki kedudukan, kekuasaan, kekayaan, atau pengaruh paling dominan.
Awalnya, Prabowo menyinggung soal garis politik atau arah kebijakan yang ia pegang selama menjadi Presiden RI. Ia membaginya dalam garis politik dalam dan luar negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada garis politik dalam negeri, Prabowo menyebut ia mengutamakan kepentingan nasional dibanding kelompok. Oleh karena itu, ia berusaha merangkul setiap kekuatan/elite yang ada di Indonesia.
"Karena kesadaran saya, melalui pengalaman saya yang cukup lama di bidang keamanan, di bidang politik, di mana politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan," tuturnya dalam Pidato Sidang Kabinet Paripurna 2 Tahun Pertama Pemerintahan Kerja Nyata untuk Negeri dikutip dari tayangan ulang di YouTube Sekretariat Presiden, Kamis (22/10/2026).
Elite Masih Terkotak-kotak
Di era sekarang, Prabowo menilai berbagai sektor tak bisa dipisahkan. Baik itu sektor politik, ekonomi, sosial, hingga pertahanan.
"Sekarang mata uang jadi senjata, sekarang ekspor-impor jadi senjata, sekarang pangan menjadi senjata, beras menjadi senjata. Jadi, bisnis tidak bisa kita pandang hanya murni sebagai bisnis. Tidak bisa," katanya.
Namun, alih-alih menjadi satu kekuatan, Prabowo melihat elite dan akademisi di Indonesia masih punya pola pikir yang terpisah-pisah. Menurutnya, hal ini adalah sebuah kelemahan yang penyebabnya mungkin karena pendidikan yang ada di Indonesia.
"Salah satu kelemahan dari bangsa Indonesia adalah bahwa elite kita terkotak-kotak dalam silo-silo sektoral. Ini mungkin bersumber dari pendidikan kita," ucap Prabowo.
Untuk itu, ia menyebut bila bangsa Indonesia perlu melakukan koreksi diri. Terutama, bagi para akademisi dan profesor yang bertanggung jawab di bidang pendidikan.
"Kita harus koreksi diri, terutama dunia akademis kita, terutama profesor-profesor kita yang bertanggung jawab di bidang pendidikan," imbuhnya.
Ke depan, ia berharap hasil akhir pendidikan tidak boleh melahirkan orang yang berpikiran kaku atau terkotak-kotak. Lulusan perguruan tinggi disebutnya harus integralistik atau bersifat terpadu dan saling menyatu.
"Nah ini saya kira dalam jangka panjang saya berharap kita akan nanti perbaiki. Bahwa, di ujungnya pendidikan kita harus benar-benar integralistik, tidak bisa sektoral," bebernya.
Prabowo mewajarkan bila pendidikan tinggi di jenjang S1 masih bersifat sektoral. Artinya, mahasiswa masih fokus belajar pada satu bidang saja.
Namun, di bidang pendidikan S2 dan S3 menurutnya pembelajaran harus lebih multidimensional. Dalam kata lain, mahasiswa yang merupakan calon pemimpin harus bisa memahami berbagai ilmu sekaligus, sehingga masalah bangsa bisa dilihat secara menyeluruh bukan dari satu sudut pandang ilmu saja.
"Saya kira sektoral itu mungkin sampai di S1. S2 (dan) S3 sudah harus lebih multidimensional," tegasnya.
