Sering Pakai AI, 90 Persen Siswa RI Khawatir Bisa Belajar Cepat tapi Tidak Mendalam

ADVERTISEMENT

Sering Pakai AI, 90 Persen Siswa RI Khawatir Bisa Belajar Cepat tapi Tidak Mendalam

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 22 Okt 2026 09:00 WIB
Pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengikuti pelatihan keamanan siber di Kampus Telkom University, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (6/10/2025). Komunitas Indonesia Women in Cybersecurity (IWCS) bersama Telkom University menggelar Cyber Safe Kids atau pelatihan keamanan siber bagi anak yang memberikan pelatihan kepada siswa SD dan SMP terkait pemahaman dasar keamanan siber dan cara melindungi diri serta memahami konten palsu dan risiko Artificial Intelligence (AI). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/Ilustrasi siswa belajar AI.
Jakarta -

Survei global HP Futures 2026 melaporkan 90 persen siswa di Indonesia merasa khawatir karena sering menggunakan kecerdasan buatan (AI). Sebab mereka bisa belajar dengan lebih cepat, tetapi tidak memahami materi secara mendalam.

Survei ini menilai lebih dari 6.000 pelajar di 37 negara, yang terdiri dari enam latar belakang bahasa, yakni Inggris, Spanyol, Portugis, Indonesia, Italia, dan Arab. Survei ini dilakukan secara online pada periode Mei–Juni 2026 dengan responden berusia antara di bawah 12 tahun hingga di atas 25 tahun, dengan 88% dari mereka menyatakan berusia antara 12 dan 17 tahun.

Dari jumlah responden tersebut, sebanyak 2.097 berasal dari Indonesia. Jumlah ini menjadi yang tertinggi di antara seluruh negara yang disurvei.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak Pelajar Mengakui AI Bikin Belajar Jadi Cepat tapi Bikin Khawatir

Survei tersebut menemukan bahwa 82 persen siswa khawatir AI membuat mereka tidak mempelajari materi secara mendalam. Ini menunjukkan bahwa siswa di berbagai negara menyadari risiko penurunan kognitif akibat penggunaan AI.

Meski khawatir, 81 persen siswa percaya bahwa pendidikan saat ini mempersiapkan mereka untuk bekerja. Maka dari itu, 80 persen siswa yakin mereka dapat menggunakan AI secara efektif, meski tetap khawatir terhadap pembelajaran mereka.

ADVERTISEMENT

Survei ini juga mengungkap temuan menarik lainnya. Sekitar 25 persen siswa mengatakan bahwa saat pembelajaran benar-benar penting, mereka menggunakan catatan tulisan tangan sebagai metode pembelajaran pilihan mereka untuk mengingat informasi. Sementara yang tetap suka ringkasan yang dihasilkan AI sekitar 18%.

Uniknya, survei mengungkapkan bahwa para siswa sebagian besar meminta pendidikan AI daripada larangan AI. Di sisi lain, mereka ingin melawan ketergantungan dan "pemikiran malas".

Pelajar Percaya AI Bisa Memperluas Karier

Saat tren kerja berubah karena kemajuan AI, para siswa juga menyadarinya. Namun, mereka juga tetap mementingkan pemikiran kritis.

Para pelajar percaya bahwa kreativitas dan pemikiran kritis adalah keterampilan terpenting untuk pasar kerja masa depan. Mereka menempatkan keterampilan manusia yang tahan lama di atas keterampilan teknis. Urutannya:

- Kreativitas (56%)

- Pemikiran kritis (56%)

- Komunikasi serta kolaborasi (52%)

- AI dan literasi digital (44%)

- Keterampilan teknis atau pengkodean (29%)

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia. Kreativitas dan berpikir kritis tetap dianggap sebagai keterampilan terpenting di atas literasi AI.

Di sisi lain, 61 persen pelajar percaya bahwa AI akan menciptakan lebih banyak peluang karier daripada yang akan diambilnya. Hanya 28 persen yang tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Sementara di Indonesia, sebanyak 67% pelajar yang disurvei juga meyakini AI bisa menciptakan peluang karier, dibandingkan dengan mengancam pekerjaan mereka. Selain itu, 84 persen pelajar percaya bisa menggunakan AI secara efektif dan bertanggung jawab dalam karier mereka kelak.

Laporan ini menyerukan kepada para pembuat kebijakan di Indonesia dan berbagai negara untuk menyusun arah kebijakan yang jelas dalam membantu siswa mengembangkan keterampilan yang akan terus relevan di masa depan. Keterampilan bukan hanya sekadar pelengkap atau kegiatan ekstrakurikuler, melainkan perlu menjadi bagian inti pendidikan.



(faz/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads