Citra satelit NASA's Eyes on the Earth menampilkan sebaran gas karbon monoksida (CO) di atmosfer Indonesia. Terbentang dari Sumatera hingga Papua, apa dampak karbon monoksida?
Karbon monoksida sendiri adalah gas tidak berwarna dan tidak berbau yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna. Gas dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan, kendaraan bermotor, serta kegiatan industri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, karbon monoksida juga dapat muncul dari lingkungan sekitar seperti, pemanas ruangan dengan minyak tanah, cerobong asap, hingga kompor gas.
Dampak Karbon Monoksida pada Tubuh
Menurut Kementerian Kesehatan dalam laman resminya, paparan karbon monoksida dapat menimbulkan gejala:
1. Sakit kepala
2. Pusing
3. Sesak nafas
4. Mata berair
5. Tekanan darah tinggi
Apabila seseorang menghirup karbon monoksida secara terus menerus, akan muncul penyakit yang berkaitan dengan jantung seperti:
1. Jantung koroner
2. Serangan jantung
3. Penyakit kardiovaskuler lainnya
Tanggapan BMKG Soal Citra NASA
Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, mengatakan citra NASA karbon monoksida itu memperlihatkan sebaran gas pada lapisan atmosfer sekitar 500 milibar atau 5-6 kilometer di atas permukaan bumi. Menurutnya, peta tersebut tidak otomatis menunjukkan kadar udara yang dihirup masyarakat.
"Cara membacanya, warna merah hingga jingga menunjukkan jumlah CO di lapisan tersebut yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain. Warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang kita hirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan, dan tidak memastikan sumber emisi di setiap wilayah yang berwarna," tuturnya dalam detikNews, Senin (19/10/2026).
Salah satu sifat karbon monoksida adalah waktu bertahannya yang cukup lama di atmosfer. Kondisi ini membuat gas tersebut dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer dari sumbernya. Namun, penyebaran yang luas ini tidak berarti konsentrasi karbon monoksida juga tinggi.
"Sebaran yang luas juga tidak sama dengan konsentrasi yang tinggi, karena CO dapat bertahan cukup lama di udara sehingga dapat menyebar ke wilayah yang sangat luas dalam keadaan konsentrasi yang lebih rendah," jelasnya.
Marjuki menegaskan citra satelit NASA bermanfaat untuk melihat pergerakan gas di atmosfer. Namun, informasi itu tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai kualitas udara yang dihirup masyarakat.
