Pakar ITS Jelaskan Kenapa Saat Pagi Polutan Udara Bisa Lebih Terakumulasi

ADVERTISEMENT

Pakar ITS Jelaskan Kenapa Saat Pagi Polutan Udara Bisa Lebih Terakumulasi

Novia Aisyah - detikEdu
Selasa, 20 Okt 2026 07:00 WIB
Ilustrasi Kota Surabaya saat Cerah
Ilustrasi Kota Surabaya saat Cerah. Foto: Gemini AI
Jakarta -

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 15 Oktober 2026, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya sempat menunjukkan konsentrasi partikulat meter ukuran 2,5 mikron atau PM2.5 sempat berada daalam kategori tidak sehat. Hal ini berdasarkan pemantauan di Stasiun Pemantauan Kualitas Udara Ambien (SPKUA) Tandes.

Penurunan kualitas udara tersebut menjadi analisis bagi Kepala Laboratorium Pengendalian Pencemaran Udara dan Perubahan Iklim Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr Eng Arie Dipareza Syafei, ST, MEPM. Terlebih, saat ini cuaca di Indonesia sangat panas.

Arie memaparkan kualitas udara dinilai melalui pengukuran konsentrasi polutan seperti PM2.5, PM10, ozon, nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan karbon monoksida (CO). Hasil pengukuran kemudian digunakan untuk menentukan kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) sebagai informasi terkait tingkat pencemaran dan risiko kesehatan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menerangkan, berdasarkan PP Nomor 22 Tahun 2021, baku mutu PM10 ditetapkan sebesar 75 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 40 µg/m³ untuk rata-rata tahunan. Kemudian, baku mutu PM2.5 sebesar 55 µg/m³ untuk rata-rata 24 jam dan 15 µg/m³ untuk rata-rata tahunan.

Alumnus doktoral Hiroshima University itu menyebut, hasil pengukuran harus disesuaikan dengan periode rata-ratanya. Selain itu, kualitas udara yang memenuhi baku mutu tidak sepenuhnya bebas dari risiko kesehatan, khususnya untuk kelompok rentan.

ADVERTISEMENT

Polutan Lebih Mudah Terakumulasi Saat Pagi

Arie menegaskan penurunan kualitas udara seperti yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu tidak terjadi semata-mata karena cuaca panas. Ada berbagai sumber emisi yang memengaruhi.

Beberapa sumber pencemar udara antara lain berasal dari pembakaran industri, kendaraan bermotor, hingga pembakaran terbuka. Debu fugitif dari area terbuka juga bisa mendorong pencemaran udara.

Ia mengingatkan, wilayah dengan tingkat emisi kendaraan tinggi berpotensi alami peningkatan pencemaran udara, khususnya pada pagi hari. Pasalnya, pada pagi hari volume kendaraan mulai meningkat.

"Peningkatan emisi pada pagi hari, ketika lapisan pencampuran udara masih relatif dangkal, dapat menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di lapisan troposfer," jelas Arie.

Ia juga menerangkan, cuaca panas bukan sumber langsung munculnya PM2.5, tetapi merupakan kondisi yang bisa memengaruhi dinamika polutan di udara. Arie menyebut intensitas matahari yang tinggi bisa meningkatkan pembentukan ozon, sedangkan pemanasan permukaan ikut memengaruhi proses pencampuran udara.

Dalam jangka pendek, Arie menjelaskan, paparan udara bisa menyebabkan batuk, sesak napas, iritasi, dan memperburuk asma. Sedangkan paparan berulang dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, juga gangguan paru-paru.

Cuaca panas juga bisa menambah beban tubuh, termasuk meningkatkan risiko dehidrasi.

"Kombinasi keduanya perlu diwaspadai, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru," kata Arie.

Ia mengingatkan pentingnya kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam mengendalikan pencemaran udara. Pemerintah dapat memperkuat sistem peringatan kualitas udara, menindak praktik pembakaran terbuka, juga memeriksa sumber emisi tinggi. Kemudian, masyarakat diimbau tidak lagi membakar sampah dan melakukan pengecekan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan.



(nah/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads