Fenomena Curhat ke AI, Pakar Ingatkan Teknologi Bukan Pengganti Manusia

ADVERTISEMENT

Fenomena Curhat ke AI, Pakar Ingatkan Teknologi Bukan Pengganti Manusia

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 13 Okt 2026 09:31 WIB
close up asian teenager man feeling bored while playing smartphone at house for teenage and technology life concept
Ilustrasi curhat ke AI. Foto: Getty Images/Chainarong Prasertthai
Jakarta -

Perkembangan artificial intelligence (AI) kian pesat. Selain membantu menyelesaikan pekerjaan, masyarakat mulai menggunakan AI untuk mencurahkan persoalan pribadi.

Pakar Psikologi Klinis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Muhammad Arif Rizqi, menilai fenomena ini memiliki dua sisi. Menurutnya, AI dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar seseorang secara instan.

Namun di sisi lain, teknologi ini belum dapat menggantikan proses terapeutik yang membutuhkan pemahaman mendalam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk memahami fenomena ini, Arif berbicara dengan sejumlah klien yang menggunakan AI untuk menceritakan persoalan mereka. Beberapa klien mengaku mendapatkan jawaban yang cukup membantu dan mirip dengan jawaban yang dapat diberikan psikolog.

ADVERTISEMENT

Kendati demikian, interaksi dengan AI berbeda dari interaksi antarmanusia. Pengguna bisa memperoleh arahan untuk menghadapi persoalan tertentu. Namun, mereka tidak mendapatkan pengalaman interaksi manusia secara langsung.

"Beberapa yang kemudian menyampaikan mereka cukup terbantu, tetapi tema yang saya lihat sama. Mereka tidak mendapatkan sebuah sentuhan manusia di situ," ungkapnya dalam laman UMY dikutip Minggu (12/10/2026).

Alasan Seseorang Memilih AI untuk Tempat Curhat


Ada beberapa alasan seseorang memilih AI sebagai tempat curhat. Sebagian orang merasa lebih nyaman karena khawatir persoalan pribadi mereka diceritakan kembali kepada orang lain.

Selain itu, AI mudah diakses kapan saja. Penggunaannya juga tidak selalu berawal dari persoalan serius. Ada yang mencoba AI karena penasaran atau sekadar ingin mengetahui respons teknologi tersebut.

"Ada beberapa yang mereka coba-coba. Artinya, mungkin karena FOMO atau penasaran dan sebagainya menggunakan fasilitas itu," tuturnya.

Oleh karena itu, Arif menilai AI dapat menjadi alternatif ketika seseorang membutuhkan dukungan. Meski demikian, AI tidak seharusnya menjadi satu-satunya tempat untuk bercerita.

"Untuk kebutuhan yang betul-betul mendesak ketika memang tidak ada dukungan, saya rasa itu bisa menjadi salah satu alternatif. Tapi bukan satu-satunya alternatif," tegasnya.

Namun, ketika persoalan yang dihadapi sudah kompleks atau berkaitan dengan gejala klinis berat, Arif menyarankan seseorang mencari bantuan profesional.

"Untuk yang sifatnya sudah kompleks, berkaitan dengan gejala-gejala yang bersifat klinis berat, saya sarankan memang harus ke profesional," tegasnya.

Teknologi dapat membantu seseorang mengekspresikan emosi, namun AI tetap tidak dapat menggantikan hubungan antarmanusia.

"Kata kuncinya adalah dia alat bantu. Maka, teknologi apa pun itu kita posisikan dan kita sadari bahwa dia sebagai alat bantu," pungkas Arif.



(nir/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads