Pernah dengar suara Barack Obama saat menyampaikan pidato? Suaranya berat, dalam, dan terdengar berwibawa, cocok dengan kedudukannya sebagai seorang presiden kala itu.
Ternyata, alasan suara pria terdengar menarik bukan itu saja. Studi terbaru mengungkapkan ada kriteria spesifik mengenai suara pria yang dianggap lebih menarik.
Studi yang dipublikasikan di Royal Society Open Science pada 23 September 2026 oleh James E. Rutter dan Lynda G. Boothroyd dari Durham University, menjelaskan bagaimana suara berat yang dimiliki oleh seseorang dapat memengaruhi tingkat atraktifnya. Mereka meneliti sebanyak 17 pria dengan tinggi badan, berat badan, dan bentuk fisik yang berbeda-beda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peserta diminta untuk menghitung dengan lantang dari satu hingga lima, menghadap kamera, dan direkam. Para peneliti kemudian menyunting suara masing-masing peserta dengan menaikkan atau menurunkan nada dan resonansi vokal. Kini, ada 12 suara dari setiap peserta yang siap diperdengarkan.
Suara Seperti Apa yang Lebih Disukai?
Suara-suara yang diambil kemudian digunakan untuk melakukan survei daring yang melibatkan ratusan responden anonim. Responden diharuskan menonton klip video dan mendengarkan suara-suara yang telah disunting tersebut.
Para responden diminta untuk menilai setiap pria yang ditampilkan di layar berdasarkan beberapa hal seperti kekuatan fisik, kemampuan berkelahi, dominasi, dan daya tarik.
Suara hasil suntingan peneliti tadi berkisar antara 75 Hz hingga 115 Hz dan 135 Hz. Temuan studi ini mengungkapkan bahwa suara yang lebih tinggi dinilai kurang menarik, baik oleh pria maupun wanita. Sedangkan suara paling rendah, 75 Hz, juga dianggap kurang menarik.
Menurut studi, nada suara dan resonansi vokal di titik 95 Hz terdengar menarik. Pria secara signifikan terdengar lebih dominan, lebih kuat, dan lebih baik secara fisik.
Para peneliti mengatakan bahwa 95 Hz menjadi titik yang paling ideal bagi responden wanita karena tampaknya mencapai keseimbangan suara yang terdengar maskulin tanpa menjadi terlalu rendah. Meski tidak banyak, ada responden yang menyukai suara yang sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa daya tarik suara menurun saat melebihi batas 75 Hz ini.
Suara yang lebih tinggi dinilai kurang menarik karena terdengar kurang maskulin dan kurang dominan. Hal ini karena responden, secara konsisten, mengaitkan suara yang lebih rendah dengan kekuatan, kemampuan bertarung, dan pengaruh yang lebih besar.
Namun, mereka mengatakan bahwa preferensi keseluruhan terhadap maskulinitas vokal lebih didorong oleh keengganan terhadap suara yang terdengar paling feminin daripada preferensi yang kuat terhadap suara yang sangat maskulin.
Meskipun suara tinggi mengurangi daya tarik seorang pria, suara yang lebih dalam tidak memberikan dorongan romantis tambahan setelah para responden dapat melihat tubuhnya.
Video Juga Memiliki Pengaruh
Para peneliti mengungkapkan bahwa penilaian terhadap suara baru menggambarkan setengah dari pendapat responden. Saat diminta untuk melihat video tanpa suara, responden sudah terpengaruh.
Artinya, video para pria juga dapat memengaruhi persepsi responden dibandingkan dengan hanya mendengarkan suara yang telah disunting.
"Dengan kata lain, para pria dalam video tersebut secara konsisten tampak lebih kuat, lebih mahir berkelahi, dan lebih dominan seiring meningkatnya maskulinitas suara mereka," tulis studi tersebut, dikutip dari phys.org.
Intinya, meskipun suara yang rendah cenderung lebih disukai karena dianggap dapat menyampaikan kekuatan dan otoritas, wanita kemungkinan lebih menyukai nada yang terdengar maskulin tanpa berlebihan.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)
