Kebakaran lahan gambut terjadi setiap tahun di wilayah Kalimantan dan Sumatera. Lantas, mengapa lahan gambut sangat mudah terbakar?
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Dr Dony Rachmanadi, menjelaskan bahwa penyebabnya ada pada kondisi hidrologis tanah.
"Mudah terbakar karena kondisi hidrologinya yang berubah," ujarnya dalam Media Longue Discussions: Sains di Balik Karhutla Gambut dan Teknologi Pencegahannya, di Gedung BJ Habibie BRIN Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gambut sendiri terbentuk dari rawa dan berasal dari tumpukan bahan organik yang belum terurai sempurna. Dony mengatakan gambut sebenarnya menyimpan banyak cadangan air, namun kondisi ini berubah jika kawasan gambut dikeringkan.
"Yang paling berpengaruh terhadap kebakaran karena pengeringan," ujarnya.
Bahan Organik yang Terbakar
Saat tumpukan bahan organik pada lahan gambut terbakar, api akan menjalar di bawah permukaan tanah atau subsurface smoldering. Dony mengibaratkan api pada lahan gambut seperti menjual sate. Saat api terkena oksigen sedikit demi sedikit, api akan membesar dan menjalar ke kanan-kiri.
Terlebih, kondisi kebakaran yang terjadi di bawah tanah membuat api jadi sulit dideteksi dan dipadamkan secara menyeluruh. Api juga dapat terus membakar lapisan bawah tanah, membuatnya lebih tahan lama.
Ia menyoroti petugas lapangan yang memadamkan api di lokasi kebakaran hutan. Setelah air disemprotkan, api akan kembali menyala.
"Banyak air yang disemprotkan di situ, besok balik lagi, dia nyala lagi. Begitu dapat oksigen, dia nyala lagi," tuturnya.
"Dan ini kejadian di Kaltim tahun 97-an," ujarnya.
Kebakaran Hebat di Indonesia Tahun 1997
Melansir dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran di Indonesia pada 1997 disebabkan oleh fenomena El Niño. Api meluas di lahan gambut Kalimantan dan Sumatra dengan total area terbakar diperkirakan lebih dari 9 juta hektare.
Asap menyelimuti hampir seluruh Kalimantan hingga menyebar ke Sumatra, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand bagian selatan, dan Filipina.
Ribuan penerbangan dibatalkan akibat jarak pandang yang hanya beberapa ratus meter. Menurut data World Bank tahun 1999, total kerugian ekonomi akibat kebakaran tersebut diperkirakan mencapai sekitar US$4,5 miliar atau setara dengan lebih dari Rp70 triliun dalam kurs saat itu.
Peristiwa kebakaran 1997 juga disebut sebagai salah satu bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20.
