Indonesia memiliki lahan gambut yang sangat luas. Negara ini memiliki lahan gambut tropis terluas di dunia dan lahan gambut terluas nomor tiga secara global.
Luasnya lahan gambut Indonesia menyebabkan mitigasi dari unsur pemadam kebakaran beserta kebutuhan sumber daya air terbilang memakan biaya yang sangat mahal. Hal ini diungkapkan oleh Dosen Kelompok Keahlian Statistika, Fakultas Matematika dan IPa, Institut Teknologi Bandung (ITB), Adilan Widyawan Mahdiyasa, SSi, MSi, PhD.
"Memang paling ideal dilakukan adalah kita kerahkan pemadam kebakaran petugas penjaga untuk menjaga agar tidak jadi kebakaran. Pemadam kebakaran sudah disiapkan dan lain sebagainya. Air-air, sumber-sumber air sudah disiapkan, tetapi hal itu sangat berat dan memakan biaya sangat mahal karena lahan gambut yang harus dijaga sangat besar di Indonesia," jelas Adilan, dikutip dari podcast Direktorat Riset dan Inovasi ITB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi di Kalimantan sendiri lahan gambutnya sangat banyak. Hampir mustahil pemerintah bisa menjaga semua itu," ungkapnya lagi.
Berangkat dari tantangan tersebut, tim peneliti dari ITB, IPB University, dan University of Nottingham melakukan riset untuk menyajikan peluang lokasi hingga area yang rentan karhutla. Dengan itu, maka tingkat kekeringan dan kerawanan kebakaran lahan gambut bisa diprediksi bahkan sebelum kebakaran terjadi.
"Kami bisa memprediksi hal tersebut sehingga kami bisa memprediksi tingkat kekeringan dan kerawanan kebakaran lahan gambut sebelum kebakaran itu terjadi," kata Adilan.
"Nah, inilah yang kami kembangkan, yang kami propose adalah kami bisa memberikan lokasi-lokasi dan juga waktu-waktu area mana saja menjadi sangat rentan terhadap kebakaran. Jadi, kami tidak hanya mem-propose lokasinya, tapi kami juga mem-propose kapan dia menjadi sangat rawan ke depannya," terang Adilan.
Sebagai contoh, berdasarkan riset ini, akan diketahui di Kalimantan Selatan lokasi A akan sangat rawan karhutla dalam beberapa hari mendatang. Sehingga, pemprov atau pemda setempat perlu memberikan perhatian khusus.
Adilan menegaskan, dalam riset ini peneliti bisa memetakan lokasi dan juga kapan suatu area menjadi lebih rentan terhadap kebakaran lahan gambut. Oleh sebab itu, alokasi sumber daya dan waktu bisa menjadi lebih efisien.
Meneliti Data sejak Masa Lalu
Pakar matematika statistik ini mengatakan, pihaknya meneliti data-data di masa lalu, terutama yang berkaitan dengan data iklim yakni temperatur, curah hujan, tutupan lahan, perubahan tutupan lahan, juga faktor-faktor hidrologi seperti kelembapan gambutnya sendiri dan juga posisi muka air yang ada di gambut tersebut. Adilan menyebut data-data ini sangat signifikan terhadap peningkatan risiko kebakaran lahan gambut.
Sebagai contoh, saat terjadi El Nino Godzilla seperti pada tahun ini, kemarau berlangsung lebih lama. Ketika di Kalimantan tidak terjadi hujan, maka gambut pun semakin kering dan posisi muka air tanah yang ada di gambut akan turun.
"Akibatnya gambutnya menjadi lebih kering. Dan di sinilah bahayanya akan menjadi meningkat. Seperti yang tadi saya bilang, ketika gambutnya sudah mulai mengering, risiko kebakarannya akan meningkat. Itu yang menjadi inti dari riset kami," kata Adilan.
"Kami berusaha memprediksi bagaimana perubahan-perubahan tingkat kekeringan lahan gambut tersebut dan nanti ke depannya bagaimana kira-kira perubahan kekeringan itu terjadi ke depannya berdasarkan data-data masa lalu dengan menggunakan model-model stokastik dan pembelajaran mesin. Kami bisa memprediksi hal tersebut sehingga kami bisa memprediksi tingkat kekeringan dan kerawanan kebakaran lahan gambut sebelum kebakaran itu terjadi," ungkapnya.
