Suaka Rhino Sumatera Taman Nasional Way Kambas (SRS TNWK) membawa kabar gembira bagi upaya pelestarian badak sumatera. Dua induk badak, Ratu dan Delilah, dipastikan tengah mengandung calon anggota keluarga baru di tengah ancaman kepunahan spesies tersebut.
Kehamilan badan Sumatera, Ratu dan Delilah, tentu menjadi kabar baik di Hari Badak Sedunia yang diperingati pada 22 September setiap tahunnya. Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, Ahmad Munawir menyebut kabar ini bukan hanya penting bagi Indonesia.
Kebuntingan Ratu dan Delilah juga menjadi perkembangan penting bagi konservasi badak Sumatera di dunia. Ahmad Munawir menegaskan pihaknya terus berupaya untuk menyelamatkan spesies ini dari kepunahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kehamilan dua bayi badak sumatera ini bukan hanya kabar baik bagi Indonesia, tetapi juga bagi dunia. Ini menegaskan bahwa kebuntingan kedua induk badak tersebut menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk mempertahankan keberlangsungan populasi badak Sumatera melalui pengembangbiakan yang terencana, pengelolaan kesehatan reproduksi, serta pemantauan individu secara intensif," katanya dikutip dari laman Kemenhut, Senin (5/10/2026).
Dipantau Secara Intensif
Diketahui, ini bukan kali pertama Ratu dan Delilah merasakan kehamilan. Bagi Ratu, ini adalah proses bunting calon anak keempat bersama pejantan bernama Andalas. Usia kebuntingan Ratu kini sudah mencapai 238 hari atau sekitar 7,9 bulan.
Sementara Delilah menjalani proses kebuntingan untuk calon anak kedua bersama pejantan Harapan. Usia kebuntingannya mencapai 251 hari atau sekitar 8,3 bulan.
Masuk dalam program pengembangbiakan di SRS TNWK, Ratu dan Delilah terus dipantau kondisi kesehatannya secara intensif. Pemantauan dilakukan oleh tim medis, keeper, dan manajemen SRS TNWK hingga proses kelahiran.
Program pengembangbiakan ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kehutanan melalui Balai Taman Nasional Way Kambas dan Yayasan Badan Indonesia (YABI). Di SRS, badak sumatera ditempatkan di habitat alaminya.
Meski begitu, badak tetap berinteraksi manusia dengan seminimal mungkin. Interaksi ditujukan untuk perawatan medis dan pemantauan reproduksi secara intensif.
Sampai saat ini, ada lima ekor badak Sumatera yang lahir melalui program ini. Kelimanya adalah Andatu (2012), Delilah (2016), Sedah Mirah (2022), Anggi (2023), dan Indra (2023). Kini, SRS TNWK siap menunggu anggota keluarga baru dari Ratu dan Delilah.
Berapa Lama Durasi Badak Sumatera Hamil?
Sebagai informasi, badak Sumatera kini terancam punah dengan status kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List. Badak Sumatera adalah satu dari lima jenis badak yang masih hidup di dunia.
Dari kelima jenis tersebut, Indonesia adalah rumah bagi dua di antaranya, yakni badak Sumatera dan badak Jawa. Keduanya kini berstatus Critically Endangered.
Adapun jumlah badak Sumatera di alam liar diperkirakan tidak lebih dari 80 ekor. Jumlah tersebut tersebar di Kawasan Gunung Leuser, TNWK, Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), dan Kalimantan Timur.
Namun, berapa lama badak Sumatera bisa bunting hingga akhirnya melahirkan?
Kemenhut menyebutkan siklus kebuntingan badak Sumatera selama 15-16 bulan. Setelah lahir, anak badak akan menyusu hingga memasuki masa sapih pada usia 2 tahun.
Setiap kebuntingan dan kelahiran badak Sumatera, dijelaskan Kemenhut, tidak hanya menambah individu baru. Proses ini juga memperkuat peluang menjaga keragaman genetik dan membangun populasi jangka panjang.
Menunggu waktu kelahiran, Ketua Pengurus YABI, Jansen Manangsang menegaskan Ratu dan Delilah akan dipantau. Dengan begitu, keduanya bisa melalui masa ini dengan baik dan melahirkan anak yang sehat.
"Kami dan Balai Taman Nasional Way Kambas berkomitmen untuk terus memantau kondisi kesehatan induk, perkembangan kebuntingan, serta kesiapan induk hingga proses kelahiran. Tim medis SRS akan melakukan pemantauan secara intensif agar Ratu dan Delilah dapat melalui masa kebuntingan dengan baik hingga melahirkan anak yang sehat," ungkapnya.
