Penuaan adalah kepastian bagi setiap manusia. Namun, kenapa ada yang menua dengan sehat dan ada yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes dan demensia?
Selama ini banyak studi menganalisis bagaimana penyakit pada lansia bisa dicegah atau diperlambat. Sebuah pertanyaan muncul: Mengapa tidak penuaan yang diperlambat?
Seorang mahasiswa doktoral di Yale University, Raghav Sehgal, mengatakan peneliti masih terus berusaha memahami bagaimana proses penuaan bisa memicu penyakit dan apakah ada cara untuk memperlambatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagai peneliti, kita masih memiliki jalan panjang untuk memahami proses penuaan dan apakah langkah-langkah yang kita ambil untuk mengelolanya benar-benar efektif," katanya, dikutip dari Yale News, Jumat (25/9).
Raghav mencoba meneliti sistem biologis yang mendorong penuaan manusia dan bagaimana cara terbaik untuk mengukur penuaan, serta mengapa penuaan menimbulkan penyakit seperti kanker, diabetes, dan demensia.
Studi dilakukan dengan menggunakan jenis biomarker berbasis darah yang dikenal sebagai jam epigenetik, yang memperkirakan usia epigenetik atau biologis.
Faktor Apa Saja yang Bisa Menghambat Penuaan?
Raghav dan tim peneliti dari laboratorium Albert Higgins-Chen, asisten profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Yale, mengumpulkan data dari 51 studi untuk mencari intervensi antipenuaan. Termasuk di dalamnya suplemen hingga prosedur medis.
Selanjutnya, para peneliti membandingkan usia biologis peserta sebelum dan sesudah menerima berbagai intervensi.
Intervensi gaya hidup dan pengobatan dengan obat tertentu memang tampaknya memperlambat proses penuaan, sementara sampel suplemen yang dijual bebas yang diuji oleh para peneliti tidak banyak berpengaruh.
"Kita sudah tahu bahwa hal-hal tertentu dapat memperpanjang rentang kesehatan dan umur. Ada data dari analisis retrospektif serta dari model hewan. Kami menggabungkan semua pengetahuan itu dengan studi klinis dunia nyata untuk mengidentifikasi intervensi mana pada manusia yang memperlambat penuaan secara menyeluruh pada biomarker yang sudah dikenal ini," papar Raghav.
Para peneliti menguji empat kategori intervensi, yaitu obat-obatan farmakologis, perubahan gaya hidup, suplemen yang dijual bebas, dan prosedur medis.
Hasilnya, intervensi farmakologis paling efektif dalam menurunkan usia epigenetik. Intervensi ini termasuk metformin dan semaglutide sebagai obat yang digunakan untuk mengendalikan metabolisme dan mengelola berat badan.
Di sisi lain, suplemen yang dijual bebas dan prosedur medis tertentu tidak berpengaruh dalam menurunkan usia epigenetik. Mereka menemukan bahwa intervensi gaya hidup, seperti kombinasi diet sehat (baik itu diet Mediterania, rendah karbohidrat, atau rendah lemak) dan olahraga, secara konsisten menurunkan usia epigenetik.
Bagaimana Mengukur Usia Tubuh Manusia?
Dalam studi ini, peneliti menggunakan 'jam biologis' berupa penanda biologis seperti zat atau karakteristik yang bisa diukur. Contohnya, pada darah ada biomarker berupa kadar kolesterol atau gula darah.
Jam biologi ini digunakan untuk mengukur apakah kesehatan tubuh seseorang sesuai dengan umurnya.
"Jika biomarker baru ini pada akhirnya divalidasi untuk memprediksi kesehatan jangka panjang, para ilmuwan akan dapat mengevaluasi terapi anti-penuaan jauh lebih cepat," kata Raghav Sehgal, penulis utama studi sekaligus peneliti madya di bidang psikiatri di Yale University.
"Alih-alih menunggu puluhan tahun untuk bukti dari uji klinis, kita akan dapat melihat intervensi mana yang efektif dan pada orang mana dalam beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan," lanjutnya.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(faz/faz)
