Suka Baca Buku? Sains Ungkap Manfaatnya untuk Otak dan Kesehatan Mental

ADVERTISEMENT

Suka Baca Buku? Sains Ungkap Manfaatnya untuk Otak dan Kesehatan Mental

Kalila Untsa - detikEdu
Jumat, 18 Sep 2026 20:00 WIB
Sejumlah anak membaca buku di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (3/7/2026). Perpustakaan menjadi salah satu tujuan wisata edukatif selama masa libur sekolah.
Ilustrasi membaca buku Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Tren membaca buku untuk tujuan kesenangan telah menurun selama 20 tahun terakhir. Hal ini barangkali salah satunya disebabkan oleh semakin banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media sosial.

Padahal, membaca buku kesukaan, terlepas dari genrenya, bisa berdampak baik bagi kesehatan otak. Menikmati buku yang digemari secara rutin terkait dengan beberapa hal, di antaranya peningkatan daya ingat, empati, dan kesehatan mental.

"Membaca seperti melakukan olahraga untuk kognitif," ujar Falk Huettig dari Max Planck Institute for Psycholinguistics di Belanda, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut seperti dikutip dari NewScientist.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam penelitian baru-baru ini, Barbara Sahakian dan rekan-rekannya dari University of Cambridge mengumpulkan bukti mengenai efek membaca untuk kesenangan dari lima survei dan delapan studi jangka panjang yang melibatkan puluhan ribu peserta.

ADVERTISEMENT

Penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine dengan judul Reading and associations with brain health, cognition, well-being, and mental health.

Kesehatan Otak

Penelitian ini menemukan bahwa kebiasaan membaca dikaitkan dengan volume grey matter yang lebih besar di otak. Grey matter merupakan bagian otak yang berperan penting dalam berbagai fungsi, termasuk proses berpikir dan mengingat.

Selain itu, membaca juga dikaitkan dengan komunikasi yang lebih kuat antarwilayah otak. Artinya, berbagai bagian otak dapat berkomunikasi dengan lebih baik satu sama lain.

Sahakian berpendapat, kondisi tersebut mungkin menjadi salah satu cara membaca membantu membangun cadangan kognitif atau cognitive reserve. Cadangan kognitif merupakan kemampuan otak untuk menghadapi perubahan akibat penuaan dan beradaptasi ketika terjadi kerusakan pada otak. Kemampuan ini juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang.

Membaca dan Kesehatan Mental

Penelitian ini juga berulang kali menemukan kaitan antara membaca untuk kesenangan dengan kesehatan mental yang lebih baik.

Secara keseluruhan, kebiasaan membaca dikaitkan dengan tingkat stres yang lebih rendah, empati yang lebih tinggi, kesejahteraan yang lebih baik, serta berkurangnya rasa kesepian.

Manfaat tersebut juga terlihat pada anak-anak. Salah satu studi menemukan bahwa anak-anak yang mulai membaca untuk kesenangan sejak usia dini memiliki luas permukaan dan volume otak yang sedikit lebih besar di area yang berkaitan dengan pengendalian emosi.

Barbara Sahakian menyoroti temuan ini karena mengingat adanya bukti kesehatan mental generasi muda saat ini lebih buruk dibandingkan beberapa dekade lalu.

Pada masa kanak-kanak, membaca juga dikaitkan dengan kemampuan perhatian, daya ingat, fungsi eksekutif, dan prestasi akademik yang lebih baik, serta lebih sedikit masalah kesehatan mental.

Sementara itu, pada orang dewasa yang lebih tua, membaca untuk kesenangan dikaitkan dengan risiko penurunan fungsi kognitif yang lebih rendah.

Bagaimana dengan Buku Fiksi?

Salah satu hal yang menarik adalah kemungkinan adanya manfaat khusus dari membaca cerita fiksi.

Ketika membaca fiksi, pembaca diajak mengikuti berbagai karakter dan peristiwa. Proses tersebut memungkinkan otak berlatih membayangkan bagaimana seseorang mungkin merespons berbagai situasi dalam kehidupan. Dengan demikian, membaca cerita dapat membantu melatih kemampuan otak dalam membuat prediksi.

Membaca fiksi juga memungkinkan seseorang merasa terhubung dengan karakter yang ada di dalam cerita. Hubungan tersebut dapat membantu mengurangi perasaan kesepian.

Di sisi lain, buku nonfiksi kemungkinan merangsang bagian otak yang berbeda. Karena itu, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa seseorang harus memilih satu genre tertentu untuk mendapatkan manfaat dari membaca.

Lantas, buku seperti apa yang sebaiknya dibaca?

Menurut Sahakian, hal terpenting adalah membaca sesuatu yang memang dinikmati. Sebab, ketika seseorang menikmati bacaannya, ia cenderung membaca lebih sering dan dalam waktu yang lebih lama.

Dengan kata lain, manfaat membaca untuk kesenangan tidak semata-mata ditentukan oleh genre buku. Kebiasaan membaca yang dilakukan secara rutin dan karena memang disukai justru menjadi bagian penting dari aktivitas tersebut.

Jadi, bagi yang selama ini menganggap membaca hanya sebagai aktivitas untuk mendapatkan informasi, temuan ini menunjukkan bahwa menikmati sebuah buku juga dapat menjadi aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan otak dan mental.

Lantas, bagaimana cara meningkatkan minat membaca supaya kesehatan otak dan mental tetap terjaga?

Membangun Kebiasaan Membaca

Berdasarkan James Clear, penulis buku 'Atomic Habits', ada beberapa hal yang dapat membangun kebiasaan membaca.

1. Tentukan tempat membaca

Misalnya, kamu punya tempat khusus untuk membaca di sofa yang terletak di pojok ruang tamu. Sehingga, otak dapat mengasosiasikan tempat tersebut sebagai tempat membaca.


2. Cari teman dengan minat yang sama

Membicarakan isi buku dengan teman juga dapat membantu. Biasanya, teman akan merekomendasikan buku-buku dengan gaya bahasa atau genre serupa.


3. Buat target kecil

Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Membaca buku tidak harus dimulai dengan jumlah halaman yang banyak atau durasi baca yang sangat cepat. Lebih baik disesuaikan dengan kemampuan, satu halaman satu hari juga tidak menjadi masalah.


4. Baca hal yang menarik

Membaca buku tidak punya aturan, artinya bacalah buku apapun yang menurutmu menarik tanpa memperdulikan genrenya. Terpenting, kamu bisa menikmati buku tersebut saat dibaca.


5. Baca hal yang berguna

Hal ini mungkin menjadi langkah terakhir dalam membangun kebiasaan membaca buku. Buku yang membantu memecahkan masalah nyata akan terasa lebih memuaskan untuk diselesaikan.


Sekarang, apakah kamu tertarik untuk mulai membaca buku?

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Buku Move Forward, Bukan Move On: Rahasia Otak Sembuhkan Luka"
[Gambas:Video 20detik] (pal/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads