Mesin cetak adalah salah satu tonggak dalam sejarah peradaban manusia. Dengan inovasi ini, masyarakat luas akhirnya memiliki akses informasi.
Sebelum mesin cetak diciptakan, hanya segelintir orang yang bisa menikmati bahan bacaan. Menurut laman resmi International Publishers Association, hanya 12% penduduk Eropa yang bisa baca.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya itu, jumlah buku yang tersedia juga sangat terbatas. Buku-buku ini harus digandakan secara tertulis dan disimpan di biara.
Sosok yang berperan dalam revolusi informasi adalah Johann Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg, atau yang lebih dikenal sebagai Johannes Gutenberg. Putra seorang bangsawan dari kota Mainz, Jerman ini membuka jendela dunia pada abad ke-15.
Inovasi Johannes Gutenberg
Gutenberg menciptakan mesin cetak dengan logam yang dapat meleleh dengan mudah dan mendingin dengan cepat untuk membentuk huruf cetak yang awet. Selain itu, mesin ini juga dapat dapat digunakan berulang kali.
Ia menggunakan tinta berbahan dasar minyak yang bisa melekat erat dan berpindah ke perkamen atau kertas. Gutenberg juga menciptakan mesin cetak baru yang diadaptasi dari alat pemeras anggur, minyak, atau kertas, untuk memberikan tekanan yang kuat dan merata pada permukaan cetak.
Mesin cetak Gutenberg dianggap sebagai penemuan yang mengubah sejarah, karena membuat buku dapat diakses secara luas dan memicu terjadinya "revolusi informasi".
Akhir Hidup Gutenberg
Seperti usaha lainnya, proyek Gutenberg tidak luput dari masalah keuangan. Seorang investor kaya raya, Johann Fust, menanamkan modal dalam proyek tersebut.
Namun tak lama ia memenangkan gugatan hukum terhadap Gutenberg. Hal ini memungkinkannya untuk mengklaim penemuan itu sebagai miliknya sendiri serta melanjutkan produksi Alkitab dan mahakarya kedua Gutenberg, yaitu sebuah buku mazmur.
Pada 1465, Uskup Agung Mainz memberikan dana pensiun kepada Gutenberg, berupa jatah tahunan berupa biji-bijian, anggur, dan pakaian. Namun tiga tahun setelahnya, Gutenberg meninggal dunia di kota kelahirannya.
