Venus menjadi salah satu planet yang mirip dengan Bumi secara ukuran, massa, dan struktur. Namun, mengapa Venus tidak memiliki Bulan seperti pada Bumi?
Terdapat beberapa pendapat berbeda dari para ilmuwan. Ada yang mengatakan bahwa Venus tidak pernah mengalami tabrakan yang membentuk sebuah bulan. Ada pula yang berpendapat bahwa bulan milik Venus ditabrak oleh sesuatu yang masif.
Pertanyaan ini akhirnya terjawab melalui studi yang dipublikasikan di 'The Astrophysical Journal' dan ditulis oleh Stephen Kane dkk. Menariknya, tidak satu pun dari teori tersebut cocok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Studi saya menunjukkan bahwa Venus tidak memerlukan bencana untuk mencapai bentuk yang kita lihat saat ini. Ternyata gravitasi planet itu sendiri, dikombinasikan dengan kecepatan putarannya secara alami, menyebabkan bulan runtuh di atasnya," kata Stephen Kane, astrofisikawan University of California, Riverside, sekaligus penulis utama studi, dikutip dari phys.org, Selasa (22/9/2026).
Rotasi Venus 'Menelan' Bulannya
Planet ini membutuhkan 243 hari Bumi untuk menyelesaikan satu rotasi, sangat lambat dibandingkan Bumi yang hanya membutuhkan waktu 24 jam untuk berotasi penuh. Selain itu, arah putarannya juga berlawanan dengan kebanyakan planet.
Kombinasi antara kecepatan rotasi yang lambat dengan gaya gravitasi yang dimiliki planet ini menyebabkan efek yang berbeda dengan hubungan antara Bumi dan Bulan.
Di Bumi, Bulan perlahan menjauh seiring dengan rotasi Bumi yang cepat. Sedangkan di Venus, rotasinya yang lambat membuat bulan yang mengorbit justru tertarik oleh gaya gravitasi planet tersebut. Sehingga lama-kelamaan sang Bulan akan bertabrakan dengan Venus.
Untuk menguji gagasan ini, Kane mengembangkan model komputer berdasarkan fisika tentang bagaimana benda-benda planet berinteraksi melalui gravitasi.
Awalnya, Kane menguji model komputernya menggunakan sistem Bumi dan Bulan yang sudah familiar. Ia kemudian mengubah beberapa variabel seperti kecepatan rotasi Venus dan ukuran Bulan miliknya.
Kedua variabel tersebut divariasikan, contohnya, massa Bulan yang divariasikan oleh Kane berkisar antara setengah hingga 10 kali lipat dari massa Bulan milik Bumi.
Meskipun variasinya sudah begitu banyak, hasilnya akhirnya tetap sama, yaitu bulan akan menabrak Venus. Semakin besar massa bulan yang disimulasikan, semakin cepat pula tabrakan itu terjadi.
Adakah Petunjuk Tambahan?
Sayangnya, penelitian ini tidak bisa membuktikan bahwa Venus benar-benar pernah memiliki sebuah Bulan yang mengorbitnya. Apabila Venus memiliki Bulan sekalipun, Bulan tersebut tidak mungkin eksis selamanya.
Untuk mencari jejaknya pun cukup sulit. Hal ini karena planet kembaran Bumi tersebut sempat mengalami peristiwa pembentukan ulang permukaan planetnya sekitar satu miliar tahun yang lalu. Peristiwa ini menghapus sebagian besar sejarah geologis Venus.
Tidak kehabisan asa, bukti lain mungkin ada di bawah permukaan. Sama seperti Bumi yang memiliki struktur tidak biasa dari sisa-sisa peristiwa tabrakan yang masih di awal sejarah planet ini.
Kane kembali menjelaskan peran bulan di planet lain. Apakah bulan yang besar benar-benar diperlukan untuk menopang kehidupan?
"Menurut saya, keberadaan Bulan memang memberikan manfaat, tetapi tidak diperlukan untuk kelayakan huni. Bulan jelas telah mengubah cara Bumi berevolusi dari waktu ke waktu, tetapi kita belum sepenuhnya memahami seberapa penting peran tersebut," kata Kane.
Studi oleh Kane ini menunjukkan bahwa planet yang mampu membentuk Bulan pun mungkin tidak bisa mempertahankannya. Justru, planet yang berotasi dengan kecepatan rendah berpotensi menghancurkan Bulannya sendiri.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
