Setidaknya 18 spesies penguin diketahui hidup di belahan selatan Bumi. Penguin Gentoo dianggap sebagai salah satu yang mendominasi dari segi jumlah dan persebarannya.
Penguin Gentoo hidup di Kepulauan Kerguelen (Desolation) yang terletak hampir 3.200 kilometer (2.000 mil) dari daratan berpenghuni terdekat.
Baru-baru ini, studi yang dipublikasi di Communications Biology mengungkapkan terdapat penguin spesies baru dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Penguin ini juga diberi nama oleh para peneliti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukti Genetik Spesies Gentoo yang Baru
Semula penguin Gentoo dianggap hanya satu spesies yang sama dan tersebar di belahan Selatan Bumi. Ternyata, penguin ini terdiri dari empat spesies yang berbeda. Salah satunya belum pernah tercatat maupun diakui secara resmi.
Spesies yang baru ini sangat mirip dengan penguin Gentoo lainnya. Bagian bawah tubuhnya berwarna putih dan punggungnya berwarna hitam untuk menghindari predator serta berburu mangsa di laut.
Perbedaannya ada tapi sangat kecil, yaitu pada ukuran tubuh dan suara yang dikeluarkannya. Selain itu, jejak genetiknya juga menunjukkan perbedaan dengan penguin Gentoo lainnya.
Para peneliti menyebut spesies baru ini sebagai spesies kriptik, artinya ia terlihat begitu mirip dengan spesies terkait, Gentoo. Namun, rupanya ada memiliki perbedaan genetik yang signifikan.
Spesies penguin Gentoo tenggara yang baru diakui, Pygoscelis kerguelensis, mungkin menghadapi masa depan yang tidak pasti. Bersama dengan dua spesies lain yang juga baru didefinisikan, penguin ini terancam karena adanya pemanasan global di tempat mereka tinggal.
"Sangat penting bagi lembaga konservasi di semua negara yang terlibat untuk mengenali dan mengambil tindakan yang tepat untuk menyelamatkan ketiga spesies penguin gentoo ini," kata Juliana Vianna, salah satu penulis senior studi tersebut sekaligus profesor ekosistem dan lingkungan di Andrés Bello National University di Santiago, Chile, dikutip dari Science Daily, Selasa (22/9/2026).
Sebenarnya, Ada Berapa Spesies Gentoo?
Para peneliti sebelumnya telah mengusulkan sebanyak enam subspesies penguin gentoo. Namun, tidak ada kesepakatan universal yang terbentuk.
Penelitian terbaru ini mewakili konsensus yang dibangun dari urutan genom dari 64 penguin yang dikumpulkan dari 10 kelompok yang berkembangbiak bersama di berbagai pulau. Penelitian ini juga mencakup hampir seluruh wilayah geografis penguin Gentoo.
Tim peneliti juga membandingkan karakteristik fisik dan perilaku, termasuk warna, suara, jadwal berkembangbiak, pola makan, dan perilaku makan.
"Selama lebih dari 100 tahun, jumlah spesies atau subspesiesnya masih kontroversial. Makalah ini mencoba menjawab pertanyaan itu menggunakan pendekatan integratif mutakhir," kata Rauri Bowie, kurator di UC Berkeley's Museum of Vertebrate Zoology.
Pada studi 2019 lalu, ditemukan bahwa penguin Emperor dan King terpisah dari garis keturunannya di Australia dan Selandia Baru sekitar 22 juta tahun yang lalu. Penguin Emperor dikaitkan dengan Antarktika dan penguin Raja dengan wilayah sub-Antarktika.
Hingga akhirnya, 12 juta tahun lalu, kelompok penguin lainnya menyebar ke seluruh wilayah sub-Antartika dan mengkolonisasi pulau-pulau dan kepulauan terpencil hingga Afrika dan Amerika Selatan.
Fleksibilitas Makanan Gentoo
Satu keunggulan penguin Gentoo adalah mereka pemakan yang fleksibel. Artinya, mereka tidak bergantung pada satu jenis mangsa, melainkan bisa mengonsumsi hampir semua hal yang dapat mereka tangkap di bawah air.
Beberapa hewan yang menjadi mangsanya adalah ikan, krustasea krill, cumi-cumi, dan sotong. Karena ini pula, mereka tidak perlu jauh-jauh untuk mencari makanan.
Kemampuan istimewa penguin Gentoo ini membantu dalam proses terbentuknya spesies berbeda yang dikenal saat ini.
Seiring berjalannya waktu, populasi di pulau-pulau terpencil semakin beradaptasi dengan lingkungan lokal mereka. Perbedaan perilaku dan ekologis tersebut secara bertahap diperkuat oleh seleksi alam di seluruh genom mereka.
Salah satunya di North of the Polar Front (sebelah utara garis depan kutub), di mana perairannya lebih hangat dan asin, hidup garis keturunan timur yaitu Pygoscelis taeniata. Sedangkan garis keturunan utara Pygoscelis papua memiliki populasi terbatas di Kepulauan Falkland/Malvinas dan di Martillo, Amerika Selatan.
Garis keturunan tenggara yang baru dideskripsikan, Pygoscelis kerguelensis, hidup di dekat Garis Depan Kutub. Populasi yang relatif kecil ini berevolusi di Pulau Kerguelen dan mungkin di dekat Pulau Heard.
Lebih jauh ke selatan terdapat garis keturunan yang paling banyak jumlahnya, Pygoscelis ellsworthi. Spesies ini mendiami Semenanjung Antartika, pesisir Antartika, dan Pulau Georgia Selatan.
Genetik Penguin Beradaptasi
Studi ini menganalisis genomik penguin yang jauh lebih luas dan tim peneliti juga menganalisis ribuan perbedaan genetik yang disebut polimorfisme nukleotida tunggal (single nucleotide polymorphisms).
Data dari tim peneliti ini mengungkapkan bagaimana setiap spesies gentoo beradaptasi dengan lingkungan lokalnya.
Pada penguin Gentoo selatan di Antartika, ditemukan lebih banyak gen yang terkait dengan produksi panas, penyimpanan lemak dan lipid, serta persepsi cahaya. Sebaliknya, penguin gentoo timur memiliki lebih banyak gen yang terkait dengan metabolisme karbohidrat yang efisien dan kemampuan menyelam yang lebih kuat.
Di sisi lain, penguin Gentoo utara di Amerika Selatan menunjukkan pola yang berbeda. Genomnya diperkaya dengan gen yang terlibat dalam pencernaan, kontraksi jantung, dan eksitasi otot. Para peneliti mengatakan perubahan ini dapat mendukung aktivitas fisik berkelanjutan yang diperlukan untuk mencari makan di bawah air dalam waktu lama.
Habitat Penguin Gentoo
Penelitian ini juga menggunakan model iklim untuk memperkirakan di mana habitat yang sesuai untuk penguin gentoo.
Dalam skenario perubahan iklim moderat, spesies sub-Antartika yang hidup di pulau-pulau dapat kehilangan habitat yang sesuai di semua pulau tempat mereka tinggal saat ini.
Nasib penguin gentoo Antartika mungkin akan sangat berbeda. Jangkauan habitatnya diproyeksikan akan meluas lebih jauh ke benua tersebut seiring perubahan kondisi.
Sementara itu, populasi penguin kaisar, penguin adélie, dan penguin chinstrap diperkirakan akan menurun seiring hilangnya es laut dan populasi krill yang tumbuh di bawah es akan terpengaruh.
"Dalam hal perubahan iklim, spesies pulau yang memiliki ukuran populasi sangat kecil dapat dibandingkan dengan penguin gentoo sub-Antartika. Galapagos dan spesies penguin pulau lainnya, karena mereka endemik di pulau-pulau ini, tidak akan menemukan tempat untuk pergi setelah perubahan lingkungan mereka. Pulau-pulau itu sangat terisolasi, dan penguin-penguin ini tidak dapat beradaptasi dengan mudah untuk mengkolonisasi wilayah lain," kata Juliana Vianna.
Studi ini membuktikan bahwa analisis genom penguin dapat sangat bermanfaat, mulai dari melacak nenek moyang penguin, hingga memprediksi habitat yang sesuai untuk penguin dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun yang akan datang.
Hasil studi dipublikasi dengan judul " Integrative evidence reveals adaptive divergence and speciation in gentoo penguins", 23 April 2026.
