Sejumlah video viral menunjukkan guru-guru di Amerika Serikat mengeluhkan murid-muridnya yang tidak bisa membaca dan menulis. Murid-murid tersebut berasal dari jenjang sekolah dasar hingga menengah.
"Anak-anak sekolah dasar tidak bisa membaca," ujar salah satu guru, seperti diunggah oleh CNN Amerika, dikutip Senin (14/9/2026).
"Saya mengajar kelas 7. Mereka masih memiliki kemampuan kelas 4," kata guru lainnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemarin saya menyadari, bahwa murid-murid saya tidak bisa membaca," kata guru lain lagi.
Saat ini, remaja berusia 15 tahun di AS menunjukkan tren kemampuan membaca yang menurun sejak 2012. Ada banyak hal yang menjadi distraksi siswa-siswi di AS, mulai dari sosial media, AI, dan smarthphone.
"Skor membaca untuk kelas 4, kelas 8 telah mengalami penurunan hingga ke level terendah selama bertahun-tahun. Ternyata ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Skor membaca menurun di banyak negara industri," ungkap CNN.
Mengapa Siswa AS Banyak yang Tidak Bisa Membaca?
Menurut Direktur Eksekutif The Meadows Center for Preventing Educational Risk, Sharon Vaughn, faktornya tidak hanya karena pandemi yang sempat terjadi selama beberapa tahun. Namun, krisis kemampuan membaca siswa di AS juga diperparah dengan kesenjangan pengetahuan.
"Guru harus tahu ilmu dari membaca, jadi mereka dapat menerapkannya. Namun, masalahnya tidak terjadi di setiap tempat. Hal ini tidak terjadi di setiap sekolah, tidak terjadi di setiap wilayah," jelasnya.
Dikutip dari Yale Daily News, penelitian terbaru memang menunjukkan krisis literasi yang semakin meningkat di AS. Studi memperlihatkan penurunan kemampuan membaca di kalangan siswa kelas tiga. Padahal, kelas tiga merupakan salah satu tahun terpenting dalam pendidikan siswa AS.
Sebanyak 40% siswa kelas empat memiliki kemampuan membaca di bawah tingkat dasar. Artinya, mereka kekurangan keterampilan untuk mengidentifikasi ide utama dan membuat kesimpulan sederhana.
Hal ini menimbulkan kekhawatiran, mengingat kelas empat merupakan transisi kritis dalam pendidikan siswa. Pada saat ini, siswa AS mengalami peralihan dari membaca untuk belajar menjadi belajar membaca, menggunakan instruksi membaca untuk mempelajari berbagai mata pelajaran akademik.
Kesulitan Membaca Bisa Bikin Siswa Miskin Saat Dewasa
Sayangnya, konsekuensi dari kegagalan kemampuan membaca sebelum masa transisi tersebut sangat ekstrem. Siswa yang tidak dapat membaca dengan mahir pada kelas tiga, empat kali lebih mungkin putus sekolah menengah atas daripada mereka yang punya kemampuan literasi baik.
Dan bukan hanya itu, pembaca yang baik terus meningkat, sedangkan pembaca yang buruk terus berjuang untuk bisa membaca. Hal ini semakin memperluas kesenjangan prestasi seiring bertambahnya usia siswa.
Dampak ini juga meluas melampaui ruang kelas. Siswa-siswi yang kesulitan dalam hal literasi, kelak lebih cenderung mengalami kemiskinan dan pengangguran, serta memiliki tingkat partisipasi lebih rendah dalam pemilihan negara bagian dan lokal di kemudian hari. Belum lagi, statistik penghuni penjara sangat terkait dengan level pendidikan dini. Sebanyak 70% narapidana di penjara Amerika tidak memiliki kemampuan membaca di atas tingkat kelas empat.
Dalam beberapa tahun terakhir, penurunan kemampuan membaca dikaitkan dengan pandemi. Meski demikian, sebuah studi oleh para peneliti dari Harvard, Stanford, dan Dartmouth menemukan penurunan tersebut bukan hanya akibat dari karantina COVID-19, tetapi lebih merupakan produk dari tren yang lebih luas.
Para peneliti menyebutnya sebagai 'resesi pembelajaran nasional' yang ditandai dengan frekuensi ketidakhadiran siswa yang terbilang parah, kekurangan di wilayah berpenghasilan menengah, dan ketergantungan yang besar pada teknologi di ruang kelas.
