Gunung Krakatau dan Anak Krakatau, Ini Perbedaan Keduanya

ADVERTISEMENT

Gunung Krakatau dan Anak Krakatau, Ini Perbedaan Keduanya

Trisna Wulandari - detikEdu
Sabtu, 12 Sep 2026 09:00 WIB
Model elevasi digital Kaldera 1883, termasuk (searah jarum jam) Pulau Sertung, Anak Krakatau, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata.
Model elevasi digital kaldera Krakatau 1883, termasuk (searah jarum jam) Pulau Sertung, Anak Krakatau, Pulau Panjang, dan Pulau Rakata. Foto: R. Omira & I. Ramalho via Pure and Applied Geophysics Article (2020)
Jakarta -

Erupsi dan letusan Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 turut dilaporkan media asing berbagai negara. Sementara itu, konten kreator luar negeri merilis ulasan tentang Gunung Krakatau dan letusan dahsyatnya pada 1883.

Perlu diketahui, Gunung Krakatau dan Gunung Anak Krakatau (GAK) merupakan gunung yang berbeda. Namun, sejarah keduanya dapat ditarik dari Gunung Krakatau Purba di Selat Sunda. Lantas, apa saja perbedaannya?

Perbedaan Gunung Krakatau dan Anak Krakatau

Sejarah Pembentukan Gunung

Prof Dr Ir Dian Fiantis, MSc dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas (Unand), Krakatau Purba diperkirakan mengalami erupsi besar sekitar abad ke-5-6 M.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kaldera atau cekungan di puncak Krakatau Purba pun runtuh. Sedangkan bagian tubuh gunung yang terisa membentuk Pulau Sertung dan Pulau Panjang.

Gunung Krakatau kemudian terbentuk dari aktivitas vulkanik di sana. Ada tiga puncak Krakatau yang terbentuk, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

ADVERTISEMENT

Namun, letusan Krakatau 1883 yang dahsyat menghancurkan puncak Danan dan Perbuwatan. Rakata tersisa sebagian.

Sedangkan Gunung Anak Krakatau (GAK) terbentuk di tepi kaldera 1883 tersebut pada kedalaman 200-300 meter. GAK pertama kali mulai meletus pada 1927 dan muncul di atas permukaan laut pada tahun 1929, dikutip dari International Tsunami Information Center (ITIC), Komisi Oseanografi Antarpemerintah (IOC)-Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).

Aktivitas Gunung

Gunung Krakatau yang meletus pada 1883 melontarkan sekitar 12-20 km kubik material, dengan suara meletus yang terdengar sampai ke Pulau Rodriguez di Mauritius, Samudra Hindia.

Sedangkan Gunung Anak Krakatau kembali memulai periode erupsi Strombolian yang sangat aktif sejak 2018. Jenis erupsi ini merupakan ciri khas Anak Krakatau sejak muncul sekitar 90 tahun lalu.

Berbeda dengan erupsi Krakatau, jenis erupsi Strombolian di Anak Krakatau ditandai dengan magma yang relatif encer dan pelepasan gas terputus-putus, dikutip dari laman Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dijelaskan ITIC, periode Strombolian biasanya berlangsung beberapa bulan. Pada periode ini, sebagian besar lava, bom magma, tephra (pecahan batuan vulkanik), abu, dan gas vulkanik dilepaskan.

Sedangkan pada September 2026, masih tercatat 14 kali erupsi Strombolian hingga Jumat (11/9) pukul 06.00 WIB setelah periode erupsi menerus berakhir pada Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB, seperti dilaporkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Catatan Tsunami

Arus piroklastik atau longsoran gas panas, abu, dan pecahan lava akibat letusan Gunung Krakatau 1883 bergerak cepat ke laut. Hal ini mendorong volume air hingga terjadi tsunami setinggi 40 meter. Sekitar 38.000 orang menjadi korban jiwa.

Sebagai perbandingan, tsunami Aceh 26 Desember 2024 setinggi 20 meter, dikutip dari laman Sains Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA).

Sedangkan tsunami vulkanik 22 Desember 2018 disebabkan oleh keruntuhan badan Gunung Anak Krakatau bagian barat. Akibatnya, muncul ombak setinggi 80 m di sekitar Gunung Anak Krakatau.

Pada pesisir Banten dan Lampung, ketinggian ombak mencapai 13 m. Sebanyak 437 orang menjadi korban jiwa, 14.059 orang luka-luka, dan 33.719 orang kehilangan tempat tinggal.

Keruntuhan badan Anak Krakatau menyebabkan Lebih dari 50 persen massa Pulau Krakatau hilang, seperti dijelaskan dosen Program Studi Teknik Geologi ITB Dr Mirzam Abdurrahman dalam laman kampus. Bukan karena arus piroklastik, Mirzam menilai peristiwa tersebut merupakan hasil destabilitasi sejak lama.

"Lokasi dan jangkauan dari keruntuhan tahun 2018 mungkin juga ditimbulkan oleh keadaan struktural dari margin kaldera, diskontinuitas struktural internal, dan lokasi dari ketidakstabilan sebelumnya," ucapnya.

Berdasarkan catatan sonar laut, keruntuhan Anak Krakatau saat itu juga karena ketidakstabilan secara gravitasi.

"Sonar laut juga menunjukkan jika gunung Anak Krakatau berdiri melebar di atas tubuh dinding kaldera yang terbentuk pada 1883, kemungkinan mengakibatkan ketidakstabilan secara gravitasi," kata Mirzam.



(twu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads