Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Cemari Laut? Pakar Kelautan IPB Bilang Begini

ADVERTISEMENT

Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Cemari Laut? Pakar Kelautan IPB Bilang Begini

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 10 Sep 2026 08:30 WIB
Erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: PVMBG/Handout via REUTERS
Foto: Erupsi Gunung Anak Krakatau. Foto: PVMBG/Handout via REUTERS
Jakarta -

Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) 9 September 2026 pukul 07.00 WIB terpantau bergerak ke arah barat laut. Sebarannya mencakup sebagian Teluk Lampung.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pembaruan tersebut berdasarkan analisis citra RGB Himawari-9. Klaster sebaran abu vulkanik mencapai 7.000 kaki atau sekitar 2,1 km.

Di darat, abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan mata, kulit, hingga sistem pernapasan. Di DKI Jakarta, BMKG menyatakan, abu vulkanik juga membaur dengan polusi atau pencemaran udara perkotaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apakah abu vulkanik Anak Krakatau mencemari perairan seperti di laut?

ADVERTISEMENT

Apakah Abu Vulkanik Anak Krakatau Cemari Laut?

Merespons pertanyaan tersebut, pakar oseanografi IPB University, Prof Agus Atmadippoera mengatakan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun bagi ekosistem laut.

Menurut Agus, dampak abu vulkanik GAK sangat bergantung pada intensitas dan jumlah material vulkanik yang masuk ke laut. Material abu vulkanik yang jatuh ke laut juga perlu dilihat berdasarkan konsentrasi, sebaran, serta proses fisik yang terjadi di perairan.

"Abu vulkanik yang jatuh ke perairan laut tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun bagi ekosistem. Itu bergantung pada intensitas dan besarannya," kata Agus dalam keterangan resmi IPB, dikutip Rabu (9/9/2026).

Dampak Risiko Abu Vulkanik bagi Makhluk Laut

Agus mengatakan, jika material vulkanik masuk ke perairan dalam jumlah besar, maka dampak ekologis bisa terjadi. Ia menjelaskan, banyaknya abu vulkanik di perairan bisa meningkatkan kekeruhan air.

Akibatnya, cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam kolom air jadi berkurang. Kondisi ini bisa mengganggu proses fotosintesis organisme laut.

Faktor Abu Vulkanik Menyebar-Mengencer di Laut

Di perairan, material abu vulkanik dapat menyebar dan mengencer, sehingga dampaknya pada ekosistem laut juga berubah. Agus menjelaskan, penyebaran dan pengenceran abu vulkanik tersebut juga dipengaruhi kondisi fisik perairan, seperti adanya gelombang, arus, dan pasang surut, yang membantu abu vulkanik teraduk di laut.

Guru besar IPB yang ikut terlibat dalam penelitian bawah laut kerja sama Indonesia dan China, Cinodex ini mengatakan, dasar laut di sekitar pulau-pulau yang dekat dengan kawah Anak Krakatau cenderung tertutup material kasar, seperti pasir, kerikil, dan sisa longsoran material vulkanik. Karakter ekosistem tersebut relatif lebih sederhana dan ekstrem.

Sementara itu, wilayah yang lebih jauh dari kawah Anak Krakatau, terutama di bagian utara perairan, memiliki lapisan sedimen yang lebih banyak didominasi lumpur tebal. Kondisi ini justru area ini dihuni makhluk hidup dasar perairan atau organisme bentik yang relatif lebih tinggi.

Manfaat Abu Vulkanik di Laut

Prof Setyo Budi Susilo dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB University mengatakan, abu vulkanik halus yang terbawa ke perairan tidak sepenuhnya memberikan dampak lingkungan yang buruk karena memiliki manfaat ekologis.

"Material tersebut mengandung sejumlah mikronutrien, termasuk silika dan besi," kata Setyo.

Ia menjelaskan, unsur-unsur pembentuk abu vulkanik tersebut dapat memperkaya ekosistem laut dan mendukung proses fotosintesis setelah mengalami pengadukan oleh arus, gelombang, dan pasang surut.

"Dengan demikian, abu vulkanik tidak selalu menjadi ancaman bagi ekosistem laut," ucapnya.

Menurut Setyo, ikan juga secara alami bergerak menuju perairan yang lebih aman saat terjadi semburan dan hujan abu vulkanik. Ia menjelaskan, ikan akan menyebar karena pengaruh perubahan kondisi lingkungan, termasuk peningkatan suhu dan kekeruhan perairan.

"Ikan dapat bergerak menuju wilayah yang lebih jauh dari sumber erupsi, termasuk ke arah perairan Samudera Hindia maupun Laut Jawa, bergantung pada kondisi oseanografi dan lingkungan saat erupsi berlangsung," terangnya.

Teknologi Pemetaan Distribusi Abu Vulkanik

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Henry Munandar Manik mengatakan, saat ini ada teknologi akustik yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi sumber daya dan lingkungan lautan, termasuk untuk memetakan distribusi abu vulkanik secara vertikal dan horizontal di dalam kolom air.

Teknologi tersebut juga dapat difungsikan untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan material vulkanik sampai mengendap (settling time). Penggunanya juga bisa memantau kondisi ekosistem laut setelah erupsi.

Dengan menggunakan teknologi akustik tersebut, Henry berharap hasil riset kemudian bisa memberikan gambaran ilmiah sebaran material vulkanik dan dampaknya terhadap ekosistem dan sumber daya laut di sekitar kawasan Anak Krakatau.

"Pemantauan juga akan mencakup tutupan terumbu karang dan lamun serta potensi bioakumulasi material tertentu pada organisme laut," ucapnya.



(twu/pal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads