×
Ad

20 Tahun Pluto Hilang dari Daftar Planet, Para Ilmuwan Masih Terbelah

Kalila Untsa - detikEdu
Minggu, 06 Sep 2026 07:01 WIB
Pluto yang kehilangan status sebagai planet sejak 2006 Foto: NASA
Jakarta -

Bulan Agustus 2006, status Pluto sebagai sebuah planet di Tata Surya dicabut. Keputusan itu diambil melalui pemungutan suara International Astronomical Union (IAU) yang berlangsung di Praha, Ceko. Sejak saat itu, Pluto dikategorikan sebagai planet kerdil.

Namun, tidak semua pihak setuju dengan keputusan tersebut. Pihak yang menentang hingga saat ini masih memperjuangkan mengembalikan status Pluto sebagai sebuah planet.

Gerakan untuk mengembalikan status Pluto sebagai planet diwarnai advokasi, perdebatan, petisi hingga sesekali aksi protes. Aksi-aksi ini terutama muncul di Amerika Serikat.

Direktur Stephen W Hawking Centre for Microgravity Research and Education di University of Central Florida, Philip Metzger, mengatakan persoalan Pluto dianggap penting di AS karena benda langit tersebut ditemukan oleh astronom Amerika.

"Ini lebih menjadi persoalan di Amerika Serikat. Pluto-lah yang kami temukan," ujarnya seperti dikutip dari The Guardian. Metzger mengakui keputusan tersebut sempat melukai kebanggaan sebagian masyarakat AS

Bagaimana Pluto Kehilangan Status Planet?

Pemicu utama pemungutan suara IAU pada 2006 adalah penemuan benda langit jauh yang kemudian diberi nama Eris. Objek ini berada di Sabuk Kuiper, wilayah di luar orbit Neptunus yang juga menjadi tempat Pluto berada. Ukurannya kurang lebih sebanding dengan Pluto, meski volumenya lebih kecil dan massanya lebih besar.

Penemuan Eris memunculkan persoalan baru. Jika Pluto dianggap sebagai planet, maka Eris semestinya juga masuk kategori yang sama. Namun jika Eris bukan planet, muncul pertanyaan mengapa Pluto harus tetap disebut planet.

Selain itu, Eris ternyata juga bukan satu-satunya benda langit baru di kawasan tersebut. Pada periode yang sama ditemukan sejumlah objek lain seperti Haumea, Makemake, dan Sedna.

Dengan semakin banyaknya objek serupa yang ditemukan, para astronom menghadapi pertanyaan baru. Apakah semua benda tersebut juga harus disebut planet? Jika iya, jumlah planet di Tata Surya berpotensi mencapai ratusan.

Kondisi itu mendorong IAU mencari definisi yang lebih jelas mengenai planet.

IAU kemudian menetapkan tiga kriteria untuk sebuah benda langit dapat disebut planet. Pertama, benda tersebut harus mengorbit Matahari. Kedua, massanya harus cukup besar sehingga gravitasinya mampu membuat bentuknya menjadi hampir bulat.

Kriteria terakhir, benda tersebut harus telah "membersihkan lingkungan orbitnya", artinya planet tersebut harus mendominasi secara gravitasi area tempat ia mengorbit.

Dengan kriteria tersebut, tidak ada benda langit yang diketahui berada di luar Neptunus yang memenuhi seluruh persyaratan. Pluto pun akhirnya kehilangan status sebagai planet.

Perubahan status Pluto kemudian memperlebar perbedaan pandangan di kalangan ilmuwan. Setidaknya ada dua pendekatan yang berseberangan, yakni kubu geofisika dan dinamis.

Kelompok geofisika berpendapat karakteristik fisik sebuah benda langit seharusnya menjadi pertimbangan utama dalam menentukan apakah benda tersebut merupakan planet.

Sementara kubu dinamis lebih menitikberatkan pada posisi sebuah benda, lingkungan orbitnya, serta bagaimana benda tersebut bergerak di dalam sistem planet.




(pal/pal)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork