Efek pemanasan global semakin terlihat, meskipun kenaikan suhu bumi terkesan kecil. Namun, kenaikan suhu yang berlangsung selama bertahun-tahun ini telah menyebabkan kerusakan alam yang besar. Salah satu peristiwa yang paling baru adalah terjadinya banjir bandang di perbatasan Nepal dan Tibet.
Kabar dari wilayah kutub juga kerap menjadi perhatian dalam hal pemanasan global karena dampaknya bagai reaksi berantai. Mencairnya es di kutub dapat menambah volume dan permukaan laut. Laut kemudian akan memiliki suhu yang lebih hangat sehingga ekosistem akan terpengaruh.
Salah satu petunjuk adanya perubahan di wilayah Arktik misalnya, adalah narwhal atau yang juga dikenal paus bertanduk alias 'Unicorn Laut' yang dapat berenang hingga kedalaman 1.500 meter di bawah permukaan laut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Cerita Narwhal Membantu Peneliti
Para peneliti dalam studi berjudul "Narwhals document atlantification of East Greenland", memasang sensor pada enam ekor paus bertanduk di wilayah Scoresby Sound. Sensor yang dipasang dapat mengukur suhu, salinitas, hingga kedalaman laut. Di wilayah ini pula terdapat sistem fjord atau teluk gletser paling besar di dunia, terletak di pesisir timur Greenland.
Narwhal yang bergerak ke seluruh penjuru lautan ini kemudian dimanfaatkan untuk mengambil data dari pergerakan alaminya. Para peneliti di University of Copenhagen, Greenland Institute of Natural Resources, dan sejumlah lembaga lainnya mengklaim bahwa data yang dikumpulkan dari paus ini sulit bahkan mustahil diperoleh menggunakan alat buatan manusia.
"Narwhal telah berada di bagian-bagian fjord di mana sangat sedikit pengukuran yang pernah dilakukan sebelumnya. Dan di sana, 300 kilometer dari pantai, kami menemukan jejak air Atlantik. Ini adalah hal yang benar-benar baru yang dapat kami tunjukkan," kata Mads Peter Heide-Jørgensen, Profesor di Institut Sumber Daya Alam Greenland.
Berdasarkan definisi kamus Cambridge, fjord adalah jalur laut yang panjang di antara perbukitan curam, terutama ditemukan di Norwegia. Wilayah fjord yang diteliti ini telah lama menjadi salah satu titik buta pada peta oseanografi, padahal kapal penelitian sering melalui lautan ini namun selalu menemui kebuntuan dan terpaksa harus putar balik karena tidak dapat mengambil data apapun.
Salah satu data awal yang didapat dari pergerakan alami narwhal ini, bahwa air di sistem fjord merupakan campuran air kutub (polar water) yang dingin berasal dari Arktik dan air menengah Atlantik (atlantic intermediate water) yang lebih hangat serta lebih asin dari Samudera Atlantik.
Air dari Samudera Atlantik yang Hangat
Selama beberapa dekade terakhir, peneliti dari berbagai penjuru berusaha mendokumentasikan perubahan kekuatan dan luas lapisan es di Greenland Timur yang menurun secara signifikan.
Pada studi yang sama, peneliti menemukan bahwa gletser lebih cepat mencair akibat adanya lebih banyak air menengah Atlantik (atlantic intermediate water) di sistem fjord dari kombinasi data yang diperoleh dari narwhal dan data oseanografi historis dari World Ocean Database (WOD).
Air menengah atlantik memang telah lama berada di pesisir Greenland Timur, narwhal menemukan jejaknya sekitar 300 kilometer dari pantai. Di mana, hal ini mengungkap bahwa air menengah Atlantik ternyata bisa masuk jauh ke dalam fjord.
Selain itu, diketahui pula terdapat perubahan pada susunan air di fjord yaitu adanya lapisan air menengah Atlantik yang hangat semakin tebal, sedangkan lapisan air kutub yang dingin semakin tipis di bagian atasnya.
Hal ini dapat terlihat dari meningkatnya suhu air laut sebanyak 0,047°C per tahun antara 1960 dan 2021. Meski terlihat angka yang sangat kecil, apabila diakumulasi selama beberapa dekade maka kenaikannya tampak signifikan.
Baca juga: Mirip Manusia, Paus Juga Mengalami Menopause |
Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.
