Musim kemarau tengah terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut ada sebanyak 73,8% wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau.
Namun, hal menarik justru terjadi di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor. Bukannya hangat, tetapi kondisi Puncak Bogor justru terasa dingin pada sore hingga malam hari.
Mengapa kondisi tersebut berbanding terbalik dengan cuaca yang tengah terjadi?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengaruh Massa Udara dari Australia
Pakar iklim dari Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr Givo Alsepa menjelaskan mengapa hal tersebut terjadi. Menurutnya, ada faktor monsun Australia yang berpengaruh.
"Udara dingin yang dirasakan di Puncak pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat dipengaruhi masuknya massa udara dari Australia. Massa udara tersebut umumnya memiliki karakter relatif kering dan lebih dingin ketika bergerak melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia," ujarnya dikutip dari laman IPB, Sabtu (22/8/2026).
Walau demikian, bukan berarti udara dari Australia langsung membawa suhu dingin ke Bogor. Fenomena tersebut merupakan hasil dari sejumlah proses atmosfer yang berlangsung secara bersamaan.
"Monsun Australia berperan dalam pembentukan kondisi musim kemarau di Indonesia. Pada periode tersebut, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia. Perbedaan tekanan ini menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia," bebernya.
Monsun ini akan tetap aktif hingga akhir tahun. Sementara itu, BMKG memprediksi musim kemarau berlangsung hingga September 2026.
Kondisi Udara yang Kering
Selain monsun Australia, dinginnya Puncak Bogor juga bisa dipengaruhi karena kondisi udara sekitar yang kering dan langit cerah. Dengan begitu, permukaan bumi cenderung melepaskan panas.
"Udara yang lebih kering dan minim tutupan awan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak radiasi matahari pada siang hari sehingga mengalami pemanasan cukup tinggi. Setelah matahari terbenam, permukaan bumi kemudian melepaskan panas dalam bentuk radiasi gelombang panjang ke atmosfer dan angkasa," paparnya.
Langit cerah membuat awan sedikit. Uap yang rendah membuat pelepasan panas berlangsung lebih efektif dan tidak banyak menghambat radiasi.
"Akibatnya, permukaan Bumi kehilangan panas dengan cepat. Proses ini disebut pendinginan radiatif," jelas Sekretaris Program Studi Klimatologi Terapan IPB University ini.
Terutama pada menjelang sore atau saat terbenam matahari. Suhu udara menjadi lebih cepat turun.
"Jadi, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam," katanya.
