Wow! Ternyata Manusia Bisa Belajar Ambil Keputusan dari Kecoak

ADVERTISEMENT

Wow! Ternyata Manusia Bisa Belajar Ambil Keputusan dari Kecoak

Kalila Untsa - detikEdu
Kamis, 13 Agu 2026 08:01 WIB
Ilustrasi kecoak
Ilustrasi kecoak Foto: Thinkstock
Jakarta -

Manusia sering menganggap dirinya sebagai makhluk hidup yang paling berakal evolusi karena memiliki kemampuan berpikir yang kompleks. Namun, ada pepatah bijak yang mengatakan "belajarlah pada semut".

Karena ternyata, kemampuan manusia tidak selalu membuat kita mengambil keputusan yang tepat. Dalam banyak situasi, manusia justru bisa keliru menentukan pilihan.

Menariknya, sejumlah pelajaran mengenai cara mengambil keputusan justru dapat ditemukan pada serangga tak hanya semut tapi juga lebah madu dan bahkan kecoak sekalipun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski memiliki otak berukuran sangat kecil, serangga ternyata mampu menyelesaikan persoalan secara kolektif dengan mekanisme yang efisien.

ADVERTISEMENT

Bahkan, perilaku mereka telah menginspirasi pengembangan algoritma yang digunakan dalam berbagai bidang, mulai dari transportasi hingga telekomunikasi.

1. Belajar cari pilihan paling efisien dari semut

Menentukan cara terbaik untuk menyelesaikan sesuatu bukan perkara mudah, terutama ketika kita dihadapkan pada terlalu banyak pilihan. Kondisi ini dikenal sebagai choice overload atau kelebihan pilihan.

Semut juga menghadapi persoalan serupa ketika koloninya harus menentukan lokasi terbaik untuk mencari makanan. Namun, berbagai spesies semut telah mengembangkan mekanisme yang cukup efektif.

Serangga ini merupakan pemecah masalah yang baik, salah satunya saat menghadapi dilema untuk menghasilkan keputusan kelompok untuk tempat makan selanjutnya. Trik yang digunakan cerdas dan memang sudah umum digunakan oleh berbagai spesies berbeda.

Langkah pertama yang dilakukan oleh kelompok semut ini adalah mengirim beberapa semut untuk berkelana, meninggalkan kenyamanan sarang mereka, untuk mencari tempat yang terdekat dan terbaik untuk mendapatkan suplai makanan yang melimpah.

Semut-semut ini pergi berpencar dengan acak untuk menjaga seluruh pilihan tetap terbuka dan menjelajahi seluruh jalur yang ada. Selama menyusuri jalanan, semut-semut ini meninggalkan jejak feromon yang samar di tanah agar nantinya semut lain dapat mengikuti jalur tersebut.

Feromon ini akan menguap seiring waktu dan semut akan mengikuti jejak yang cenderung lebih kuat.

Semut yang menemukan tempat makanan melimpah dan paling dekat akan kembali lebih cepat dengan makanan yang didapat dari tempat tersebut. Selanjutnya mereka akan meneruskan informasi tersebut secepat mungkin kepada seluruh kelompok, yang artinya akan lebih banyak semut yang bolak-balik di sepanjang jalur tersebut seiring berjalannya waktu.

Hal ini terkait pula dengan feromon yang ditinggalkan semut-semut tersebut semakin banyak hingga jejak tersebut berbau lebih kuat.

Pada akhirnya, para semut ini akan menemukan jalur yang paling efisien, sementara bau feromon di jalur lainnya akan memudar seiring berjalannya waktu. Uniknya, semut-semut ini tidak mengetahui jalur tersebut miliknya karena bau feromon yang telah bercampur dan menguat sehingga semut-semut lain hanya mengikuti jalur yang bau feromonnya paling kuat.

Dikutip dari BBC, dengan cara tersebut, koloni akhirnya dapat menemukan rute paling efisien tanpa ada satu pun semut yang secara khusus mengetahui bahwa dirinya sedang menentukan jalur terbaik.

Marco Dorigo, co-director laboratorium kecerdasan buatan di UniversitΓ© Libre de Bruxelles, Belgia, mengatakan mekanisme tersebut menunjukkan pengambilan keputusan kolektif yang efisien dapat muncul tanpa kendali terpusat.

Semut sebagai individu hanya memiliki kemampuan terbatas dan informasi lokal. Namun, melalui interaksi sederhana, mereka mampu menyelesaikan persoalan koordinasi yang kompleks.

Mekanisme tersebut kemudian menginspirasi ant colony optimisation, sebuah metode algoritmik yang digunakan manusia untuk menyelesaikan berbagai persoalan penjadwalan, telekomunikasi, transportasi, hingga logistik.

Algoritma yang terinspirasi dari perilaku semut bahkan telah digunakan untuk membantu perencanaan jaringan kereta api. Dorigo juga mengembangkan AntNET, sebuah sistem yang dirancang untuk mengoptimalkan pergerakan informasi dalam jaringan komunikasi.


2. Dari lebah madu bisa belajar ambil keputusan secara demokratis

Lebah madu memiliki mekanisme yang hampir serupa dengan semut ketika harus menentukan lokasi sarang baru.

Sejumlah lebah pencari atau scout meninggalkan sarang untuk mencari berbagai lokasi potensial. Namun, berbeda dari semut yang meninggalkan jejak feromon, lebah kembali ke sarang dan menyampaikan informasi secara langsung kepada anggota koloninya.

Caranya unik dengn tarian goyang atau waggle dance. Lebah menggoyangkan tubuh secara ritmis untuk memberi tahu lebah lain mengenai kualitas lokasi yang ditemukan. Mereka menyampaikan informasi seperti tingkat keamanan, jarak, ukuran, hingga posisi lokasi tersebut.

Semakin baik sebuah lokasi, semakin lama dan kuat tarian yang dilakukan. Tarian tersebut juga memberikan informasi mengenai arah dan jarak yang harus ditempuh lebah lain untuk mencapai lokasi yang dimaksud.

Lebah pencari berikutnya kemudian dikirim untuk memeriksa dan memverifikasi informasi tersebut. Ketika kembali ke sarang, mereka kembali memberikan sinyal melalui tarian. Mereka bisa mendukung lokasi yang ditemukan lebah sebelumnya atau menawarkan alternatif lain.

Lambat laun, satu lokasi akan mendapatkan dukungan dari semakin banyak lebah. Ketika jumlahnya mencapai kuorum, koloni menentukan pilihan dan bergerak menuju lokasi tersebut.

Mekanisme ini sekilas menyerupai proses pengambilan keputusan demokratis pada manusia yaitu berbagai pilihan diuji, informasi dikumpulkan, kemudian keputusan bersama diambil berdasarkan dukungan mayoritas.

3. Kecoak bisa jadi contoh ambil keputusan kolektif

Pengambilan keputusan bersama juga bisa menjadi rumit ketika terlalu banyak individu dengan karakter kuat terlibat. Dalam kelompok manusia, orang dengan karakter dominan dapat mengarahkan diskusi sesuai keinginannya dan mengalahkan suara kelompok.

Namun, penelitian terhadap kecoak menunjukkan hasil yang cukup mengejutkan. Perbedaan karakter individu justru dapat mempercepat pengambilan keputusan kelompok.

Sebagian kecoak memiliki perilaku lebih berani dan aktif menjelajah, sedangkan lainnya cenderung pemalu dan berhati-hati.

Isaac Planas-SitjΓ , asisten profesor di Tokyo Metropolitan University, Jepang, menggunakan simulasi komputer untuk mempelajari bagaimana kecoak mengambil keputusan secara berkelompok, misalnya ketika menentukan tempat berlindung di sudut gelap.

Ia membuat beberapa model dengan tingkat keberagaman perilaku yang berbeda. Ada kelompok yang seluruh individunya berperilaku sama, kelompok dengan sedikit perbedaan karakter, dan kelompok dengan variasi karakter yang tinggi.

Hasilnya menarik. Model yang seluruh kecoaknya berperilaku sama justru tidak mampu menggambarkan pola pengambilan keputusan kecoak di dunia nyata dengan baik. Sebaliknya, kelompok dengan variasi kepribadian yang lebih tinggi mampu mengambil keputusan kolektif dengan lebih cepat karena terjadi lebih banyak interaksi sosial.

"Saya sangat terkejut. Saya memperkirakan akan melihat beberapa tren, tetapi bukan pola yang begitu jelas dan berulang," kata Planas-SitjΓ  dikutip dari BBC

Menurut Planas-SitjΓ , kelompok yang seluruh anggotanya terlalu berani dan gemar menjelajah akan kesulitan menentukan tempat berlindung karena terus bergerak. Sebaliknya, kelompok yang terlalu didominasi individu pemalu memang bisa cepat menetap, tetapi berisiko memilih tempat berlindung yang kurang baik.

Dengan demikian, kecerdasan kolektif tampaknya tidak hanya bergantung pada tingkat kerja sama. Keseimbangan antara kerja sama dan keberagaman perilaku justru menjadi faktor penting dalam menghasilkan keputusan kelompok yang baik.

*Penulis adalah peserta program Maganghub Kemnaker di detikcom

Halaman 2 dari 3
(pal/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads