×
Ad

Mengapa Paus Bisa Terdampar di Pantai? Ini Penjelasan Ahli

Trisna Wulandari - detikEdu
Senin, 06 Jul 2026 17:15 WIB
Petugas gabungan mengevakuasi bangkai paus di Banyuasin. Foto: Dok. Ditpolairud Polda Sumsel
Jakarta -

Hewan yang diduga paus 12 meter terdampar di Banyuasin, Sumatera Selatan, Senin (29/6/2026) lalu. Kemunculan mamalia laut raksasa yang menghantam tiang rumah warga dan tiang jalan ini menggegerkan warga setempat hingga netizen.

Dilansir detikSumbagsel, sebelum mati terdampar di bawah rumah panggung warga, paus tersebut bergerak sehingga makin masuk ke area permukiman saat kondisi air laut masih pasang. Namun, ketika air laut surut, paus tersebut sulit dikembalikan ke perairan hingga mati.

Diduga, paus tersebut terdampar karena terbawa arus pasang tinggi hingga kawasan permukiman di tepi perairan Sungsang, Banyuasin. Namun, setelah paus menghantam tiang rumah warga, air surut dan paus pun mati.

Peristiwa ini bukan kejadian langka, khususnya di Indonesia. Sepanjang 2026 saja, kasus paus terdampar antara lain terjadi Bali (paus sperma); dan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan (paus).

Sementara itu, jenis mamalia laut raksasa lainnya terdampar di Rote Ndao, NTT, yakni 55 paus pilot (sejenis lumba-lumba). Sementara 34 ekor dapat dikembalikan ke perairan, 21 di antaranya mati.

Adapun di Cilacap, Jawa Tengah, 2 hiu paus (Rhincodon typus) terdampar pada Mei 2026. Ini juga bukan kali pertama hiu paus dan hewan laut raksasa lain terdampar di pantai Cilacap.

Apa penyebab paus, mamalia laut, dan ikan raksasa lainnya bisa terdampar di pantai?

Dosen Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Akbar Reza, S Si, M Sc, mengatakan, penyebab pasti hewan-hewan laut besar terdampar dapat diketahui lewat pembedahan bangkainya lebih lanjut atau nekropsi. Langkah ini seperti visum pada jenazah manusia untuk mengetahui penyebab kematiannya.

Kerusakan Organ Akibat Polusi Suara-Air

Ia mencontohkan, beberapa data nekropsi dari Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional, yang berkolaborasi dengan Fakultas Biologi UGM, mendapati adanya kerusakan organ ekolokasi pada paus. Padahal, organ ini penting agar paus dapat menavigasi arah dan mencari makan lewat pantulan gelombang.

Sejumlah faktor penyebab kerusakan organ ini antara lain:

  • Tumpang tindih dengan kegiatan yang juga mengeluarkan gelombang suara, seperti kapal ramai, gempa, eksplorasi minyak dan gas (migas) dengan sonar, serta survei seismik
  • Adanya parasit
  • Pencemaran lingkungan termasuk keberadaan plastik, jaring nelayan, dan serpihan kapal.

Kondisi Lingkungan Perairan

Akbar menjelaskan, faktor risiko kerusakan organ ini diperburuk dengan kondisi lokasi seperti di NTT yang memiliki substrat lumpur dan pasir. Keduanya membuat pemantulan gelombang ini tidak sekuat jika substratnya keras, seperti karang atau batuan.

"Nah, berkaitan kerusakan organ ekolokasi, tentu hal ini bisa makin parah, karena kalau dia rusak, ketika si paus pilot atau paus sejenis bergerak ke area dangkal, dia jadi nggak tahu itu sudah dangkal atau masih dalam gitu. Jadi, ibaratnya sensornya rusak tuh. Nggak tahu dia, akhirnya terdampar," terangnya.

Bagi paus atau mamalia laut yang berkelompok, kondisi ini berisiko karena pemimpin kawanan yang tersasar bisa membuat anggota kelompoknya ikut terdampar.




(twu/nah)

Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork