BRIN Ungkap 5 Jenis Logam Berat Ini Cemari Teluk Jakarta!

ADVERTISEMENT

BRIN Ungkap 5 Jenis Logam Berat Ini Cemari Teluk Jakarta!

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 10 Mei 2026 10:00 WIB
Sejumlah nelayan melintasi proyek reklamasi di kawasan laut Teluk Jakarta, tepatnya di Cilincing, Jakarta Utara, Senin (20/4/2026). Di tengah hamparan laut yang kini dipenuhi aktivitas pembangunan, perahu-perahu nelayan tampak bergerak perlahan, menc
Teluk Jakarta. Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan lima jenis logam berat mencemari sedimen laut Teluk Jakarta. Logam-logam berat tersebut adalah seng (Zn), tembaga (Cu), nikel (Ni), timbal (Pb), dan kadmium (Cd).

BRIN menemukan secara umum konsentrasi logam-logam tersebut lebih tinggi di wilayah pesisir yang berdekatan dengan daratan, kawasan padat penduduk, dan area industri. Ini mengindikasikan pengaruh kuat aktivitas manusia di darat terhadap kualitas lingkungan laut.

Seng Dominan

Seng (Zn) nerupakan salah satu logam pencemar dominan di Teluk Jakarta. Zn bersifat racun dalam kadar tinggi, tapi dalam kadar rendah dibutuhkan oleh organisme sebagai ko-enzim.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti Pusat Riset Osanografi BRIN, Idha Yulia Ikhsani bersama timnya melakukan analisis menggunakan beberapa indeks lingkungan seperti Enrichment Factor (EF), Geoaccumulation Index (Igeo), Contamination Factor (CF), dan Pollution Load Index (PLI).

Namun, selain seng, timbal dan tembaga di sejumlah lokasi juga sudah melebihi ambang batas tertentu berdasarkan standar internasional.

ADVERTISEMENT

"Kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, terutama bagi organisme dasar perairan (bentik) yang hidup bersentuhan langsung dengan sedimen," kata Idha, dikutip dari BRIN pada Sabtu (9/5/2026).

Idha memaparkan, Teluk Jakarta mendapat tekanan lingkungan yang signifikan karena aktivitas antropogenik. Kawasan ini merupakan salah satu kawasan pesisir terpenting di Indonesia, baik dari aspek ekonomi, perikanan, transportasi, ataupun pemukiman.

"Namun pesatnya urbanisasi dan industrialisasi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) telah memberikan tekanan besar terhadap kualitas lingkungannya," kata Idha.

Salah satu indikator tekanan lingkungan adalah pencemaran logam berat pada sedimen dasar laut. Sebab, sedimen berperan sebagai penyimpan polutan yang masuk perairan.

Logam berat sulit terurai, sehingga sedimen yang tercemar bisa menjadi sumber pencemaran jangka panjang dan sewaktu-waktu melepaskan kembali logam berat ke kolom air.

Apa Saja Aktivitas Manusia yang Sebabkan Pencemaran?

Idha menerangkan logam berat di Teluk Jakarta berasal dari berbagai sumber yaitu aktivitas pelabuhan dan perkapalan, limbah industri, aliran sungai yang membawa limbah domestik perkotaan, limpasan kawasan padat penduduk, dan residu aktivitas pertanian. Sumber-sumber pencemaran ini bermuara ke Teluk Jakarta lewat sungai-sungai utama dan akhirnya mengendap di sedimen pasir.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Lestari juga telah menilai tingkat risiko logam berat di Teluk Jakarta menggunakan metode Risk Assessment Code (RAC). Metode tersebut dipakai untuk mengetahui seberapa besar logam berada dalam bentuk yang mudah terlepas ke lingkungan dan berpotensi masuk ke rantai makanan.

Penelitian memperlihatkan seng di hampir semua stasiun pengamatan berpotensi tinggi terserap organisme laur dan masuk ke rantai makanan. Sementara tembaga dan timbal dalam bentuk yang lebih stabil dalam sedimen, sehingga risikonya lebih rendah, meskipun tetap berpotensi terserap organisme.

"Logam berat yang terserap dapat terakumulasi dalam tubuh organisme laut, terutama kerang, kepiting, dan biota bentik lainnya. Jika organisme tersebut dikonsumsi manusia secara terus-menerus, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang," kata Lestari.

Adapun riset dari peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Rachma Puspitasari menunjukkan potensi risiko nonkarsinogenik bagi manusia, utamanya karena akumulasi kadmium dalam jaringan kerang hijau

"Karena itu, pencemaran logam berat tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan langsung dengan keamanan pangan masyarakat pesisir dan konsumen hasil laut," sebutnya.

Rachma menilai penanganan pencemaran Teluk Jakarta butuh langkah terpadu dari hulu sampai hilir, seperti:

  • Pengendalian limbah industri
  • Peningkatan sistem pengolahan air limbag domestik
  • Pemantauan rutin cemaran pada sedimen dan biota laut
  • Pengawasan kualitas sungai yang bermuara ke teluk
  • Edukasi masyarakat terkait pentingnya menjaga lingkungan pesisir
  • Pengaturan konsumsi hasil laut.



(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads