Jenis mainan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak terkadang jadi pembahasan di kalangan orang tua. Mainan yang membantu keterampilan motorik, matematika, hingga sains terkadang dinilai unggul.
Dilansir dari Phys.org, peneliti mendapati aktivitas bermain boneka ternyata juga punya manfaat luar biasa. Di samping menyenangkan, hasil studi menunjukkan, bermain boneka dapat membantu anak-anak memahami pikiran dan perasaan orang lain, keterampilan sosial kunci yang sangat penting hingga mereka dewasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti Dr Sarah Gerson dari Cardiff University School of Psychology menjelaskan, studi mereka mendapati, bermain boneka bantu anak-anak menumbuhkan pemahaman dan empati bahwa orang lain bisa memiliki pikiran dan keinginan berbeda dari mereka.
"Theory of mind, yakni kemampuan untuk memahami dan membedakan pikiran, keyakinan, dan keinginan orang lain, adalah keterampilan mendasar untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya, guru, dan orang tua, dan keterampilan yang akan terus digunakan orang sepanjang hidup mereka untuk mengembangkan hubungan sebagai orang dewasa," jelas Gerson, dilansir dari Phys.org.
Main Boneka Lebih dari Sekadar Imajinasi
Dalam studi ini, tim peneliti melakukan eksperimen dengan melibatkan 80 anak laki-laki dan perempuan berusia 4-8 tahun untuk melihat dampak bermain boneka terhadap kemampuan memahami perspektif orang lain. Pada eksperimen ini, anak juga dibolehkan memilih tablet alih-alih boneka.
Hasilnya, anak-anak yang secara rutin bermain boneka menunjukkan peningkatan signifikan dalam memahami bahwa orang lain dapat memiliki keyakinan dan keinginan yang berbeda dari diri mereka sendiri. Hal ini berbeda dengan kelompok anak yang menghabiskan waktu bermain gim kreatif melalui HP atau tablet.
Pemahaman sosial mencakup keterampilan seperti mengenali keinginan orang lain, dan memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang berbeda. Keterampilan sosial juga termasuk soal menyadari bahwa perspektif orang lain bisa berbeda dari sudut pandang pribadi untuk membantu anak membangun hubungan yang sehat.
"Saat bermain boneka, anak-anak berkesempatan untuk memerankan karakter, menciptakan narasi, dan memeragakan skenario. Hal ini bergantung pada--sekaligus dapat menumbuhkan--kemampuan untuk membayangkan pemikiran, perasaan, dan niat orang lain," kata Gerson.
"Skenario bermain peran inilah yang memungkinkan anak mempraktikkan kemampuan sosial, memproses emosi, dan mengelola emosi dalam lingkungan yang aman," imbuhnya.
Penelitian ini juga menggarisbawahi bagaimana bermain boneka dapat menjadi media stimulasi sosial yang interaktif bagi guru, orang tua, dan pendamping belajar untuk mendorong penggunaan kosakata tentang pikiran dan perasaan pada anak.
Didesain untuk Melatih Kecerdasan Emosional
Tim peneliti dalam studi tersebut menjelaskan, hasil kajian ini dapat dimanfaatkan orang tua untuk menciptakan ruang belajar yang efektif dengan membiarkan anak mengeksplorasi perilaku alami mereka saat bermain peran.
Keterampilan sosial dan emosional yang diasah melalui bermain boneka ini memiliki dampak yang melampaui masa kanak-kanak. Kemampuan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain sangat membantu individu dalam berkolaborasi dan menyelesaikan konflik di dunia kerja maupun kehidupan sosial.
"Keterampilan sosial di masa kanak-kanak ini memberikan dasar untuk mengembangkan hubungan sepanjang hidup seseorang," ujarnya.
(crt/twu)











































