Tahukah, detikers, beberapa jenis jamur dikenal memiliki kemampuan unik yakni bisa memengaruhi cuaca. Bagaimana caranya?
Sebuah studi yang terbit di jurnal Science Advances pada Maret 2026 menemukan bahwa beberapa jamur menghasilkan protein yang mampu membekukan air hingga memicu turunnya hujan. Rahasia di balik kemampuan jamur membekukan air ternyata berasal dari gen bakteri purba.
Jamur-jamur tersebut, bahkan diketahui menggunakan protein di membran selnya untuk membekukan air pada suhu yang relatif tinggi, yaitu sekitar minus 5 derajat Celcius.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jamur yang Mewarisi Gen Bakteri Purba
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknologi Illumina DNA untuk memetakan genom jamur dari famili Mortierellaceae. Analisis ini dilakukan oleh tim dari Virginia Tech dan Boise State University, bekerja sama dengan Max Planck Institute for Polymer Research dan Max Planck Institute for Chemistry.
"Kami hanya ingin mencari tahu bagaimana proses ini bekerja," kata Boris Vinatzer, salah satu penulis studi tersebut, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Live Science.
Dalam penelitian terhadap genom dua galur jamur dari famili Mortierellaceae, ilmuwan menemukan bahwa jamur ini memiliki kandidat gen pembentuk es yang hampir identik dengan gen bakteri bernama InaZ. Bahkan, ketika gen jamur tersebut dipindahkan ke dalam sel ragi, ragi tersebut terbukti ikut mendapatkan kemampuan untuk menciptakan es.
"Kami mengonfirmasi bahwa fragmen DNA tertentu itu benar-benar menghasilkan protein nukleasi es," kata Vinatzer.
Menurut para peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa pada suatu titik pada masa lalu, mungkin jutaan tahun yang lalu, nenek moyang jamur memperoleh gen tersebut dari bakteri di sekitarnya melalui proses transfer gen horizontal, dan kemudian menjadikannya milik mereka sendiri.
Peran Jamur dalam Memengaruhi Cuaca
Penelitian ini juga mengungkapkan potensi besar dari jamur dan bakteri pembuat es dalam siklus air. Keduanya diketahui dapat terbawa angin ke awan, di mana kemampuan nukleasi es mereka menghasilkan kristal kecil yang akhirnya memicu turunnya hujan atau salju.
Karena satu jamur dapat menyekresikan banyak protein, jumlahnya di awan mungkin jauh lebih banyak daripada bakteri. Para peneliti menduga hal ini membuat jamur memiliki kemampuan yang luar biasa dalam memodifikasi cuaca, yang pada akhirnya menguntungkan seluruh ekosistem.
"Hal ini menunjukkan bahwa jamur mungkin sebenarnya lebih penting daripada bakteri dalam memengaruhi cuaca," jelas Vinatzer.
Saat ini, para ilmuwan melihat potensi penemuan protein jamur ini untuk dimanfaatkan oleh manusia. Alih-alih menggunakan bahan kimia beracun seperti perak iodida (silver iodide) untuk operasi penyemaian awan pembawa hujan buatan, protein organik yang ramah lingkungan dari jamur ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti yang jauh lebih aman.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
(crt/faz)











































