Sering Memendam Masalah? Studi Peringatkan, Awas Cepat Pikun!

ADVERTISEMENT

Sering Memendam Masalah? Studi Peringatkan, Awas Cepat Pikun!

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Selasa, 05 Mei 2026 14:00 WIB
Ilustrasi wanita lansia.
Ilustrasi lansia. Foto: Getty Images/iStockphoto/sasirin pamai
Jakarta -

Selama ini kita menganggap penurunan daya ingat adalah hal lumrah bagi lansia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan, stres yang dipendam sendiri berperan besar dalam mempercepat penurunan kognitif.

Dilansir dari Phys.org, studi ini secara spesifik mengamati kelompok lansia keturunan Tionghoa-Amerika, sebuah populasi yang selama ini jarang tersentuh riset kesehatan otak. Hasilnya menunjukkan, kebiasaan memendam beban emosional dan rasa putus asa secara diam-diam mampu menggerus kemampuan mengingat jauh lebih cepat daripada faktor lingkungan lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahaya Stres Sendiri dan Rasa Putus Asa

Faktor utama yang disoroti para peneliti adalah internalized stress. Ini adalah jenis stres yang mana seseorang cenderung menyerap pengalaman buruk dan emosi negatif ke dalam diri mereka sendiri, alih-alih mengekspresikan atau menyelesaikannya.

Dalam riset yang melibatkan lebih dari 1.500 partisipan selama rentang waktu 2011-2017 ini, perasaan putus asa menjadi indikator paling kuat terhadap memburuknya daya ingat.

ADVERTISEMENT

"Stres dan rasa putus asa mungkin sering tidak disadari pada populasi lansia, padahal keduanya memainkan peran kritis dalam cara otak menua," ujar Michelle Chen, asisten profesor neurologi di Rutgers Robert Wood Johnson Medical School, dikutip dari Phys.org.

Temuan mengejutkan lainnya adalah faktor dukungan komunitas atau lingkungan ternyata tidak memberikan dampak yang sama besarnya dengan kekuatan emosi negatif yang dipendam oleh individu tersebut.

Tekanan Budaya dan Stereotip "Model Minority"

Penelitian ini juga membedah mengapa stres ini bisa tersembunyi begitu lama. Ada tekanan budaya yang cukup kuat, terutama lewat stereotip model minority.

Stereotip ini menggambarkan warga keturunan Asia di Amerika Serikat sebagai kelompok yang selalu sukses, terdidik, dan sehat. Meski terdengar positif, label ini justru menciptakan tekanan mental yang hebat dan menutupi kesulitan emosional yang sebenarnya dialami para lansia.

Selain itu, hambatan bahasa dan perbedaan budaya bagi para imigran lansia membuat stres yang mereka alami menjadi kronis. Karena mereka merasa harus tetap terlihat "baik-baik saja" sesuai ekspektasi sosial, beban emosional tersebut menumpuk di dalam dan perlahan merusak sirkuit memori di otak.

Pakar menyebutkan bahwa tekanan ini seringkali tidak terdeteksi oleh tenaga medis jika tidak dilakukan pendekatan yang sensitif secara budaya.

Upaya Pencegahan Lewat Kesehatan Mental

Kabar baiknya, karena faktor pemicunya adalah stres yang bisa dimodifikasi, penurunan memori ini sebenarnya bisa dicegah atau diperlambat. Para peneliti menekankan pentingnya intervensi kesehatan mental yang dirancang khusus untuk lansia.

Langkah pertama yang paling krusial adalah memberikan ruang bagi mereka untuk menyuarakan beban pikiran, alih-alih terus memendamnya.

Dengan mengidentifikasi bahwa stres terpendam adalah musuh nyata bagi otak, strategi pencegahan Alzheimer ke depannya tidak hanya akan fokus pada obat-obatan, tapi juga pada dukungan emosional.

Menjaga kesehatan otak di masa tua ternyata bukan hanya soal olahraga fisik atau makan sehat, tapi juga tentang bagaimana kita mengelola "sampah emosional" agar tidak merusak fungsi kognitif kita.

Hasil studi ini dipublikasi di Michelle H Chen dan rekan-rekan dengan judul "Stress internalization is a top risk for age-associated cognitive decline among older Chinese in the U.S. dalam The Journal of Prevention of Alzheimer's Disease", 27 April 2026.




(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads