Tanaman Berusia 43 Ribu Tahun Ditemukan di Hutan Ini, Terancam Punah!

ADVERTISEMENT

Tanaman Berusia 43 Ribu Tahun Ditemukan di Hutan Ini, Terancam Punah!

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 04 Mei 2026 10:30 WIB
Populasi liar pertama dari Kings lomatia ditemukan oleh Deny King pada tahun 1930-an. Populasi kedua baru-baru ini ditemukan.
Foto: Ebony ten Broeke via ABC News/Populasi liar pertama dari King's lomatia ditemukan oleh Deny King pada tahun 1930-an. Populasi kedua baru-baru ini ditemukan.
Jakarta -

Sempat dikira hanya tumbuh di suatu area, sebuah tanaman kuno kembali ditemukan di hutan belantara Tasmania, Australia. Tanaman itu dikenal sebagai King's lomatia atau Lomatia tasmanica.

Lomatia tasmanica merupakan tanaman yang termasuk dalam keluarga Proteaceae. Proteaceae merupakan famili tumbuhan berbunga yang sebagian besar terdistribusi di Belahan Bumi Selatan, terutama Australia dan Afrika Selatan.

Sebelumnya, King's lomatia hanya pernah ditemukan di suatu area. Tetapi, baru-baru ini peneliti menemukan populasi kedua yang hadir di wilayah barat daya Tasmania.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lokasi secara pastinya dirahasiakan oleh peneliti. Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Australia menyebut langkah ini sengaja dilakukan untuk melindungi spesies tersebut, lantaran terdaftar sebagai spesies yang terancam punah.

Tanaman Berusia 43 Ribu Tahun

King's lomatia pertama kali ditemukan oleh aktivis lingkungan sekaligus seniman bernama Charles Denison "Deny" King. Untuk itu, tanaman ini dinamakan berdasarkan nama penemunya.

ADVERTISEMENT

Pada 1989, ahli biologi dari Universitas Tasmania, Greg Jordan, menemukan fosil King's lomatia. Hasilnya, disebutkan bahwa tanaman ini berasal dari lebih dari 43 ribu tahun yang lalu.

Jordan menyebut penemuan ini bak sebuah kejutan. Ia yakin mungkin ada populasi lain di alam liar, namun akan sulit untuk menemukannya.

Spesies ini sangat unik karena memiliki kromosom tambahan. Manusia pada dasarnya memiliki dua set kromosom dalam DNA kita, tetapi tanaman ini memiliki tiga.

"Dan itu berarti ia sebenarnya tidak dapat bereproduksi secara seksual," kata Jordan, dikutip dari ABC News.

Ada proses luar biasa yang dilakukan King's lomatia untuk tetap hidup hingga saat ini. Tanaman itu sengaja menumbangkan tumbuhnya untuk masuk ke dalam tanah dan tumbuh kembali.

Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Australia mengatakan King's lomatia punya musuh alami di dalam tanah. Musuh tersebut dikenal sebagai Phytophthora cinnamomi.

"Phytophthora akan menghancurkan akal spesies tersebut dengan cara mengeringkannya," imbuhnya.

Namun, dibandingkan dengan Phytophthora cinnamomi, ada ancaman lain yang bisa membuat King's lomatia punah. Ancaman itu adalah kebakaran dan penyakit tumbuhan.

Kini Dibudidayakan

Untuk melindungi spesies tersebut, peneliti melakukan proses pembibitan lokal dan membudidayakan King's lomatia. Untuk bisa membudidayakannya, peneliti harus mengantongi izin dari Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Australia.

Izin itu hanya diberikan untuk proses budidaya, bukan untuk menjualnya. Salah satu pihak yang melakukan ini adalah pemilik Plants of Tasmania Nursery, Rae Young.

Young melihat King's lomatia sebagai tanaman yang istimewa karena tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Ia juga menyambut baik kabar penemuan populasi kedua tanaman ini dan memperingatkan agar orang-orang tidak mencarinya.

"Ini adalah momen yang tepat bagi kita semua untuk merenungkan betapa baiknya jika kita tidak pergi dan menyadari bahwa kita memilikinya," paparnya.

Jordan juga punya pandangan yang sama dengan Young. Ia setuju bila lokasi penemuan King's lomatia kedua dirahasiakan oleh peneliti.

Menurutnya, banyak orang yang gampang tergoda dan rela melanggar aturan untuk mendapatkan King's lomatia. Mereka berpikir memilikinya adalah salah satu cara untuk membantu, tetapi tidak.

"Jadi saya pikir merahasikannya sebenarnya adalah ide yang sangat bagus," urainya.

Departemen Sumber Daya Alam dan Lingkungan Australia akan mulai melakukan survei populasi Kings' lomatia terbaru untuk mengetahui apakah populasi itu identik secara genetik dengan temuan pertama.

Selain itu, Dinas Taman dan Margasatwa Tasmania juga melakukan pembakaran terkontrol di area populasi meratama untuk mengurangi risiko kebakaran hutan terhadap spesies tersebut.



(det/faz)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads