Setengah Hasil Riset Ilmu Sosial Ternyata Sulit Diulang, Kenapa?

ADVERTISEMENT

Setengah Hasil Riset Ilmu Sosial Ternyata Sulit Diulang, Kenapa?

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Minggu, 03 Mei 2026 16:00 WIB
Diagram Kemiskinan Klaten
Foto: detikJateng/Muhammad Iqbal Al Fardi
Jakarta -

Sebuah riset besar baru-baru ini mengungkap fakta yang cukup bikin mikir: hanya sekitar setengah dari hasil penelitian di bidang ilmu sosial dan perilaku yang bisa direplikasi atau dibuktikan ulang oleh studi lain. Apa dampaknya bagi dunia sains?

Temuan ini datang dari proyek internasional bernama Systematizing Confidence in Open Research and Evidence (SCORE), yang menganalisis ribuan penelitian dari 62 jurnal ilmiah selama periode 2009-2018. Studi ini merupakan salah satu upaya internasional terbesar untuk mengukur tingkat kepercayaan terhadap bukti ilmiah dalam ilmu sosial dan perilaku. Proyek berskala besar ini didanai oleh US Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) dan melibatkan kolaborator dari berbagai negara.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Riset ilmu sosial ini melibatkan berbagai disiplin ilmu sosial seperti ekonomi, psikologi, pendidikan, hingga sosiologi. Hasilnya dipublikasikan dalam tiga makalah bergengsi di jurnal Nature, yang masing-masing membahas soal reproduktivitas, kekokohan analisis, dan kemampuan replikasi penelitian.

Krisis Replikasi

Dilansir dari laman University of Virginia (UVA) Today, Brian Nosek, pemimpin riset SCORE dan timnya melacak reliabilitas dari ribuan eksperimen sains sosial dan perilaku yang diterbitkan dalam 62 jurnal berbeda antara tahun 2009 hingga 2018. Proyek berskala internasional ini melibatkan 865 kolaborator dari seluruh dunia.

ADVERTISEMENT

Pertama, soal reproduktivitas alias apakah hasil penelitian tetap sama ketika datanya dianalisis ulang oleh peneliti lain. Dari 182 dataset yang berhasil dikaji ulang, sekitar 53,6% hasilnya bisa direproduksi secara persis, sementara 73,5% masih mendekati hasil asli meskipun tidak identik. Menariknya, penelitian yang lebih baru dan yang datanya terbuka untuk publik cenderung lebih mudah direproduksi.

Kedua, soal kekokohan analisis. Di sini, peneliti mencoba melihat apakah metode analisis yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang sama. Hasilnya? Hanya sekitar sepertiga analisis ulang yang benar-benar mengonfirmasi hasil penelitian awal. Meski begitu, dalam 74% kasus, setidaknya ada satu analisis yang menghasilkan kesimpulan serupa. Namun, dalam sekitar seperempat studi, efek yang dilaporkan di penelitian awal justru tidak ditemukan lagi.

Ketiga, kemampuan replikasi, yang sering jadi pertanyaan besar dalam dunia riset: apakah hasil penelitian bisa diulang oleh peneliti lain dengan eksperimen baru? Dari 274 klaim yang diuji, hanya sekitar 55% yang berhasil direplikasi. Bahkan, ukuran efeknya cenderung menurun cukup drastis saat diuji ulang, dari rata-rata 0,25 menjadi 0,10. Artinya, pengaruh yang awalnya terlihat signifikan bisa jadi sebenarnya lebih kecil dari yang diperkirakan.

Fenomena ini dikenal sebagai 'krisis replikasi'. Ternyata 'krisis replikasi' ini bukan cuma terjadi di ilmu sosial, tapi juga di bidang lain seperti kedokteran. Sayangnya, para peneliti belum menemukan cara mudah untuk memprediksi apakah sebuah studi bisa direplikasi atau tidak. Satu-satunya faktor yang cukup konsisten berpengaruh adalah keterbukaan data. Semakin transparan datanya, semakin besar kemungkinan hasilnya bisa diuji ulang.

"Diperlukan lebih banyak bukti sebelum kita yakin akan solusi yang valid dan dapat diterapkan secara luas," kata Brian Nosek, pemimpin proyek SCORE dan direktur Pusat Sains Terbuka di UVA.

Meski begitu, tingginya kegagalan replikasi bukan berarti semua penelitian bermasalah atau penuh kecurangan. Dunia riset itu kompleks. Banyak faktor yang bisa memengaruhi hasil, mulai dari perbedaan metode, kondisi eksperimen, hingga karakteristik responden. Bahkan efek yang kecil di dunia nyata bisa jadi sulit dideteksi secara konsisten.

Karena itu, para ahli menyarankan kita untuk tidak langsung percaya pada satu penelitian saja, apalagi yang baru dirilis. Perlu ada studi lanjutan dan replikasi agar hasilnya benar-benar bisa diandalkan. Intinya, skeptis itu bukan berarti negatif, tapi justru penting dalam menjaga kualitas ilmu pengetahuan.

Abel Brodeur, pendiri Institut Replikasi di Universitas Ottawa, mengatakan kepada Nature bahwa ia selalu skeptis terhadap makalah yang baru diterbitkan. "Saya akan menunggu bertahun-tahun untuk banyak studi lain, melakukan analisis serupa, menemukan hasil serupa sebelum merasa yakin dengan temuan tertentu," katanya.

Ke depan, kolaborasi besar seperti proyek SCORE diharapkan bisa terus dilakukan untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan terhadap hasil riset. Jadi, bukan cuma soal menemukan jawaban, tapi juga memastikan jawabannya benar-benar bisa dipercaya.

"Ini adalah proyek penelitian terbesar di dunia hingga saat ini yang menyelidiki kehandalan hasil ilmiah yang dilaporkan, dan contoh bagaimana kolaborasi skala besar dapat menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh satu kelompok penelitian saja," tambah Gustav Nilsonne, profesor madya ilmu saraf di Karolinska Institutet Swedia, yang merupakan salah satu penulis ketiga makalah Nature tersebut.




(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads