Ternyata, Kerusakan Alam Bisa Ganggu Keamanan Negara sampai Perang

ADVERTISEMENT

Ternyata, Kerusakan Alam Bisa Ganggu Keamanan Negara sampai Perang

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Kamis, 30 Apr 2026 06:30 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi. Foto: Aprilia Devi/detikJatim
Jakarta -

Keamanan sebuah negara ternyata tidak hanya bergantung pada kekuatan militer atau aliansi politik, tetapi juga kesehatan ekosistemnya.

Riset terbaru dari Pennsylvania State University yang terbit di jurnal Nature-Based Solutions (2026) memperingatkan bahwa gangguan alam yang ekstrem dapat memicu kerusuhan sosial, ketidakstabilan politik, hingga konflik bersenjata.

Profesor Bradley J Cardinale bersama timnya membedah 27 studi kasus yang menunjukkan bagaimana ekosistem yang rusak menciptakan tekanan hebat bagi warga negara. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi akan meruntuhkan kepercayaan warga pada pemerintah dan memicu kekacauan global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lima Ancaman Keamanan Nasional Akibat Gangguan Ekosistem

Riset ini mengidentifikasi lima area krusial di mana kerusakan alam langsung bersinggungan dengan keamanan nasional, yaitu ketahanan pangan, kelangkaan air, keamanan kesehatan, perlindungan dari bencana alam, dan kejahatan lingkungan.

ADVERTISEMENT

Jika layanan dasar ekosistem seperti air bersih dan pangan menghilang akibat kerusakan alam, maka hal ini akan memicu stres sosial bagi masyarakat luas.

"Kami menarik hubungan eksplisit antara gangguan ekosistem dan peningkatan risiko di lima bidang keamanan nasional: ketahanan pangan, kelangkaan air, keamanan kesehatan, perlindungan dari bencana alam, dan kejahatan lingkungan," kata Cardinale, dikutip dari Phys.org.

Dalam studinya, Cardinale mencontohkan bagaimana penggundulan hutan memperburuk kekeringan, yang berujung pada protes keras di Amerika Selatan, hingga spesies invasif yang menyebabkan gagal panen dan memicu migrasi besar-besaran di Afrika.

Perang karena Kelangkaan Ikan

Gangguan ekologi bukan sekadar angka di atas kertas. Dalam sejarah, masalah ini pun tercatat memicu konflik fisik.

Salah satu kasus yang disoroti peneliti adalah Perang Kod (Cod Wars) antara Islandia dan Inggris. Konflik militer ini pecah setelah penangkapan ikan berlebihan menyebabkan stok ikan kod anjlok, sehingga kapal-kapal komersial mengabaikan batas internasional demi mencari sisa stok yang ada.

Penebangan-Perburuan Liar, Sumber Dana Kejahatan

Selain konflik perbatasan, kerusakan alam juga menjadi ladang uang bagi pelaku kriminal. Penebangan liar maupun perburuan liar sering kali menjadi sumber dana bagi organisasi kejahatan di berbagai negara.

"Penebangan ilegal serta perburuan satwa liar telah mendanai kartel narkoba, organisasi teroris, dan sindikat kriminal di beberapa wilayah di seluruh dunia," imbuhnya.

Jangan Hanya Peduli Infrastruktur Fisik

Cardinale menegaskan bahwa menjaga alam tidak bisa lagi dianggap sebagai hobi individu. Tugas ini harus menjadi bagian dari kebijakan strategis pemerintah.

Jika pemerintah sangat menjaga infrastruktur fisik, seperti jaringan listrik dan transportasi, maka ekosistem harus diperlakukan sama. Ia mengarisbawahi, "infrastruktur alami" inilah yang menopang kebutuhan dasar manusia.

Sayangnya, saat banyak negara mulai sadar, sebagian lainnya justru memangkas investasi di bidang keahlian ilmiah ini. Padahal, ia mengatakan, melemahkan institusi lingkungan sama saja dengan melemahkan kemampuan negara untuk melindungi warga negaranya dari ketidakstabilan yang dipicu oleh kerusakan alam.

"Pemerintah harus membangun dan melindungi infrastruktur alami dengan cara yang sama seperti mereka membangun dan melindungi infrastruktur fisik," tegas Cardinale.



(rhr/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads