5 Keterampilan yang Tak Bisa Digantikan AI, Menurut Eks CEO LinkedIn

ADVERTISEMENT

5 Keterampilan yang Tak Bisa Digantikan AI, Menurut Eks CEO LinkedIn

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Selasa, 28 Apr 2026 09:00 WIB
Ilustrasi percakapan dalam bahasa Inggris.
Ilustrasi berkomunikasi, salah satu skill yang tak akan digantikan AI menurut CEO LinkedIn. Foto: Getty Images/SDI Productions
Jakarta -

Hari ini, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membantu berbagai sektor pekerjaan manusia. Meski begitu, sebagian orang merasa cemas jika pekerjaannya diambil alih oleh AI.

Dikutip CNBC, eks CEO LinkedIn Ryan Roslansky menyadari suatu hal, yakni terdapat keterampilan unik manusia yang tidak mungkin digantikan robot. Isu ini tentu penting untuk diketahui generasi muda, untuk menghadapi pasar kerja yang tidak stabil seperti sekarang.

Para petinggi LinkedIn begitu memperhatikan kondisi ini, mereka lalu melakukan diskusi dengan para ahli saraf, psikolog organisasi, ekonom perilaku, dan pemimpin-pemimpin bidang pengembangan talenta.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hasilnya, ada lima kemampuan yang dapat dikembangkan setiap orang agar pekerjaannya tidak tergantikan oleh AI. Mereka menyebutnya dengan 5C.

5 Keterampilan yang Tidak Akan Digantikan AI

1. Rasa Ingin Tahu (Curiosity)

Jika AI mampu menghasilkan berbagai narasi yang dengan banyak pola, manusia dapat melakukan hal berbeda. Caranya dengan menumbuhkan rasa ingin tahu tentang cara kerja AI hingga bagaimana AI mengubah pekerjaan kita.

ADVERTISEMENT

Dengan begitu, kita mampu memahami diri sendiri dan mengetahui manusia tidak dapat digantikan oleh AI. Selanjutnya, manusia juga perlu menyinkronkan rasa ingin tahunya dengan bidang karier masing-masing.

Misalnya, vksin polio yang tercipta karena rasa ingin tahu Jonas Salk dan timnya tentang, "apakah virus yang mati dapat mengajarkan tubuh untuk melawan virus hidup?". Begitu juga pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dokter terhadap pasien, yang membantunya menganalisa penyakit.

2. Keberanian (Courage)

Perlu diketahui, AI hanya mampu memperkirakan risiko yang akan terjadi. Namun, hanya manusia yang mampu untuk mengambil keputusan sebagai bentuk keberanian.

Berani adalah saat seseorang memutuskan untuk melakukan sesuatu, tapi ia tidak tahu apakah berhasil atau tidak. Sikap ini merupakan suatu bentuk eksperimen untuk menunjukkan bukti kepada orang lain.

Bentuk keberanian di tempat kerja misalnya mengubah keraguan menjadi sebuah tindakan. Sebagai contoh, developer yang mengusulkan terobosan baru untuk melakukan pelayanan lebih baik atau seorang manajer penjualan yang memberitahu klien bahwa permintaan mereka kurang tepat, kemudian memberi solusi terbaik.

3. Kreativitas (Creativity)

AI hanya mampu mengolah kembali apa yang sudah ada, sementara manusialah yang menciptakan hal tersebut. Kemampuan itu adalah kreativitas, di mana seseorang membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang belum pernah ada sebelumnya.

Alih-alih menggabungkan elemen yang sudah ada, kreativitas mendorong seseorang lebih dari sekadar memegang peran kreatif di tempat kerja. Misalnya, seorang guru yang merubah ruang kelas menjadi tempat simulasi penggalian arkeologi untuk mengajarkan sejarah.

Hal ini membuktikan bahwa kreativitas manusia tidak hanya memecahkan masalah, tapi juga menemukan cara baru yang belum diketahui sebelumnya.

4. Belas Kasih (Compassion)

Meski AI mampu mensimulasikan ungkapan rasa peduli, tapi yang bisa merasakannya dan mengungkapkannya dengan penuh perasaan adalah manusia. Hal itu disebut dengan rasa empati.

Di tempat kerja, rasa empati dapat mengubah transaksi menjadi hubungan dan tim menjadi suatu komunitas. Seperti, manajer yang mengubah jam kerja karyawannya menjadi fleksibel saat tahu karyawan tersebut sedang merawat orang tuanya yang sakit.

Seorang konsultan di LinkedIn bahkan menyarankan, untuk sekadar melakukan panggilan kepada rekan kerja untuk mengobrol singkat atau menanyakan kabar. Langkah ini dinilai mampu menumbuhkan rasa belas kasih terhadap teman satu tim.

Meski banyak orang merasa tidak nyaman dengan cara tersebut, ia yakin itu dapat mengubah dinamika dan kinerja tim untuk mengambil keputusan terbaik.

5. Komunikasi (Communication)

AI memang mampu menerjemahkan berbagai jenis bahasa, tapi terkait makna dan kandungannya, hanya manusia yang mampu menafsirkannya. Kemampuan berkomunikasi di tempat kerja itu penting, karena menentukan berkembang atau tidaknya suatu ide.

Misalnya penulis buku Open to Work: How to Get Ahead in the Age of AI, Ryan Roslansky dan Aneesh Raman, yang lahir dari percakapan tatap muka, pemikiran mendalam serta gesekan ide, tapi juga menggunakan bantuan AI dalam prosesnya.

Dengan demikian, setiap kata yang ditulis di sana telah dipikirkan matang-matang berdasarkan pengalaman dalam memproses momen perubahan besar. Proses ini akan menggambarkan bagaimana seseorang mulai berharap, berjuang, sampai dengan berhasil.

Untuk mengetahui semua detail tersebut, diperlukan komunikasi yang baik antarmanusia. Ini jelas kemampuan yang tidak bisa digantikan teknologi canggih sekalipun seperti AI.

Penulis merupakan peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.




(sls/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads