Mengenal JOMO, Konsep 'Masa Bodoh' yang Ampuh Jaga Kesehatan Mental

ADVERTISEMENT

Mengenal JOMO, Konsep 'Masa Bodoh' yang Ampuh Jaga Kesehatan Mental

Abdur Rahman Ramadhan - detikEdu
Kamis, 23 Apr 2026 08:30 WIB
Ilustrasi mendengarkan musik, ilustrasi musik, ilustrasi lagu, ilustrasi headphone, ilustrasi santai, ilustrasi relaksasi, ilustrasi me time
Foto: iStock/AsiaVision/Ilustrasi hidup santai tanpa perlu takut ketinggalan tren.
Jakarta -

Pernah dengar istilah FOMO? Itu adalah perasaan cemas untuk selalu mengupdate informasi terbaru agar tak ketinggalan dari yang lain. Ternyata, ada istilah sebaliknya, yaitu JOMO. Apa itu?

Mengutip VeryWell Mind, FOMO atau Fear of Missing Out memiliki dampak yang negatif seiring kebiasaan penggunaan media sosial. Dalam sebuah survei, anak muda saat ini disebut setidaknya menghabiskan 4 jam sehari di media sosial.

Akibatnya, FOMO atau takut ketinggalan tren memberi dampak yang menghancurkan mental anak-anak muda. Mereka menjadi mudah cemas, stres, hingga depresi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mengatasi hal ini, akademisi dari IPB University, Annisa Utami Seminar, menjelaskan bahwa Joy of Missing Out (JOMO) bisa menjadi pendekatan untuk membuat mental lebih sehat. Konsep ini membiasakan orang untuk merasa biasa saja ketika melewatkan sesuatu.

"JOMO adalah konsep di mana seseorang tidak merasa cemas saat melewatkan sesuatu. Sebaliknya, mereka justru merasa memiliki otonomi atas apa yang ingin mereka konsumsi secara digital," jelasnya dalam laman resmi IPB, dikutip Rabu (22/4/2026).

ADVERTISEMENT

Manfaat JOMO

Setiap orang tidak harus langsung menerapkan konsep JOMO. Namun, JOMO bisa menjadi cara agar seseorang bisa lebih mengontrol penggunaan media sosial.

Dengan JOMO, kita tidak harus selalu membuka media sosial dan tahu tentang apa yang sedang terjadi. Membiarkan kita tidak tahu justru bisa membantu ketenangan.

"JOMO menghadirkan emosi positif seperti rasa tenang dan merdeka. Ini bukan sekadar merasa santai, tapi juga bentuk kesadaran bahwa kita tidak harus selalu terhubung dengan dunia digital yang begitu cepat," kata Dr Annisa.

JOMO Bukan Berarti "Kudet" atau Anti-Sosial

Dr Annisa menegaskan bahwa JOMO bukan berarti menjauh dari kehidupan sosial. Justru, konsep ini membantu seseorang lebih fokus pada hubungan nyata dan hal-hal yang bermakna.

"Ini bukan isolasi, tetapi refleksi diri. Kita bertanya kembali apa yang benar-benar bermakna bagi hidup kita," katanya.

Beberapa langkah praktis untuk memulai JOMO antara lain:

- Membatasi durasi penggunaan layar (screen time).

- Melakukan social media detox secara berkala.

- Mengevaluasi apakah aktivitas digital mengganggu produktivitas nyata.

JOMO Membantu Fokus pada Kebahagiaan Nyata

Seorang dokter sekaligus penulis kesehatan mental klinis di Center for Discovery, Kristen Fuller, menjelaskan bahwa JOMO dapat menjadi cara sehat menghadapi tekanan digital.

"JOMO adalah penawar cerdas secara emosional terhadap FOMO dan pada dasarnya tentang hadir sepenuhnya serta merasa cukup dengan kondisi hidup saat ini," ujarnya, dikutip dari Psychology Today.

Ia menambahkan bahwa JOMO membantu seseorang menjalani hidup lebih tenang, menikmati hubungan nyata, serta lebih bijak dalam menggunakan waktu. Dengan mengurangi dorongan untuk terus mengikuti orang lain, individu dapat lebih fokus pada kebahagiaan dan prioritas pribadi.

Pendekatan ini juga mendorong seseorang untuk memberi jeda dari teknologi, lebih menikmati momen, serta membangun koneksi yang lebih bermakna di kehidupan nyata.

Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.




(rhr/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads