Seberapa Mungkin Peneliti Indonesia Meraih Hadiah Nobel?

ADVERTISEMENT

Seberapa Mungkin Peneliti Indonesia Meraih Hadiah Nobel?

Devita Savitri - detikEdu
Senin, 20 Apr 2026 16:03 WIB
Kepala BRIN, Prof Satria, Kapuspresnas Kemendikdasmen, dan sejumlah tokoh dalam Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026).
Foto: Devita Savitri/detikEdu/Kepala BRIN, Prof Satria, Kapuspresnas Kemendikdasmen, dan sejumlah tokoh di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026).
Jakarta -

Nobel Prize atau Hadiah Nobel menjadi penghargaan paling bergengsi bagi para ilmuwan di dunia. Hadiah Nobel telah diberikan selama 125 tahun secara rutin untuk menghormati pencapaian luar biasa para ilmuwan di berbagai bidang.

Namun, dari semua jajaran ilmuwan yang menerima Hadiah Nobel, belum ada satu pun yang berasal dari Indonesia. Lalu, apakah mungkin peneliti Indonesia bisa meraih Hadiah Nobel?

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Arif Satria, mencoba memberi tanggapan. Menurutnya, Hadiah Nobel berkaitan erat dengan reputasi karya peneliti, baik berkaitan dengan publikasi ilmiah, buku, atau karya inovasi lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Reputasi ini membuat seorang peneliti bisa dikenal oleh dunia. Setelahnya, dunia akan menilai apakah karya yang dibuat seorang ilmuwan memang layak diapresiasi atau tidak.

"Nah, sehingga apakah Nobel itu mungkin atau tidak, saya yakin suatu saat kita akan mendapatkan Nobel. Kita harus optimis lah," tutur Arif dalam acara Open Talk BRIN Goes to Global Recognition and Nobel Prize di Ruang Jirap, Gedung BJ Habibie BRIN Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (20/4/2026).

ADVERTISEMENT

Terkait kapan Hadiah Nobel akan diraih, Arif mengaku pihaknya terus berusaha menyiapkan talenta peneliti Indonesia. Para peneliti ini akan diberikan bantuan dengan berbagai skema pendanaan riset.

"Kemudian kedua melalui ajang-ajang apresiasi talenta riset dan inovasi yang dilakukan oleh BRIN. Itu juga bagian dari jalan menuju ke sana," imbuhnya.

Tak bisa dipungkiri, jalan yang harus dilalui peneliti Indonesia untuk meraih Hadiah Nobel sangat berat. Dengan demikian, Arif menyerukan semangat untuk bekerja keras bagi para ilmuwan RI.

"Kalau ini berat, maka ini butuh kerja keras, sehingga dibutuhkanlah tadi semangat, motivasi para periset, dan salah satu komponen yang paling penting adalah kebijaksanaan. Yakin, optimis, bisa, itu yang saya sebut sebagai mindset-pola pikir yang memang kita harus bangun dari sekarang," tegasnya.

Pentingnya Konsistensi

Hadir di kesempatan yang sama, peneliti sekaligus penerima Habibie Awards 2001 dan Sarwono Award XVIII, Prof. Terry Mart, membeberkan bahwa Hadiah Nobel memang dianugerahkan untuk ilmuwan yang benar-benar menghasilkan suatu terobosan baru. Hal ini bisa dilihat dari apakah riset itu diikuti oleh orang lain atau tidak.

"Sehingga kalau dilihat, H-Index-nya tinggi, jadi banyak kutipan dan lain-lain. Tapi itu tidak mutlak, kadang-kadang ada kejutan-kejutan," paparnya.

Melihat pengalamannya sebagai peneliti selama 30 tahun ke belakang, Terry menegaskan bahwa konsistensi adalah hal yang sangat penting. Ketika ilmuwan konsisten dan menikmati bidangnya, stamina untuk riset akan selalu penuh.

"Tapi kalau dia staminanya kuat, dia akan riset terus. Walaupun tidak dapat Nobel, dia akan tetap happy," imbuhnya lagi.

Ilmu Harus Gratis

Senada dengan Terry, Kepala Pusat Prestasi Nasional Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kapuspresnas Kemendikdasmen), Maria Veronica Irene, setuju bahwa untuk meraih Hadiah Nobel Pertama bagi Indonesia adalah jalan yang sangat panjang. Namun, kini pihaknya telah memiliki talenta unggul yang siap dipupuk menjadi peneliti masa depan.

"Kalau kita katakan 30 tahun lagi dari sekarang, ya, mereka ini harus menjalani secara konsisten. Inilah road map yang harus dibangun dengan keyakinan itu," ujar sosok yang akrab dipanggil Irene itu.

Dalam data, minat murid Indonesia di bidang riset terus meningkat. Hal itu dilihat dari banyaknya pendaftar di ajang OPSI (Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia).

Ia menegaskan bahwa Puspresnas Kemendikdasmen ingin pendidikan murah. Dengan begitu, seluruh anak-anak Indonesia bisa mendapatkan informasi dan ilmu secara luas.

"Contoh sederhana: sekarang Olimpiade Sains Nasional. Soal dan jawaban kita berikan. Bisa dibuka di dalam website, belajar, harus gratis ilmu itu, karena investasi sumber daya manusia itu yang paling murah tapi jangkanya panjang," urainya.

Tidak hanya dari anaknya, pemerintah juga harus punya stamina dan kontinuitas yang sangat panjang. Dengan sabar dan konsisten, meraih Hadiah Nobel bukan suatu hal yang tidak mungkin.



(det/faz)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads