Pernah membayangkan ilmuwan Indonesia melakukan riset atau misi sampai ke Bulan? Peluang misi tersebut menurut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini semakin terbuka lebar.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Antariksa (PRA) BRIN, Emanuel Sungging Mumpuni dalam kegiatan LINIEAR PRA - Kolokium pada Selasa (10/3) lalu. Ia menyebut Indonesia memiliki peluang berkolaborasi untuk misi-misi ke Bulan.
"Maka pada pagi ini, kita akan membuka wawasan terlebih dahulu dan mempelajari peluang-peluang itu," katanya dikutip dari laman BRIN, Jumat (13/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keunggulan Pengamatan di Bulan vs Bumi
Lebih lanjut dijelaskan oleh Board of Director dari Internasional Lunar Observatory Association (ILOA) sekaligus dosen astronomi Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB) Chatief Kunjaya, pengamatan astronomi di Bulan memiliki sejumlah keunggulan.
Ia mengatakan, keunggulan ini khususnya jika dibandingkan dengan pengamatan astronomi di Bumi. Contohnya, pengamatan di Bulan tidak terhalang oleh gelombang radio dan sejenisnya.
"Ketika kita ingin mengamati gelombang radio alam semesta ini dan melakukannya dari ground base di Bumi, maka akan memiliki banyak gangguan intervensi gelombang radio yang lain. Sedangkan jika pengamatan ditempatkan di Bulan, intervensi gelombang radio dari Bumi akan terhalang olehnya," ucapnya.
Selain itu, kamera pengamatan di Bulan tidak membutuhkan pendingin. Hal itu disebabkan karena Bulan memiliki daerah gelap permanen yang ada di bawah kawah dengan suhu sangat rendah.
"Permukaan Bulan lebih stabil dan minim pergerakan, memungkinkan untuk membuat Very Long Baseline Interferometer (VLBI) di Bulan karena kamera yang ditempatkan di sana tidak perlu sering dikoreksi seperti di Bumi," ujar Kunjaya.
Keunggulan lain yakni pengamatan di Bulan didukung atmosfernya yang sangat tipis. Ia menjelaskan, kondisi ini memungkinkan cahaya bintang bisa terlihat secara lebih jelas.
Uji Coba di ILO-X
Kunjaya juga membenarkan adanya potensi Indonesia ikut serta dalam misi internasional bidang antariksa. Ia mengungkap keberhasilan yang pernah dilakukan ILOA lewat proyek ILO-X.
Kamera pencitraan kecil ILO-X diterbangkan oleh pesawat Nova-C. Kamera tersebut berhasil mendarat di Bulan.
"ILO-X terbukti sukses karena telah bisa mendarat di Bulan. Kedua, proyek ini bisa mengkomunikasikan hasil dari foto pengamatannya," paparnya.
Walaupun berhasil, sayangnya ILO-X menabrak batu dan membuatnya tumbang. Kamera dari ILO-X pun dalam posisi miring dan pengamatan kurang maksimal.
ILO-X sendiri adalah proyek percobaan untuk misi ILO-1 dan ILO-2. Proyek tersebut menggunakan sejumlah kamera untuk melakukan pengambilan gambar di Bulan.
"Dibutuhkan kamera yang bisa bergerak secara otomatis untuk membantu mengoptimalkan pengambilan gambar pengamatan di bulan," ujarnya.
Potensi Indonesia Ikut Misi ke Bulan
Menurut Kunjaya, potensi Indonesia bisa berkolaborasi dalam misi ke Bulan dapat semakin besar jika terus ikut program ILOA.
"Dengan terus berpartisipasi dalam program ILOA, dapat membuka kesempatan bagi Indonesia untuk turut mengeksplorasi angkasa luar jauh Indonesia lebih lanjut. Indonesia juga memiliki kesempatan untuk membuat kamera bagi ILO-2 dengan lebih baik. Kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan," jelasnya.
Walaupun manfaat keikutsertaan belum dirasakan besar saat ini, tetapi Kunjaya yakin manfaatnya akan terasa di masa mendatang.
"Indonesia harus mempersiapkan terutama dalam hal capacity building karena Indonesia berpotensi berpartisipasi dalam misi observatorium astronomi di Bulan," ujarnya.
(cyu/twu)











































