Struktur tanah di wilayah pesisir cenderung rentan mengalami penurunan permukaan tanah akibat abrasi dan pasang air laut. Kondisi ini menjadi perhatian Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan meluncurkan teknologi dinding beton berbasis Parallel Concrete Panel (PCP).
Melalui penelitiannya, BRIN mengungkapkan bahwa meningkatnya risiko kerusakan wilayah pesisir di Indonesia dipicu oleh perubahan iklim yang mengakibatkan banjir rob, abrasi, dan penurunan muka tanah. Maka dari itu, Indonesia dengan garis pantai yang panjang membutuhkan infrastruktur yang kuat dan berkelanjutan.
Apa Itu Paralel Concrete Panel?
Paralel Concrete Panel (PCP) adalah produk komersial buatan PT Jaya Wadah Lestari dengan nama komersial Sistem Urug dengan Perkuatan Wadah (SUPW). Struktur SUPW merupakan struktur wadah modular berupa tanggul yang multifungsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Struktur wadah terdiri dari dua pelat beton sejajar yang dihubungkan dengan batang pengikat, serta berfungsi untuk menahan beban horizontal.
Perekayasa Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika (PRTH) BRIN, Affandy Hamid, menyampaikan bahwa kinerja dua konfigurasi batang pengikat (tie rod), yaitu konfigurasi original paten tipe diagonal (Tipe A) dan konfigurasi pembanding dari BRIN berupa tipe horizontal (Tipe B), menggunakan perangkat lunak mekanika struktur untuk pemodelan numerik.
"Inovasi ini menjadi alternatif menjanjikan untuk pembangunan infrastruktur pesisir yang berkelanjutan," katanya, dikutip dari laman resmi BRIN.
Kelebihan Paralel Concrete Panel
Dinding beton dengan teknologi PCP memiliki berbagai kelebihan dibandingkan dengan dinding beton konvensional. Berikut kelebihannya:
1. Menggunakan lebih sedikit material beton
2. Proses konstruksi yang lebih mudah
3. Struktur ruang yang efisien
4. Mendukung transisi dalam infrastruktur hijau
Perekayasa PRTH BRIN, Shafan Abdul Aziz, juga mengatakan bahwa struktur Parallel Concrete Panel adalah solusi untuk melindungi pantai dengan teknologi yang ramah lingkungan. Selain itu, struktur dari PCP juga dinilai lebih tahan lama dibandingkan dengan dinding beton konvensional.
Hasil analisis juga menunjukkan bahwa kedua konfigurasi, baik diagonal maupun horizontal, sudah memenuhi standar stabilitas. Nilai faktor keamanan pada tipe A sebesar 1,35 dan tipe B sebesar 1,32-kedua angka yang telah melampaui standar geotektonik. Artinya, inovasi dinding ini cukup mampu untuk menahan beban dengan risiko yang sangat kecil.
Kendati demikian, pengait tipe B ternyata membutuhkan diameter 'tie rod' yang lebih kecil dan ekonomis, tetapi tetap menghasilkan momen yang besar pada beton. Sementara tipe A sudah memenuhi stabilitas yang lebih tinggi.
Ke depan, peneliti berencana untuk mengembangkan pengait tipe C (konfigurasi kombinasi) untuk mengefisienkan biaya dengan mempertahankan kinerja struktur. Hasil simulasi juga menunjukkan bahwa struktur PCP tetap stabil tanpa tiang fondasi tambahan.
Hal tersebut tentu menambah keunggulan dari PCOP ini karena akan menghemat biaya dan mempercepat proses pembangunan. BRIN juga akan merekomendasikan pengujian lebih lanjut dengan eksperimen fisik untuk memvalidasi pemodelan numerik serta kajian komprehensif tentang kemampuan material dalam menghadapi korosi jangka panjang.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.










































