Pintu Terbuka PLTSa Bantargebang untuk Pelajar, Mahasiswa Boleh Pegang Alat

ADVERTISEMENT

Pintu Terbuka PLTSa Bantargebang untuk Pelajar, Mahasiswa Boleh Pegang Alat

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Jumat, 17 Apr 2026 21:00 WIB
Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk Listrik dari Sampah: Di tengah Gejolak Energi Dunia, di Gedung B.J Habibie Jakarta Pusat, Kamis (16/4/2026).
Media Lounge Discussion (MELODI) bertajuk
Jakarta -

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantargebang yang dikelola oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) punya fakta menarik. Ternyata mahasiswa juga dilibatkan dalam praktiknya. Di sana, mahasiswa tidak hanya mengamati tapi juga terlibat dalam proses operasional hingga maintenance (pemeliharaan).

Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih (PR TLTB), Ir Wiharja, MSi, menegaskan mahasiswa yang melakukan praktik lapangan di PLTSa mendapatkan edukasi komplit dengan terjun langsung dalam mengelola sampah.

Bukan hanya dihadapkan dengan teori, mahasiswa juga diajak berkontribusi dalam operasi dan juga pemeliharaan. Sejumlah kampus di luar Jakarta, bahkan aktif mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan magang beberapa bulan di PLTSa Bantargebang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jember itu politeknik. Politeknik Jember. Kemudian mereka kan ada jurusan atau departemen tentang energi terbarukan. Kemudian Universitas Bhayangkara itu mengirimkan orang banyak juga," ujar Wiharja saat kepada detikEdu saat diwawancarai di Gedung BJ Habibie pada Kamis (16/4/2026).

"Kebanyakan yang dari Jember itu biasanya kalau ngirim dalam 1 tahun mungkin 5 orang. Padahal ini kan plan kecil, jadi ya 5 orang sebenarnya sudah kita kasih tugas apa ini," tambahnya.

ADVERTISEMENT

Meski proyek PLTSa ini masih tergolong kecil, Wiharja menyampaikan bahwa mahasiswa yang praktik di sana tidak hanya melihat tapi juga diizinkan menyentuh langsung. Jadi, pengalaman dan edukasi yang diberikan terkait pengelolaan dilakukan dengan totalitas.

"Mohon maaf kalau di industri-industri besar, kan mahasiswa itu bisa praktik ya, nggak hanya lihat, oh ini turbin ya. Kalau di PLTSa kan dia kasarnya bisa megang. Pada saat dia maintenance, dia ikut maintenance itu kan lebih, lebih-lebih daripada dia hanya, ini, ini, ini, ini, teorinya di sini, ini manual book-nya di sini," jelasnya.

Ruang Edukasi Lintas Usia dan Proyek Ramah Lingkungan

Bukan hanya mahasiswa, PLTSa juga membuka ruang belajar bagi anak-anak TK yang datang berkunjung. Mereka menyediakan education room (ruang pembelajaran) untuk menampilkan dan menjelaskan proses pengelolaan sampah menjadi listrik di Bantargebang.

"Sebelum COVID, tidak hanya perguruan tinggi, bahkan anak-anak TK pun langsung ke sana. Iya, jadi memang konsep kita waktu itu begini. Ini adalah PLTSa ini selain kita menjawab bahwa sampah kita bisa untuk PLTSa, juga menjadi ajang pendidikan," ungkapnya.

Selain sebagai ruang edukasi, PLTSa di Bantargebang ini juga merupakan ajang pembuktian bahwa Indonesia mampu mengelola sampah dengan baik. Teknologi berbasis riset dalam negeri ini juga telah disesuaikan dengan kondisi di masing-masing daerah.

Hebatnya, PLTSa ini juga menghasilkan emisi yang sangat sedikit dari jumlah maksimum, sehingga dinilai ramah lingkungan. Bahkan, residu abu dari proses pembakaran dapat dimanfaatkan menjadi paving blok.

"Alhamdulillah, dari 0,1 yang tadi saya mengenalkan itu, baru membutuhkan 0,1 kita bisa 0,088," katanya.

"Itu, kemudian kalau kita membakar, pasti ada ini ya, kalau yang biasanya tungkunya kayu dan sebagainya, itu ada abu. Nah, abunya untuk apa? Ini ada abunya enggak? Oh ada, pasti ada, abu yang ini kita bisa pergunakan untuk bahan pembangunan. Salah satu contohnya adalah paving blok, ini yang kita lakukan," pungkasnya.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di detikcom.



(nah/nah)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads