Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat Indonesia agar waspada akan risiko wabah pes di Indonesia. Apa alasannya?
Sebagai informasi, Indonesia pernah mengalami wabah pes pada awal abad ke-20. Penyakit yang disebabkan bakteri Yersinia pestis ini dikenal sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia dan menular melalui gigitan pinjal yang hidup pada tubuh tikus.
Meski wabah pes tidak ditemukan pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, peneliti BRIN mengingatkan kondisi tersebut belum tentu menandakan Indonesia sepenuhnya bebas dari pes.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN, Ristiyanto, menyebutkan adanya fenomena silent period di mana penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, namun masih berpotensi muncul kembali.
"Ada istilah silent period, yaitu masa ketika suatu penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama, tetapi sebenarnya masih berpotensi muncul kembali," kata Ristiyanto dalam laman BRIN,oleh dikutip Selasa (14/4/2026).
Ia menduga penyakit pes masih berada dalam fase tersebut. Hal ini didukung oleh temuan bahwa bakteri penyebab pes masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia.
Waspada akan Perubahan Lingkungan
Menurut Ristiyanto, perubahan lingkungan menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko kemunculan kembali penyakit. Deforestasi, alih fungsi lahan, dan pertumbuhan penduduk telah mengganggu keseimbangan ekosistem dan mendorong habitat tikus semakin dekat dengan permukiman.
"Kondisi ini meningkatkan peluang penularan penyakit melalui gigitan pinjal yang membawa bakteri," jelasnya.
Periset BRIN lainnya, Muhammad Choirul Hidajat, menegaskan tikus yang menyebarkan bakteri Yersinia pestis masih banyak ditemukan di Indonesia. Meski tidak ada kasus pes pada manusia selama lebih dari satu dekade, beberapa daerah di Pulau Jawa masih dikategorikan sebagai wilayah fokus, termasuk Kabupaten Pasuruan, Boyolali, Sleman, dan Bandung.
Choirul menegaskan ketiadaan kasus bukan berarti penyakit telah hilang sepenuhnya. Sebagai langkah antisipasi, ia mendorong penguatan sistem surveilans terpadu yang mencakup pemantauan pada manusia, hewan, dan vektor penyakit. Selain itu, peningkatan kebersihan lingkungan juga dinilai penting untuk mencegah potensi wabah.
"Pes di Indonesia saat ini mungkin sedang 'tertidur'. Namun, tanpa kewaspadaan dan pengelolaan lingkungan yang baik, penyakit ini berpotensi muncul kembali," ungkapnya.
(nir/faz)











































