Cara AS-Israel Hancurkan Iran: Bom Sekolah, Kampus, hingga Situs Budaya

ADVERTISEMENT

Cara AS-Israel Hancurkan Iran: Bom Sekolah, Kampus, hingga Situs Budaya

fahri zulfikar - detikEdu
Rabu, 08 Apr 2026 19:00 WIB
Rubble of a building at Sharif University of Technology, which was damaged in a strike, amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, in Tehran, Iran, April 7, 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY
Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS/Puing-puing bangunan di Universitas Teknologi Sharif, yang rusak akibat serangan AS-Israel pada Selasa (7/4/2026).
Jakarta -

Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata selama dua minggu pada Selasa (7/4/2026). Gencatan senjata ini menandai hampir 40 hari Iran digempur oleh AS dan Israel. Seberapa parah kerusakan di Iran?

Menteri Sains, Riset, dan Teknologi Iran, Hossein Simaei Sarraf, mengklaim bahwa AS dan Israel telah menyerang kampus-kampus. Sejak beberapa dekade, para ilmuwan Iran diketahui sudah menjadi sasaran, salah satunya profesor dari Universitas Shahid Beheshti yang dibunuh oleh Israel pada Juni 2025.

Baginya, menyerang kampus-kampus dan pusat riset di Iran berarti ingin menjadikan negara kembali ke Zaman Batu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Menyerang universitas dan pusat penelitian berarti kembali ke Zaman Batu," kata Sarraf, dikutip dari Al Jazeera.

Menurut direktur proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, apa yang dilakukan AS dan Israel adalah untuk mencegah Iran maju dan membuatnya menjadi negara gagal. Namun, katanya, peradaban yang telah bertahan ribuan tahun, tidak dapat dihapus dengan pemboman udara.

ADVERTISEMENT

"Peradaban yang telah bertahan selama beberapa milenium tidak dapat dihapus dengan pemboman udara," ujarnya.

Sekolah dan Kampus Jadi Target Sasaran

Menurut laporan Al Jazeera, yang dikutip Rabu (8/4/2026), sejak serangan pertama Israel-AS ke Iran, sedikitnya telah merusak 30 universitas, 55 perpustakaan, dan 56 situs warisan budaya. Serangan pertama pada 28 Februari sendiri terjadi di sekolah dasar putri, Shajareh Tayyebeh, di kota Minab di Iran selatan.

Setidaknya 170 orang, sebagian besar anak perempuan berusia antara tujuh dan 12 tahun, tewas ketika rudal menghantam sekolah tersebut. Beberapa investigasi independen oleh organisasi media, termasuk Al Jazeera, menyatakan bahwa sasaran itu disengaja karena rudal yang ditemukan merupakan Tomahawk buatan AS.

Kemudian setelahnya, kampus-kampus juga menjadi sasaran. Pada 28 Maret, Universitas Sains dan Teknologi Iran (IUST) terdampak serangan AS-Israel.

Beberapa hari setelahnya, Isfahan University of Technology dihantam serangan udara dan Universitas Shahid Beheshti dibom. Pihak kampus menilai, mengebom universitas berarti menyerang akal sehat dan kebebasan berpikir manusia.

"Tindakan permusuhan ini tidak hanya menargetkan keamanan akademisi dan lingkungan ilmiah negara, tetapi juga merupakan serangan nyata terhadap akal sehat, penelitian, dan kebebasan berpikir," kata pihak Universitas Shahid Beheshti dalam sebuah pernyataan.

Sementara itu, wakil presiden pertama Iran, Mohammad Reza Aref, mengatakan bahwa tindakan AS mengebom kampus merupakan simbol kegilaan dan ketidaktahuan pemimpin. Menurutnya, pengetahuan Iran tidak akan hancur karena dibom.

"Serangan bom penghancur bunker di Universitas Sharif adalah simbol kegilaan dan ketidaktahuan Trump," kata Aref dalam sebuah unggahan di X.

"Dia gagal memahami bahwa pengetahuan Iran tidak tertanam dalam beton yang dapat dihancurkan oleh bom; benteng yang sebenarnya adalah kemauan para profesor dan elit kita," kata Aref, seorang insinyur lulusan Universitas Stanford.

Menteri Saintek Iran melaporkan, bahwa sejak 28 Februari sudah ada 30 kampus yang terkena dampak serangan AS-Israel. Selain itu, 55 perpustakaan juga rusak akibat serangan gabungan AS-Israel.

Situs Warisan Budaya Ikut Dihancurkan

Sampai saat ini, Kementerian Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Tangan telah melaporkan adanya kerusakan di 56 museum, monumen bersejarah, hingga situs budaya. Ini termasuk Istana Golestan, Grand Bazaar, dan bekas gedung senat.

Selain pendidikan, serangan AS-Israel juga menargetkan 'sejarah dan budaya' Iran. Termasuk Istana Chehel Sotoun abad ke-17 dan Masjed-e Jame - masjid jami' tertua di Iran.

Menurut UNESCO, masjid Jameh Isfahan merupakan konstruksi arsitektur dan gaya dekoratif dari berbagai periode dalam arsitektur Islam Iran, yang mencakup 12 abad.

"Restorasi, sesempurna apa pun, tidak akan pernah bisa mengembalikan artefak ke titik asalnya," kata Amiri, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Iran, kepada Al Jazeera.

Bukti AS-Israel Sengaja Menghancurkan Peradaban Sebuah Negara

Tidak hanya di Iran, AS dan Israel lebih dulu menghancurkan peradaban di negara lain. Misalnya, di Irak, invasi AS pada 2003 menyebabkan penjarahan museum di Baghdad dan ribuan artefak dicuri atau dihancurkan.

Selain itu, pasukan AS juga membiarkan Perpustakaan dan Arsip Nasional Irak di Baghdad dibakar. Diketahui, lebih dari 90 persen buku langka di perpustakaan itu hancur.

Israel juga melakukan hal yang sama di Gaza, Palestina. Menurut data UNESCO, Israel telah menghancurkan hampir 200 situs warisan budaya selama melakukan genosida di Palestina.

Beberapa warisan yang dirusak termasuk Gereja Bizantium Jabalia, yang dibangun pada 444 Masehi. Kemudian Pelabuhan Anthedon, yang dibangun pada 800 SM juga menjadi sasaran Israel.

Masjid Agung Umari di Kota Gaza, masjid terbesar dan tertua, yang dibangun pada abad ke-7 juga dihancurkan pada Desember 2024.



(faz/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads