Kampus Iran Dibom AS-Israel, Profesor Matematika Ini Tetap Mengajar di Reruntuhan

ADVERTISEMENT

Kampus Iran Dibom AS-Israel, Profesor Matematika Ini Tetap Mengajar di Reruntuhan

Novia Aisyah - detikEdu
Rabu, 08 Apr 2026 11:30 WIB
Profesor matematika Sharif University of Technology Iran mengajar di tengah reruntuhan
Profesor matematika Sharif University of Technology Iran mengajar di tengah reruntuhan pada Selasa (7/4/2026). Foto: X/ Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB)
Jakarta -

Sharif University of Technology di Teheran, Iran dibom oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel antara Minggu malam-Senin (5-6/4/2026). Serangan tersebut merusak sejumlah bangunan, termasuk yang disebut oleh para pihak berwenang sebagai pusat AI.

Rektor Sharif University of Technology, Masoud Tajrishi menilai AS dan Israel sengaja menargetkan bangunan-bangunan tersebut karena tidak mau Iran mengembangkan teknologi AI. Ia menyebut kampusnya telah beberapa lama mengerjakan pelatihan model AI dalam bahasa Persia selama 2 tahun dan menawarkan layanan untuk ratusan perusahaan.

Namun meski baru saja dibom, pengajaran di kampus tersebut tidak sepenuhnya berhenti. Seperti yang baru saja viral, seorang profesor matematika di Sharif University of Technology masih mengajar di dalam sisa-sisa bagian gedung yang tersisa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terpantau di media sosial X, sejumlah akun resmi melaporkan bagaimana dosen tersebut pada Selasa (7/4/2026) tetap memberikan perkuliahan secara online walaupun ia duduk di tengah reruntuhan bangunan. Beberapa akun yang mengunggahnya seperti Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) dan Iran Embassy in Sweden.

ADVERTISEMENT

Mengajar Sebagai Simbol Perlawanan

Diketahui, profesor matematika tersebut bernama Dr Alireza Zarei. Disebutkan oleh IRIB, pada saat itu ia mengajar kelas algoritma acak. Al Jazeera menyebut aksi tersebut menjadi simbol perlawanan sekaligus penegasan aktivitas akademik tidak berhenti di tengah situasi konflik.

Dikutip dari kantor berita IRNA, Zarei menilai pengeboman terhadap kampus tidak bisa sekadar dilihat sebagai kerusakan bangunan semata. Ia menyebut tindakan itu sebagai bentuk kejahatan yang mencerminkan pola pikir primitif, serta mengkritik pihak pelaku yang dianggap tidak memahami nilai kemanusiaan.

"Kita mungkin melihat ini sekadar sebagai penghancuran sebuah bangunan, tetapi kenyataannya kejahatan seperti ini hanya bisa berasal dari pikiran yang sakit dan 'zaman batu'; mereka yang menyebut diri mereka manusia, tetapi pada kenyataannya tidak memahami kemanusiaan," ujar Zarei.

AS dan Isreal belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan mere menargetkan pusat pendidikan tinggi utama Iran atau situs warisan budaya, yang dianggap sebagai infrastruktur sipil. Disebutkan dalam Aljazeera, sikutip Rabu (8/4/2026), tidak ada korban jiwa yang dilaporkan di dalam Sharif University karena semua perkuliahan atau kegiatan sekolah sudah dilakukan secara daring

Namun, tetapi lebih dari 2.000 orang telah tewas selama perang ini.

"Musuh tidak ingin kita berhasil atau berkembang dan maju, tetapi semua universitas kita sekarang bersatu karena serangan-serangan ini," kata Rektor Sharif University di lokasi pemboman pada Selasa kemarin.

Serangan terhadap Sharif University terjadi setelah serangkaian serangan udara serupa yang menargetkan pusat-pusat penelitian di fasilitas-fasilitas terkemuka lainnya, termasuk Institut Pasteur yang berusia seabad, laboratorium fotonik di Universitas Shahid Beheshti, dan laboratorium pengembangan satelit di Universitas Sains dan Teknologi Iran.

Lebih dari 30 universitas telah terkena dampak serangan AS dan Israel sejak dimulainya perang pada 28 Februari 2026.




(nah/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads