Hasil Analisis DNA Terbaru Kain Kafan Turin: Ada Jejak Genetik Orang India

ADVERTISEMENT

Hasil Analisis DNA Terbaru Kain Kafan Turin: Ada Jejak Genetik Orang India

Callan Rahmadyvi Triyunanto - detikEdu
Minggu, 05 Apr 2026 18:00 WIB
Kain kafan Turin
Foto: Wikipedia
Jakarta -

Kain Kafan Turin (Shroud of Turin) selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu artefak sejarah yang paling diperdebatkan. Kain ini kerap dikaitkan dengan perdebatan panjang, apakah benar merupakan kain pemakaman Yesus dari Nazaret atau sekadar peninggalan abad pertengahan.

Dalam sebuah studi pracetak (preprint) berjudul "DNA Traces on the Shroud of Turin: Metagenomics of the 1978 Official Sample Collection" yang dipublikasikan pada Maret 2026, peneliti dari University of Padova di Italia menemukan bahwa hampir 40 persen DNA manusia pada kain itu merujuk pada garis keturunan India.

Hasil studi tersebut berangkat dari analisis DNA pada partikel debu yang diambil dari kain kafan pada tahun 1978. Jejak DNA pun beragam dari manusia, tumbuhan, dan hewan ini memunculkan kemungkinan bahwa kain itu berasal dari peradaban Lembah Indus kuno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Jejak Genetik pada Kain Kafan Turin

Kain Kafan Turin merupakan kain linen berukuran 4,3 x 1,1 meter yang menampilkan bayangan samar seorang pria yang disalib. Selama berabad-abad, kain ini dipercaya sebagai kain kafan asli Yesus dari Nazaret.

ADVERTISEMENT

Uji penanggalan radiokarbon pada 1988 menyimpulkan kain ini berasal dari Abad Pertengahan (1260-1390 M). Para ilmuwan terus mencoba memecahkan misterinya dengan teknologi yang lebih modern.

Tim peneliti dipimpin Profesor Gianni Barcaccia yang punya keahlian genetik dan genomik dari University of Padova, melakukan analisis metagenomik terhadap partikel debu yang diambil dari kain tersebut pada penyelidikan 1978.

Para peneliti mengurutkan DNA tersebut dan membandingkannya dengan basis data global. Hasilnya, DNA pada kain itu mengungkap permadani genetik kompleks yang melintasi berbagai benua dan abad.

Temuan paling mencolok dari analisis ini adalah keragaman garis keturunan DNA mitokondria (mtDNA) manusia. Selain jejak DNA Eurasia Barat dan Timur Dekat yang sesuai dengan sejarah kain di Prancis dan Italia, sekitar 40 persen DNA manusia justru berasal dari garis keturunan India.

Proporsi DNA India yang signifikan ini memunculkan dua teori utama. Teori pertama, linen tersebut kemungkinan diproduksi di India, mengingat bangsa Romawi kerap mengimpor tekstil halus dari Lembah Indus. Selain itu, nama Latin kain kafan, Sindon, diduga berasal dari kata Sindia atau Sindien, yang merujuk pada kain dari wilayah Sindh, India.

Sementara itu, teori kedua menyebut kain kafan ini kemungkinan sering bersentuhan dengan orang-orang keturunan India selama berabad-abad. Hal ini sejalan dengan jalur perdagangan kuno yang telah lama menghubungkan India dan Mediterania.

"Temuan kami menyoroti kondisi pelestarian dan interaksi lingkungan, serta memberikan perspektif baru tentang variasi genetik yang teridentifikasi dari berbagai sumber biologis," tulis tim peneliti dalam makalah pracetak mereka, dikutip Ancient Origins.

Misteri Lain Kain Kafan Turin

Kain Kafan Turin bukan hanya menyimpan DNA manusia, tetapi juga menjadi kapsul waktu lingkungan. Para peneliti menemukan jejak genetik berbagai hewan, dari anjing, kucing, ayam, sapi, dan babi, hingga rusa, kelinci, ikan belanak, serta ikan cod Atlantik. Bukti botani juga beragam. DNA gandum, wortel, kacang merah Mediterania, hingga kentang ditemukan dalam sampel tersebut.

Kehadiran DNA kentang menjadi sorotan. Tanaman ini baru diperkenalkan ke Eropa dari benua Amerika setelah pelayaran Christopher Columbus pada akhir abad ke-15. Temuan ini menunjukkan kain kafan terus terpapar kontaminasi lingkungan hingga era modern.

"Kain kafan ini telah bersentuhan dengan banyak individu, sehingga menyulitkan identifikasi DNA aslinya," ujar para peneliti.

Kondisi ini membuat pencarian materi genetik asli sosok pada kain tersebut menjadi sulit di tengah kontaminasi ekstrem. Temuan DNA ini semakin memperumit perdebatan asal-usul Kain Kafan Turin. Jejak India menunjukkan sejarah geografis yang lebih luas, namun sebagian ahli masih meragukan asal-usul non-Eropa.

"Saya masih tidak melihat alasan untuk meragukan bahwa kain kafan itu berasal dari Prancis pada abad ke-13 hingga 14," ujar Anders Gotherstrom, guru besar arkeologi dari Universitas Stockholm.

Gotherstrom tetap meyakini hasil penanggalan karbon 1988. Kemunculan pertama Kain Kafan Turin yang terdokumentasi adalah di Prancis pada tahun 1354, ketika mulai dipamerkan di gereja kolegiat Lirey.

Hasil Beragam Studi Kain Kafan Turin

Sebuah studi tahun 2025 menyebutkan Kain Kafan Turin sesuai dengan Patung Abad Pertengahan. Pembentukan gambar yang tercetak di Kain Kafan Turin tersebut konsisten dengan teknik patung abad pertengahan daripada tubuh manusia. Kain ini pertama kali terdokumentasi di Prancis pada tahun 1354 di gereja Lirey.

Kemudian diperoleh oleh Wangsa Savoy dan akhirnya dipindahkan ke Katedral Santo Yohanes Pembaptis di Turin, Italia sejak tahun 1578.

Gereja Katolik tidak mendukung maupun menolak keaslian kain kafan tersebut sebagai relik Yesus.

Sebuah studi sebelumnya pada tahun 2015, yang juga dipimpin oleh Barcaccia, telah mengidentifikasi DNA dari berbagai asal geografis pada kain kafan tersebut, termasuk garis keturunan dari Afrika Utara, Afrika Timur, dan Asia Timur, yang menunjukkan bahwa kain tersebut telah melakukan perjalanan luas atau dipegang oleh orang-orang dari berbagai belahan dunia. Studi baru tahun 2026 ini secara signifikan memperluas temuan tersebut, menggunakan teknik pengurutan yang lebih canggih untuk mengungkapkan hubungan dengan India untuk pertama kalinya.

Baik itu relik ajaib dari penyaliban atau karya agung abad pertengahan, Kain Kafan Turin terus memikat dunia. Serat-seratnya menyimpan jejak genetik dari individu-individu yang tak terhitung jumlahnya yang telah berinteraksi dengannya selama berabad-abad, dan setiap studi ilmiah baru tampaknya memperdalam, bukan menyelesaikan, misterinya.

Hubungan DNA India, jika dikonfirmasi oleh penelitian lebih lanjut, dapat secara fundamental membentuk kembali pemahaman kita tentang asal-usul kain tersebut dan jaringan perdagangan kuno yang mungkin telah melahirkannya.

Halaman 2 dari 2


Simak Video "Video: Arkeolog Temukan Permukiman Danau Tertua Eropa di Albania"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads