Studi Terbaru: Remaja Pengguna Medsos Punya Kemampuan Membaca yang Buruk

ADVERTISEMENT

Studi Terbaru: Remaja Pengguna Medsos Punya Kemampuan Membaca yang Buruk

Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 03 Apr 2026 18:00 WIB
Ilustrasi Anak Main Gadget
Bermain Gadget di Usia Remaja. (Foto: Shutterstock)
Jakarta -

Studi terbaru dari University of Georgia menemukan remaja yang main media sosial punya kemampuan membaca yang buruk dari waktu ke waktu. Studi tersebut berdasarkan data studi Pengembangan Kognitif Otak Remaja pada lebih dari 10.000 remaja selama 6 tahun.

Para peneliti menemukan jika penggunaan media sosial secara teratur pada awal masa remaja berkaitan dengan kemampuan membaca dan kosakata. Semakin bertambah usia, kemampuan membaca dan kosakata mereka semakin buruk.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Cory Carvalho, penulis utama studi mengatakan otak mirip dengan otot. Semakin sering digunakan, semakin banyak perubahan yang terjadi sesuai dengan cara seseorang menggunakannya.

"Jika anak-anak menghabiskan lebih dari delapan jam sehari menggunakan media sosial, itulah yang akan diadaptasi dan diprogram oleh otak mereka," ujar Carvalho dalam laman University of Georgia, Senin (30/3/2026).

ADVERTISEMENT

Sulit Konsentrasi

Tak hanya kemampuan membaca dan kosakata yang buruk, remaja yang lebih sering menggunakan media sosial juga kesulitan berkonsentrasi.

Peneliti memperkirakan remaja semakin sulit berkonsentrasi karena notifikasi yang terus mengalihkan perhatian mereka.

Memproses Informasi Lebih Cepat

Akan tetapi, ada dampak positif dari remaja yang menggunakan media sosial: mereka memproses informasi lebih cepat. Selain itu, mereka juga memiliki waktu reaksi yang lebih singkat.

Media sosial juga membantu remaja tetap terhubung dengan orang lain, terutama jika mereka berada di lingkungan di mana berteman itu sulit.

Saran Peneliti

Untuk mengurangi efek negatif tersebut, para peneliti menyarankan untuk membatasi waktu layar bagi remaja, terutama sebelum tidur. Mereka juga merekomendasikan untuk menunggu hingga anak-anak lebih besar untuk membeli ponsel pintar.

Jika orang tua perlu tetap berhubungan dengan anak-anak mereka, disarankan untuk membeli ponsel biasa yang tidak dapat mengakses media sosial.

"Anda lihat banyak negara bagian, negara, dan organisasi yang berbeda akan mencoba berbagai hal. Mudah-mudahan, kita menetapkan beberapa norma yang bermanfaat bagi anak-anak dan bukan untuk keuntungan," ujar Carvalho.



(nir/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads