Tur edukasi bertajuk 'History Rocks!' yang dipimpin Menteri Pendidikan Amerika Serikat (AS) Linda McMahon menuai gelombang penolakan dari berbagai pihak di sekolah AS. Tur sejarah tersebut sedianya digelar dalam rangka perayaan ulang tahun ke-250 AS.
Meski diklaim sebagai program nonpartisan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air bagi siswa, kegiatan ini justru diprotes karena terkait dengan sejumlah organisasi konservatif dan kelompok pendukung Trump.
Koalisi sponsor America 250 Civics Education berisi kelompok konservatif seperti Moms for Liberty dan The Heritage Foundation. Sedangkan kelompok liberal maupun organisasi pendidikan kewarganegaraan (civics) nonpartisan lainnya tidak dilibatkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tur sejarah ini juga dinilai sekadar nostalgia dan penguatan ideologi, tanpa pengakuan dan pendidikan mengenai jejak perbudakan dan kekerasan pada kelompok minoritas.
Dalam laporan The Washington Post pada Senin (30/3/2026) dikutip Selasa (31/3/2026), setidaknya empat agenda kunjungan Menteri Pendidikan AS dibatalkan, masing-masing satu di Massachusetts dan Alabama serta dua di Connecticut, setelah mendapat keberatan dari orang tua, siswa, dan guru.
Apa Itu History Rocks?
Tur edukasi sejarah 'History Rocks!' menyasar sekolah-sekolah dengan kegiatan berupa pidato patriotik dan kuis sejarah. Acara ini diharapkan menumbuhkan rasa bangga terhadap negara.
Linda McMahon kerap menekankan bahwa tur ini merupakan pengingat akan keberanian dan visi yang membangun bangsa.
"Mari kita bersorak untuk negara terbesar di dunia, Amerika Serikat! Peringatan ke-250 ini adalah pengingat akan keberanian dan visi yang membangun bangsa ini," ungkap McMahon dalam pidatonya.
Namun, program ini memicu perdebatan karena keterkaitannya dengan koalisi sipil yang didukung kelompok konservatif seperti America First Policy Institute dan Turning Point USA.
Sementara itu, Departemen Pendidikan AS dalam pernyataan resmi menyebut tur edukasi ini kerap disalahartikan oleh sebagian pihak. Pihaknya membantah acara tersebut ditunggangi kepentingan politik tertentu.
McMahon sendiri menyebut tur tersebut merupakan bentuk komitmen terhadap sejarah bangsa, bukan sebuah gerakan politik praktis. la juga menyayangkan adanya pihak yang mencoba mendistorsi tujuan perayaan ini.
"Beberapa orang mencoba mencap tur ini sebagai 'radikal', 'berbahaya', dan 'indoktrinasi partisan'. Sungguh tidak masuk akal. Apa yang Anda lihat bukanlah politik, melainkan komitmen bersama terhadap kisah bangsa kita," ucapnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Penolakan di Sejumlah Sekolah AS
Penolakan terhadap tur ini terjadi di berbagai daerah. Meski Departemen Pendidikan AS memberikan pembelaan, sejumlah agenda 'History Rocks!' dibatalkan menjelang pelaksanaan akibat keberatan dari orang tua dan guru. Salah satunya di McKinley Elementary School, Farfield, yang juga berlokasi di negara bagian asal McMahon sendiri, Connecticut.
Menurut laporan pihak sekolah, pengumuman kunjungan McMahon awalnya disambut sebagai pengalaman 'tak terlupakan'. Namun, acara tersebut dibatalkan hanya dalam waktu empat jam setelah distrik sekolah menerima banyak keluhan dari orang tua siswa.
Para orang tua menyatakan keberatan atas keterlibatan kelompok tertentu di balik tur tersebut. Mereka menilainya tidak pantas masuk ke lingkungan sekolah.
Tren pembatalan serupa juga terjadi di Thomaston dan Sutton. Pihak sekolah khawatir akan potensi gangguan keamanan akibat aksi protes serta ketidakjelasan materi yang akan disampaikan.
"Tujuan kunjungan ini sebenarnya bukan untuk membawa politik ke sekolah, melainkan merayakan sejarah nasional. Namun, kami menyadari bahwa banyak keluarga yang tidak merasakannya demikian," tulis Superintendent Michael Testani dalam pesannya kepada para wali murid.
Di sisi lain, sejumlah sekolah tetap melanjutkan acara tersebut meski diiringi kritik. Di Brookfield, Wisconsin, kegiatan tetap berlangsung di tengah petisi online dan ratusan email yang dikirim ke dewan sekolah. Sebagian orang tua menilai sponsor koalisi mempromosikan interpretasi sejarah yang sarat ideologi, sementara pihak lain menganggap acara tersebut tidak berbahaya dan cenderung dangkal.
Salah satu momen menarik terjadi di sekolah swasta Chicago Hope Academy. Kepala sekolah Ike Muzikowski memutuskan tetap melaksanakan acara tersebut setelah menggelar pertemuan terbuka untuk menampung kekhawatiran siswa, termasuk ketakutan siswa imigran terhadap kehadiran pejabat federal.
"Ini bukan tentang loyalitas kepada administrasi atau presiden, melainkan pada nilai-nilai kebebasan bicara dan kemerdekaan di negara ini," ujar Muzikowski.
Secara teknis, para kritikus menilai promosi tur ini lebih condong pada nostalgia masa lalu dan mengabaikan pembahasan sejarah kelam, seperti perbudakan dan kekerasan terhadap orang asli Amerika.
Departemen Pendidikan AS sendiri bersikeras tur ini murni perayaan sejarah. Namun, keterkaitannya dengan aktor partisan membuat batas antara edukasi dan indoktrinasi politik menjadi kabur di mata publik.
(crt/twu)











































